Demo Mahsiswa Kejar Setoran di Akhir Periode DPR/MPR

Demo Mahasiswa di Bus
Demo Mahasiswa di Bus yang kejar setoran

Dulu sempat ada kelakar, jika ingin menjadi orang yang saleh tidak perlu masuk masjid. Cukup sering-sering Naik kopaja & Metromini saja, Insya Allah menjadi orang saleh.

Mengapa? Karena di dalam Kopaja & Metromini, orang yang tidak pernah salat atau ke masjid pun rasanya dekat sekali dengan Allah SWT. Sejak naik hingga turun, lantunan istigfar tak berhenti dilafalkan.

Apalagi jika Sang Sopir Kopaja & Metromini sedang kejar setoran. Tak lagi peduli lantunan istigfar penumpang kakek-nenek, atau teriakan ibu-ibu yang membawa anak. Di dalam kepala dan hatinya hanya ada nafsu untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya demi kejar setoran

Ini mirip-mirip dengan anggota DPR periode 2014-2019 yang saat ini di penghujung masa jabatan, tengah “Kejar Setoran”. Akibatnya, penumpangnya, yaitu rakyat Indonesia banyak yang melantunkan “istigfar” baik di dalam masjid atau di luar masjid, yaitu depan Gedung DPR, DPRD, dan lokasi “barokah” lainnya.

Kejar Setoran hanya menguntungkan sopir Kopaja & Metromini, karena hanya kepentingan dia yang dikedepankan, tidak ada kepentingan rakyat. Lihat saja, hasil keputusan UU MD3, yang sangat menjijikkan, bagi-bagi kekuasaan, kursi pimpinan MPR menjadi 10 orang, seolah rakyat kecil yang menggaji mereka dengan keringat dan airmata setiap hari tidak melihatnya.

Demo Mahasiswa
Demo Mahasiswa Menolak Kebijakan revisi Undang-Undang

Belum lagi, revisi Undang-Undang KPK, RUU KUHP, RUU Pertanahan yang lebih mengakomodir kepentingan mereka dan partai politiknya.

DPR Periode 2014-2019 sebenarnya memang sudah rusak sejak awal. Pimpinannya, sibuk dengan “Papa Minta Saham”. Walau sempat dipaksa mengundurkan diri dari pimpinan DPR, tidak ada yang bisa menghentikan ambisinya menjadi Ketua Umum Partai dan kembali memimpin DPR. Kecuali satu, Tiang Listrik!.

“Kesetiakawanan” ditunjukkan Wakil Ketua DPR dari PAN Taufik Kurniawan, dengan menyusul Setya Novanto mengenakan jaket oranye KPK.

Pimpinan yang lain juga lebih banyak sibuk tampil di sosial media & televisi ketimbang bekerja. Lihat saja Fadli Zon & Fahri Hamzah, mungkin generasi Millenial lebih mengenalnya sebagai “komentator politik” ketimbang pimpinan Wakil rakyat yang bertanggung jawab dengan legislasi.

Menurut data, target legislasi DPR Periode 2014-2019 lebih rendah 50 persen dibanding Periode sebelumnya. Yaitu 189 berbanding 247 pada Periode sebelumnya.

Hingga April 2019, DPR hanya menghasilkan 26 Undang-Undang, termasuk di antaranya Peraturan Pengganti Perundang-Undangan yang disahkan menjadi Undang-Undang. Rata-rata hanya 5 Undang-Undang yang dihasilkan pertahun, padahal pada periode sebelumnya rata-rata 10 undang-undang pertahun.

PSHK (Pusat Studi Hukum & Kebijakan) mencatat ada 43 RUU Prioritas yang tidak tersentuh DPR yang akan berakhir jabatannya pada 30 September ini

Meski begitu, DPR 2014-2019 tetap memiliki “prestasi”. ICW menyebut DPR Periode ini “berprestasi” dalam pemborosan anggaran. Indonesia Corruption Watch (ICW) menghitung selama periode 2015-2019, jumlah anggaran DPR untuk pelaksanaan fungsi legislasi mencapai Rp1,62 triliun atau sekitar Rp323,4 miliar per tahun.

Prestasi lain yang dimiliki DPR 2014-2019 adalah, sebanyak 23 orang mendapatkan “award” dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) termasuk Ketua dan Wakil Ketua DPR-nya.

Sungguh kinerja & prestasi yang luar biasa. Padahal, di Senayan banyak anggota DPR yang berasal dari kalangan aktivis, pengacara, hingga jurnalis.

Jadi, walau pun Kopaja & Metromini sudah “dibubarkan” sehingga ruang untuk menjadi “orang saleh” menjadi berkurang, Anda tidak perlu khawatir, peran Kopaja & Metromini saat ini sudah diambil alih oleh DPR Periode 2014-2019, sehingga kalimat istigfar tetap bisa dilantunkan, bahkan dengan keras-keras. Tinggal memilih tempatnya, bisa di depan gerbang DPR/DPRD, atau tempat-tempat “karomah” lainnya.

Rencana “Istigfar” dimana Anda Hari ini?

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here