KH Syukron Makmun Imbau Umat Islam Bersatu & Jaga Toleransi di Tahun Pemilu

0
149
KH Syukron Makmun

ORANYENEWS- Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman KH Syukron Makmun mengimbau umat Islam bersatu dan menjaga toleransi, di tahun politik 2018-2019.

Imbauan tersebut disampaikan saat berpidato di acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu 10 Maret 2018.

Acara tersebut dihadiri para kyai dan habib, serta sejumlah pejabat negara seperti Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi, Menristek Dikti Muhammad Natsir, Wakil Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, dan pejabat lainnya.

Dalam kesempatan itu KH Syukron Makmun mengatakan bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat haruslah menjaga toleransi.

“Terus terang saja, saya cinta Pancasila, saya cinta Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Dalam membentuk negara Bhinneka Tunggal Ika, katanya maka setiap suku dan agama haruslah hidup berdampingan, saling hormat menghormati, dan saling menghargai.

“Nah, bagaimana membentuk negara Bhinneka Tunggal Ika. Wahai orang Jawa cintailah oleh engkau, orang Jawa. Tapi kau hidup berdampingan dengan orang Sunda, saling hormat menghormati , saling harga menghargai, satu bangsa Indonesia. Ini Bhinneka Tunggal Ika,” lanjutnya.

Ketua Umum Forum Ulama dan Habib DKI Jakarta ini pun mengimbau agar pemerintah dan masyarakat, dapat membedakan dengan baik mengenai SARA (suku, agama, dan RAS) dan Naluri. Menurutnya, seseorang menyukai calon pemimpin dari suku yang sama, atau agama yang sama, itu bukanlah SARA, melainkan naluri.

“Jadi, jika orang Jawa memilih orang Jawa itu adalah naluri, bukan SARA,” katanya. “Kalau Mahfud MD kemarin dicalonkan menjadi calon gubernur DKI, sebagai orang Madura, saya akan pilih Mahfud MD, tidak yang lain,” ujarnya.

Sebab itu, dia meminta agar pemerintah dan masyarakat secara jernih dan jujur membedakan nama SARA dan mana naluri.

Menurutnya, yang disebut dengan SARA adalah ketika dirinya mendukung satu calon dari suku atau agama yang sama, akan tetapi menyerang calon lain, menyerang agamanya, menyerang sukunya dengan cara menghina dan menjelek-jelekkan orang lain. “Itu baru namanya SARA, tidak boleh!” tegasnya.

Makanya, lanjutnya, wajar saja jika Presiden Indonesia hingga saat ini diisi oleh orang Jawa, terkecuali Habibie yang menjadi Presiden karena ‘kecelakaan’. “Karena 60% penduduk Indonesia adalah orang Jawa, sisanya 40 persen dari Madura, Bugis, luar Jawa. Makanya wajar,” ujarnya.

Dia juga mencontohkan Gubernur Bali yang dimenangkan orang/tokoh beragama Hindu. Di Papua, dimenangkan tokoh beragama Kristen. “Itu bukan SARA. Itu wajar, naluri,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here