Eks Timses Prabowo Bongkar Strategi Busuk ‘Komuniskan’ Jokowi

0
400

ORANYENEWS- Mantan tim sukses Prabowo Subianto membongkar strategi busuk untuk membuat label komunis dan anti-Islam terhadap Presiden Joko Widodo, agar membuat umat Islam tidak memilih capres dari PDI Perjuangan tersebut. Siapakah mantan tim sukses itu dan mengapa strategi itu bisa diambil?

Ternyata tokoh yang membongkar strategi busuk tersebut adalah Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy.  Pria yang akrab disapa Gus Romi itu, pada pemilu presiden tahun 2014 menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Strategi Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Kala itu jabatannya di PPP adalah sebagai Sekjen, Ketua Umum PPP saat itu masih dijabat Suryadarma Ali. Saat itu PPP tergabung di dalam Koalisi Merah Putih (KMP) yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta melawan Jokowi-Jusuf Kalla.

Gus Romi mengungkapkan apa yang terjadi saat itu saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama PPP di Hotel Patra, Semarang, akhir pekan ini.

Dalam kesempatan itu, dia menegskan bahwa isu prokomunis yang dibangun adalah fitnah dan hoaks, hanya strategi politik untuk memenangkn pertarungan Pilpres.

Dia mengungkapkan saat Jokowi menjadi Wali Kota di Solo selama 2 periode sama sekali tidak ada isu komunis, begitu juga saat Jokowi maju di kontestasi Pilkada Jakarta yang juga didukung Gerindra saat itu tidak ada isu komunis sama sekali.

“Tapi mengapa tahun 2014 (saat)  posisinya berhadapan (dengan Gerindra)  tiba-tiba muncul isu komunis. Itu artinya ini adalah rekayasa,” tegas Romi.

Gus Romi mengungkap saat berkunjung ke Palu, dia ditanyai salah seorang ulama di sana ihwal kemunculan label komunis dan anti-islam kepada Jokowi. Termasuk dua hari yang lalu saat dirinya bertemu dengan Habib Saggaf, Ketua Ulama Ormas Al Khairat, berpusat di Indonesia Timur.

Dia pun menceritakan saat dirinya berada di tim pemenangan Prabowo-Hatta, terdapat banyak faksi pendukung, baik pendukung resmi ataupun tidak resmi.

Saat itu banyak ide dan strategi bermunculan untuk memenangkan Prabowo-Hatta. Gus Romi mengungkap, ada yang menyampaikan pikiran-pikiran produktif dan ada pula yang menyampaikan pikiran-pikiran provokatif demi kemenangan Prabowo-Hatta.

Salah satu pemikiran provokatif yang dimunculkan saat itu adalah isu bahwa Jokowi merupakan anak seorang tionghoa yang bernama Oey Hong Liong, dan dia adalah aktivis PKI. Kemudian isu tersebut dibuat, dibukukan, dibakukan ke dalam satu tabloid yang bernama Obor Rakyat.

Romi menegaskan bahwa saat itu  mereka yang membuat Obor Rakyat bukan bagian dari tim pemenangan dan relawan resmi. Mereka sekadar pendukung Prabowo-Hatta. Namun, Romi juga mengaku bahwa dirinya diminta untuk mengedit Tabloid Obor Rakyat edisi pertama.

Kemudian, saat disodorkan isi kontennya, Romi mengaku langsung menolak, pasalnya muatan konten tersebut berisikan fitnah.

“(Saat itu)  Saya mengatakan ini fitnah. Kalau nanti Prabowo enggak menang kita bakal dapat masalah. Kalau menang bisa jadi dengan kekuasaan bisa ditutup hukumnya. Tetapi kalau kalah bisa cilaka kita. Maka saya enggak mau melakukan koreksi,” ungkapnya.

Tapi konten tersebut tetap dimuat di Tabloid Obor Rakyat yang diproduksi hingga 1 jut eksemplar, kemudian disebarkan ke 28.000 pondok pesantren serta 724.000 masjid di Pulau Jawa. Bahkan, Gus Romi mengaku tahu persis dimana lokasi pencetakan tabloid tersebut, tapi dia belum mau mengungkapnya.

Ketum PPP itu menegaskan bahwa isi tabloid tersebut merupakan fitnah dan propaganda untuk menyerang pribadi Jokowi.

“Saya berada di jantung pertarungan itu dan saya baru kali ini cerita. Kenapa? Karena hari ini pertarungan politik sangat tidak sehat. Dan sudah sangat mengganggu keutuhan kita sebagai bangsa. Karena yang seperti ini harus kita luruskan,” kata Romi mengungkap alasannya.

Dia melanjutkan bahwa nasyarakat di bawah tidak tahu bahwa itu semua palsu karena melihat itu dibungkus melalui tabloid yang sangat rapi. “Cetakannya bagus. Saya pun tahu dimana tabloid itu dicetak. Dimana dikirimkannya. Tetapi itulah yang terjadi pada pemilu 2014 yang lalu,” lanjut dia.

Diketahui dua pengelola Tabloid Obor Rakyat Setiyardi Budiono dan Darmawan Sepriyossa divonis 8 bulan penjara atas perbuatannya melakukan pencemaran nama baik dan penghinaan terhadap Joko Widodo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here