Jokowi di Antara Orba

“Sorry bro, gw gak ikut petisi loe soal tolak Orba di Pilpres kemarin”.

“Oh, it’s okay bro,” jawab saya santai.

Dia menyusulkan alasannya tidak ikut petisi. Menurutnya, di kedua kubu terdapat Orde Baru. Baik secara fisik atau pun ideologi pemikiran.

Saya tidak menyangkal pendapat tersebut. Itu juga yang membuat saya memilih Golput pada pemilu 2014 lalu. Di sisi kiri ada Prabowo, di kanan ada Wiranto.

Tapi, pada pilpres kemarin saya memilih karena “turun gunungnya” keluarga Cendana. Namun, untuk pileg saya tetap Golput.

Saya berkelakar, jangan-jangan kita salah memilih reformasi setelah menjatuhkan Soeharto?. Harusnya kita lakukan pembersihan terhadap tokoh-tokoh, dan orang-orang yang terkait Orba. Sebagaimana dulu, rezim Soeharto melakukan pembersihan terhadap tokoh & pendukung Soekarno.

Tapi TIDAK, sergahku, pilihan kita sudah benar. Kita menghancurkan Orba dan tidak mau menjelma menjadi monster Orba versi baru yang membungkam, memenjarakan, membunuh siapa pun lawan politik dan yang berbeda pendapat dengan mereka.

Reformasi adalah antithesa Orde Baru, bukan menjadi Orba versi kekinian.

****
Orba Kembali

Dalam pandangan saya Orba itu ada dua. Orba manusianya dan Orba pemikirannya/cara pandangnya/ idelologinya.

Pada pilpres kemarin, masyarakat berhasil mencegah Orba berkuasa lagi, manusianya. Di sana ada eks menantu & anak-anak Soeharto.

Tapi, bukan berarti di kubu Jokowi tidak ada Orba. Jelas di depan mata ada Wiranto. Tapi, yang lebih bahaya adalah yang tidak kelihatan. Yaitu Orba secara pemikiran/ ideologinya.

Pemikiran/ ideologi tersebut menyusup melalui pasal-pasal di dalam aturan & Undang-Undang.

Dalam tulisan sebelumnya “Melupakan Semanggi II”, saya menulis tentang bagaimana upaya Orba di penghujung pemerintahannya berupaya meninggal warisan otoritarianisme-nya berupa RUU PKB. Tapi, berhasil ditolak dengan demontrasi hingga pecah Peristiwa Semanggi II.

Upaya pemikiran Orba tidak berhenti, terbukti banyak upaya untuk memastikan cita-cita reformasi melalui RUU KPK, RKUHP, dan undang-undang lainnya.

Peristiwa demontrasi belakangan ini yang berujung tewasnya dua mahasiswa Kendari merupakan peringatan penting untuk Jokowi. Bahwa saat ini orang-orang yang memiliki pemikiran/ ideologi Orba sudah masuk ke dalam lingkaran terdalam.

Salah satu contoh yang sangat kuat, saat Jokowi minta agar pasal penghinaan presiden dihapus, namun ditolak dan tetap dicantumkan oleh orang di sekelilingnya. Menurut saya, itu merupakan “jebakan” yang sangat berbahaya bagi Jokowi.

Belum lagi ketika berbicara tentang Revisi Undang-Undang KPK. Kedua undang-undang ini merupakan jebakan “ideolog” Orba, agar Jokowi tergiring masuk ke dalam upaya menghidupkan kembali Orde Baru versi Terbaru.

****
Momentum Jokowi

Di depan mata, terdapat agenda politik sangat penting. Yaitu, pelantikan Presiden Jokowi & Wapres Maruf Amin. Kemudian, berlanjut pemilihan menteri & kepala lembaga negara.

Saat itu adalah momentum penting Jokowi untuk meminimalisir, jika tidak bisa menghilangkan, Orba secara manusia & Orba secara pemikiran.

Jokowi bisa berdiskusi dan menjaring aspirasi sebanyak-banyaknya dari tokoh-tokoh yang benar-benar memiliki semangat reformasi, anti ideologi Orde Baru (KKN), dan memiliki integritas yang kuat. Agar dalam memilih jajaran kabinet tidak “terjebak” ke dalam skenario “kembalinya Orba”.

Periode kedua merupakan Periode penting bagi Jokowi. Apakah ingin meninggalkan Istana dalam keadaan khusnul khotimah atau su’ul khotimah?

Seperti kata orang bijak, “Setiap Orang Ada Masanya, dan Setiap Masa Ada Orangnya”.

Semoga Jokowi adalah orangnya.

Syukri Rahmatullah,
Jakarta, 27 September 2019

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here