Tebak, Berapa Isi Kantong Prabowo Subianto?

0
206
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto

ORANYENEWS- Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menggalang dana jelang pemilu presiden 2019 melalui aplikasi @galangperjuangan. Ada yang menyebut calon presiden terkaya di Pilpres 2014 itu tengah bokek isi kantongnya, ada yang menyebut bahwa penggalangan dana bukan karena isi kantong mantan Danjen Kopassus itu tengah menipis. Lalu mana yang benar?

Prabowo Lagi Bokek
Adalah Fahri Hamzah, teman dekat Fadli Zon di pimpinan DPR yang menyebut bahwa Prabowo tengah kebingungan dengan pendanaan Pilpres 2019. Menurut Fahri, Prabowo bingung soal uang karena sedang tidak berkuasa.
“Prabowo itu bingung karena dia nggak berkuasa,” kata Fahri di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin 25 Juni 2018.
Fahri mengungkapkan bahwa ongkos politik pemilu presiden sedikitnya seorang calon harus memiliki dana minimal Rp2,5 triliun. Sementara, dia menyebut bahwa Prabowo tidak memiliki uang.
“Sementara orang bilang perlu satu kandidat Rp 5 triliun, minimal Rp 3 triliun. Ada yang bilang paling minimal Rp 2,5 triliun. Rp 2,5 triliun ini dari mana? Nolnya 12 itu, Bos. Dari mana duit itu. Itu yang membuat dia bingung,” ujarnya.
Lebih lanjut. Fahri menyebut bahwa bisnis Prabowo tidak berjalan sebagaimana mustti yang diharapkan. “Akhirnya nggak punya uang, begitu mau maju lagi, dari mana sumbernya? Nggak ada pembiayaan,” kata Fahri.
Pernyataan Fahri diamini Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani. Muzani mengaku sumber dana yang terbatas tersebut tidak diimbangi dengan biaya politik yang harus ditanggung partainya. Jadi pihaknya harus melakukan cara-cara seperti penggalangan dana.

“Jujur saja bahwa perjuangan yang besar, perjuangan yang berat, memerlukan dana perjuangan yang besar. Dan kemampuan kami untuk membiayai perjuangan ini terbatas. Sumber dana kami juga terbatas,” ucap Muzani.
“Ya, kami menyampaikan ini sebagai sebuah keadaan yang sebenarnya ya kami jujur saja kita memiliki cita-cita yang tulus, kita memiliki semangat, kita memiliki pembiayaan politik yang besar yang harus bisa digotong bersama-sama,” sambungnya.
Prabowo Masih Tajir
Berbeda dengan Fahri dan Ahmad Muzani, anggota badan komunikasi Gerindra Andre Rosiade membantah jika Prabowo tengah bokek alias kehabisan logistik. Andre menyebut bahwa penggalangan dana dilakukan untuk memfasilitasi tokoh-tokoh yang punya kapasitas, kapabelitas untuk bisa maju ke pentas pemilihan dari pilkada hingga pileg. “Tokoh-tokoh tersebut bisa maju tanpa takut diatur pemodal besar. Itu tujuannya. Selama ini sudah dilakukan di Partai Gerindra, bukan karena kehabisan modal,” ujarnya.
Adik kandung Prabowo yang juga seorang pengusaha, Hashim Djojohadikusumo juga memastikan bahwa kakaknya masih memiliki uang yang cukup untuk maju kembali di Pilpres 2019.
“Masih, masih cukuplah,” kata Hasyim, Rabu 28 Maret 2018 lalu.
Harta Prabowo Subianto
Menurut laporan LHKPN, Prabowo Subianto merupakan calon presiden terkaya di pemilu presiden 2014 lalu. Dalam laporannya untuk Pilpres 2014, harta kekayaan Prabowo Subianto mencapai Rp 1.670.392.580.402 dan USD7.503.134. Harta kekayaan tersebut di dalamnya termasuk, 3 peternakan, surat berharga berupa kepemilikan saham pada 26 perusahaan, dan harta bergerak atau tidak bergerak lainnya.
Kekayaan tersebut, meningkat cukup drastis karena pada tahun 2003, Prabowo melaporkan kekayaannya hanya Rp 10,1 miliar dan USD416.135. Padahal, Prabowo di tahun 2009 mengikuti kontestasi politik sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri. Namun, bukannya berkurang tetapi hartanya malah bertambah banyak.
Lalu, bagaimana dengan dampak dari kekalahan di Pilpres 2014 kemarin?
Dalam laporan Tim Prabowo-Hatta pada 18 Juli 2014, Thomas Djiwandono menyebut bahwa dana kampanye yang dihabiskan selama kampanye 3 Juni-18 Juli 2014 menghabiskan dana Rp166,5 miliar, yang diambil penerimaan dana kampanye sebesar Rp166,5 miliar, sehingga sisanya hanya Rp1 juta.
Thomas merinci, penerimaan dana kampanye berasal dari partai Rp 101,7 miliar, dari capres-cawapres Rp 5 miliar, badan usaha Rp 56,6 miliar, kelompok Rp1 miliar dan perorangan Rp 2,1 miliar.
Pengeluaran paling banyak untuk media massa sebesar Rp 88,2 miliar, disusul atribut Rp 13,1 miliar, kampanye akbar atau rapat umum Rp 3,9 miliar, pertemuan tatap muka Rp 3,7 miliar dan lainnya Rp 57,5 miliar.

Angka tersebut, belum termasuk biaya saksi yang disiapkan minimal 1 orang per TPS, total jumlah TPS Pilpres 2014 itu mencapai Rp478.339. Biasanya honor saksi per orangnya mencapai Rp200-300 ribu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here