Heboh Racun Kalajengking, Ini Isi Pidato Presiden Jokowi

0
334
Jokowi
Jokowi

ORANYENEWS- Jelang pemilu presiden apapun bisa memicu perdebatan dan kontroversi. Baik dari gaya, cara berpakaian, hingga ucapan di dalam pidato. Baru-baru ini, pernyataan Presiden Jokowi dianggap kontroversial dan disikapi kelompok antijokowi.

Di antaranya adalah Wakil Ketua DPR Fadli Zon, Ketua DPR Mardani Ali Sera, hingga Tengku Zulkarnaen. Mereka mengkritik pernyataan Presiden Jokowi dengan berbagai macam cara,  dari memberikan pernyataan di media massa hingga di media sosial.

Lalu,  seperti apa sebenarnya pidato Presiden Jokowi dalm Musrenbangnas RKP 2019 “Pemerataan Pembangunan untuk Pertumbuhan Berkualitas” Senin 30 April 2018 kemarin.

Presiden Jokowi membuka pidatonya dengan prolog pertanyaan kepada peserta Musrenbangnas, tentang komoditas apa yang paling mahal di dunia untuk dikaitkan dengan pesan utamanya.

Kemudian, Jokowi menyebut emas bukanlah komoditas yang paling mahal di dunia. Dia mengungkapkan bahwa harga emas ternyata kalah jauh dibanding harga racun kalajengking.

“Ada fakta yang menarik, yang saya dapat dari informasi yang saya baca. Komoditas yang paling mahal di dunia adalah racun scorpion, racun dari kalajengking. Harganya USD 10,5 juta, artinya Rp 145 miliar per liter. Jadi kalau mau kaya, cari racun kalajengking,” seloroh Jokowi

Akan tetapi, lanjut Jokowi, racun kalajengking yang supermahal itu ternyata masih kalah jauh dibanding harga Californium 252. Harga zat radioaktif ini bahkan dua kali lipat harga racun kalajengking.

“Ada lagi komoditas yang supermahal yang namanya Californium 252, harganya USD 27 juta per gram atau Rp 357 miliar per gram. Saya juga nggak ngerti barangnya,” lanjut Jokowi.

Meski begitu, barang-barang supermahal tersebut belum ada apa-apanya dibanding dengan harga waktu. Presiden menilai bahwa waktu adalah barang paling mahal di dunia.

“Meskipun ada komoditas yang paling mahal di dunia, tapi yang paling mahal adalah waktu,” katanya.

Presiden memberikan ilustrasi bahwa waktu 10 tahun terasa sangat cepat sekali di era seperti saat ini. Terlebih dengan adanya penemuan teknologi, seperti handphone.

“Untuk saya, 10 tahun lewatnya sangat cepat sekali. Kita ingat, 30 tahun yang lalu, kurang-lebih 1988, waktu itu belum ada yang namanya HP. Rasanya irama hidup ini pelan sekali. Kalau mau teleponan, kita tunggu sampai ke kantor dulu baru telepon dulu. Atau tunggu sampai di rumah baru bisa telepon, karena belum ada HP,” urai Jokowi.

“Kemudian muncul HP dan mesin faks. Anak muda sekarang mesin faks saja sudah bingung apa itu, karena sudah muncul yang lebih baru. Itu adalah perpaduan mesin fotokopi dan telepon yang waktu itu kita anggap sangat revolusioner sekali. Dulu kita nunggu berminggu-minggu untuk dapat surat lewat pos, begitu ada mesin faks menjadi instan,” tambahnya.

Jokowi mengatakan bahwa saat ini sudah semakin cepat dan canggih. Terlebih dengan adanya aplikasi komunikasi, baik WhatsApp (WA) maupun media sosial, seperti Twitter dan Instagram.

“Kita bicara sekarang. Kita hidup di era WA, di era Twitter, Facebook, YouTube, di era Instagram. Irama hidup jadi sangat cepat sekali, informasi juga sangat cepat sekali,” katanya.

Sekarang, kata Jokowi, di mana pun orang sudah bisa langsung berkomunikasi via WA dan Twitter. “Orang langsung bisa update status, baik di Facebook, Instagram, Twitter. Waktu lewatnya semakin cepat, dan dengan perkembangan teknologi potensi mengisi waktu bisa semakin tinggi. Potensi produktivitas, karena banyak yang tidak menggarap potensi produktivitas ini dengan baik,” jelasnya.

Artinya, kata Jokowi, dengan memanfaatkan teknologi modern tersebut, orang bisa mencapai waktu lebih cepat. Ini membuktikan bahwa waktu merupakan komoditas paling mahal di dunia.

“Dengan waktu yang lewat begitu cepat, dengan teknologi modern yang begitu banyak yang bisa kita capai setiap menit, jam, hari, berarti yang namanya waktu benar-benar menjadi komoditas yang mahal sekali kalau kita bisa memanfaatkan itu,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here