Perang Bintang di Pilkada Jawa Barat

0
124
Ridwan Kamil, Dedi Mulyadi, Deddy Mizwar.

ORANYENEWS- Setelah pertarungan sengit dalam pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2017, pengamat Komunikasi Politik, Gede Moenanto Soekowati memperkirakan pertarungan sengir juga akan terjadi pada Pilkada Serentak 2018 yang akan berlangsung di sejumlah daerah dan provinsi.

“Pilkada serentak 2017 di antaranya seperti terjadi di DKI Jakarta adalah yang paling heboh dan menarik perhatian masyarakat Jakarta dan Indonesia, bahkan menjadi perhatian masyarakat internasional,” katanya di Jakarta, Kamis 4 Januari 2018

Menurut Gede, pengalaman dalam Pilkada DKI Jakarta dapat dirasakan sangat menguras tenaga, pikiran, dan emosi masyarakat pemilih.

“Dampaknya tidak positif, tapi cara-cara Pilkada DKI Jakarta tidak bisa dilakukan di Pilkada Jawa Barat,” kata kandidat Doktor Fikom Universitas Padjadjaran, Jawa Barat ini.

Meski sudah ada upaya untuk menarik cara yang digunakan di Pilkada DKI Jakarta dengan isu SARA, menurut Gede, hal tersebut tidak bisa dilakukan khususnya untuk perhelatan Pilkada Jawa Barat.

“Semua kandidat akan masuk melalui pintu agama yang sama karena semuanya beragama Islam, hal tidak jauh berbeda misalnya terjadi di Bali di mana kandidat yang berlaga adalah sama-sama beragama Hindu, juga di beberapa daerah lainnya,” katanya.

Pilkada Serentak, menurut Gede, memang diwarnai dengan isu kedaerahan seperti telah berlangsung selama ini di mana kandidat yang tampil pada umumnya merupakan putra daerah.

“Yang menarik tentu saja perkembangan terkini di Jawa Barat di mana komunikasi dan peta politik sangat dinamis dengan koalisi antara Partai Demokrat dan Partai Golkar setelah sebelumnya, koalisi antara sejumlah partai politik dengan mencalonkan Deddy Mizwar dan Akhmad Syaikhu buyar dan Partai Golkar menarik dukungan terhadap Ridwan Kamil,” katanya.

Menurut Gede, Ridwan Kamil tetap mempunyai peluang dengan mengharapkan koalisi sejumlah partai politik yang mengusung dia dengan PDIP.

“PDIP sudah mempunyai sejumlah nama yang potensial menjadi Calon Wakil Gubernur (Cawagub) seperti Anton Charlian, Puti Guntur Soekarno, dan beberapa nama lainnya, sehingga jika koalisi ini terjadi, akan muncul setidaknya 3 pasangan di Pilkada Jawa Barat dengan semuanya maju lewat partai politik,” kata peneliti di Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) ini.

Menurut Gede, kunci kemenangan di Pilkada Jawa Barat tidak seberat Pilkada DKI Jakarta dengan perolehan suara minimal 50 persen + 1.

“Setiap pasangan kandidat berpotensi meraih kemenangan dengan perolehan 35-40 persen suara dan potensi itu akan semakin besar dengan pemilih pemula, yang semuanya menjadi target pemilih setiap pasangan kandidat,” katanya.

Pemilih di tingkat perkotaan dan pedesaan, menurut Gede, mempunyai karakteristik yang berbeda untuk didekati dan luasnya Jawa Barat menjadi medan pertempuran utama dari setiap pasangan kandidat, setidaknya 3 pasangan utama yang diusung koalisi parpol besar.

“Setidaknya, figur Ridwan Kamil, Deddy Mizwar, Sudrajat dan para pendamping mereka mempunyai nilai elektabilitas dan popularitas yang memadai untuk berlaga sebagai kandidat kepala daerah,” katanya.

Meski demikian, menurut Gede, belum ada pengumuman resmi siapa yang akan didaftarkan PDIP sebagai Cagub Jawa Barat meski secara isyarat, kehadiran Ridwan Kamil ke DPP PDIP merupakan simbol yang menunjukkan, PDIP akan mengusung Wali Kota Bandung ini sebagai Cagub Jawa Barat.

“Segalanya mungkin terjadi termasuk kandidat yang tidak terlalu diunggulkan di Jawa Barat bisa meraih kemenangan misalnya kemenangan yang diraih Ahmad Heryawan dalam dua periode Pilkada Jawa Barat bisa terulang lagi,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here