Heboh Komentar ‘Kartini Pemuas Seks Belanda’

0
594

ORANYENEWS- 21 April atau peringatan Hari Kartini telah berlalu, tapi pembicaraan tentang Kartini masih ramai di media sosial. Salah satunya dipicu sebuah screenshoot komentar bertuliskan ‘Kartini Pemuas Seks Belanda’ dari sebuah akun kader PKS Aceh Timur bernama Ahmad Al Fatih. Apakah benar?

Dalam screenshoot yang beredar tampak foto Ahmad Al Fatih dengan background PKS Aceh Timur dan sebuah tulisan status “Kartini pemuas seks Belanda sekarang jadi Pahlawan…pembodohan sejarah sekali… “.

Saat mendapati screenshoot tersebut, Oranyenews.com mencoba menelusuri di akun FB bersangkutan, tapi tidak ditemukan status seperti di dalm screenshoot tersebut.  Apakah memang tidak ada atau sudah dihapus?

Wakil Sekjen PKS Abdul Hakim menjelaskan bahwa foto screenshoot itu tidak benar adanya alias hoax. “Foto kader PKS Aceh Timur dibajak,” kata Wakil Sekjen PKS Abdul Hakim saat dikonfirmasi.

Kini, PKS Aceh sedang mengumpulkan data tentang pemilik akun Facebook Ahmadi Al Fatih. Pemilik akun itu akan dipolisikan.

“PKS Aceh sedang kumpulkan data-datanya, bersiap laporkan yang manipulasi foto ke polisi terkait kejahatan manipulasi tersebut,” ungkapnya.

Terlepas dari benar atau tidaknya itu cuitan dari kader PKS atau bukan, sejarahwan Asep Kambali menegaskan bahwa pernyataan Kartini Budak Seks Belanda tidak dapat dipertanggungjawabkan 100 persen dan masuk ke dalam kategori fitnah.

“Ya yang pasti itu fitnah dan itu tentu mencederai pahlawannya itu sendiri ya karena itu tidak sesuai dengan fakta sejarah,” kata Asep.

Asep lalu menceritakan hubungan keluarga Kartini dengan Belanda memang disebut Asep dekat karena faktor sang ayah yang kala itu menjabat Bupati Jepara.

“Bupati-bupati itu memang pro-Belanda. Mereka bekerja digaji Belanda tetapi posisi Kartini bukan seperti yang dikatakan cuitan-cuitan itu, itu fitnah,” katanya.

Asep menceritakan RA Kartini sangatlah menjaga adat semasa hidupnya. Asep menegaskan, tabiat Kartini semasa hidup, sangat-sangat bertolak belakang dengan tuduhan di media sosial itu.

“Kartini sesungguhnya pemegang adat dan tradisi yang sangat kuat di lingkungan zamannya. Kartini memutuskan ingin kuliah di Belanda itu dilarang orang tuanya, dia nurut. Bahkan Kartini ingin sekolah di sekolah keguruan di Batavia di Jakarta juga dia dilarang karena dia akan dinikahkan dengan Bupati Rembang, istri keempat, dan dia nurut, dia manut,” urai Asep.

Kartini, menurut Asep, memang dekat dengan Belanda. Kartini, yang posisinya anak dari seorang bupati, di mana saat itu para pimpinan kabupaten itu bekerja untuk Belanda, pasti punya teman orang Belanda.

Asep menyebut ayah Kartini pasti berteman dekat dengan Belanda. Hubungan pertemanan ayahnya itu disebut-sebut Asep membuat Kartini juga berteman dekat dengan orang-orang Belanda, bahkan, kata Asep, Kartini sampai berkirim surat bahasa Belanda ke Belanda, saat itu. Hubungan dengan Belanda itu ditegaskan Asep tak bisa membuat Kartini dicap sebagai ‘pemuas seks Belanda’.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here