Amien Rais Capres, Yusril: Pengalaman (Buruk) Adalah Guru Terbaik

0
203

ORANYENEWS- Kesiapan Amien Rais maju sebagai calon presiden dikomentari banyak pihak. Di antaranya komentar datang dari Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra. Dalam sebuah kultwitnya soal kepemimpinan, dia pun menyinggung Amien Rais.

Dalam kultwitnya, Yusril mengutip pepatah Jawa mengenai kepemimpinan bahwa seorang pemimpin itu haruslah Sabdo Pandito Ratu yang artinya, seseorang yang kedudukannya sangat tinggi bagi seorang pandito (guru bijaksana) dan seorang ratu (raja).

Maka itu ucapan seorang pemimpin, menurut Yusril, haruslah ucapan yang serius dan terpercaya. Ucapan yang sudah dipikirkan dengan matang segala akibat dan implikasinya. Ucapan pemimpin itu yang akan jadi pegangan bagi rakyat dan pendukungnya.

“Karena itu pula, ucapan pemimpin itu harus lahir dari hati yang tulus, bukan kata bersayap, yang seolah diucapkan dengan kejujuran, tetapi di belakangnya mempunyai agenda pribadi yang tersembunyi,” ujarnya.

Yusril menuliskan, karena perkataan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, maka ucapan yang keluar tidak boleh “mencla-mencle, pagi ngomong dele, sore ngomong tempe”. Artinya, ucapannya berubah-ubah atau inkosisten, sehingga membingungkan rakyat dan pendukungnya.

“Karena ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, maka pemimpin itu tidak boleh “plintat plintut” alias “munafiqun”, dalam makna, lain yang diucapkan, lain pula yang dikerjakan. Pemimpin seperti ini akan kehilangan kredibilitas di mata rakyat dan pendukungnya,” ujar Yusril.

Kemudian, dengan pepatah Jawa tersebut, Yusril pun menyinggung manuver Amien Rais terkait Pemilu Presiden 2019. Yusril mengungkap bahwa sejak awal dia tidak berminat atau pun tertarik dengan inisiatif Amien Rais yang melakukan lobi sana-sini untuk memilih siapa yang akan maju dalam Pilpres 2019 menghadapi Jokowi sebagai petahana.

Kemudian, dia pun menceritakan pengalamannya di tahun 1999, saat berkumpul dengan tokoh lainnya untuk mencalonkan Gus Dur sebagai calon Presiden.

“Pengalaman, adalah guru yang paling bijak. Tahun 1999 dalam pertemuan di rumah Dr Fuad Bawazier, Pak Amien meyakinkan kami semua untuk mencalonkan Gus Dur. Saya dan MS Kaban menolak. Kami tidak ingin mempermainkan orang untuk suatu agenda tersembunyi,” ucapnya.

Yusril pun membandingkan pengalaman tersebut dengan maneuver politik Amien Rais kali ini. “Tahun 2018 ini pun saya tidak ingin ikut-ikutan dengan manuver Pak Amien Rais, bukan karena saya apriori, tetapi saya belajar dari pengalaman. Saya kini Ketum Partai. Saya ibarat nakhoda, yang harus membawa penumpang ke arah yang benar, dengan cara-cara yang benar pula,” sambung Yusril.

Yusril kemudian menutup kultwitnya dengan menulis bahwa pengalaman tetap menjadi guru yang bijak bagi dirinya. “Dan mudah-anan bagi orang lain juga. Sekian,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here