Eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan Ditahan, Ini Dugaan Kasusnya

0
144
Eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan (foto: dtc)

ORANYENEWS- Kejaksaan Agung akhirnya melakukan penahananan terhadap eks Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan Senin, 24 September 2018. Karen ditahan setelah menjalani pemeriksaan dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi investasi perusahaan di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009.

Karen yang mengenakan rompi tahanan Kejaksaan tampak menangis saat digelandang menuju mobil tahanan dan akan ditahan di Rumah Tahanan Pondok Bambu Jakarta Timur selama 20 hari ke depan.

“Saya nggak mau bikin statement apa-apa dulu karena ini masih proses hukum, biarkan proses hukum ini berjalan,” ucap Karen sambil terbata di Jakarta, Senin 24 September 2018.

Karen mengaku selama dirinya menjabat Dirut Pertamina, telah berusaha untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. “Sehingga pertamina bisa meningkatkan laba dua kali lipat semenjak saya masuk ke Pertamina, itu saja dari saya,” ujarnya terisak.

Adapun Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Adi Toegarisman masih belum mau memberikan keterangan. “Nanti saya kembali lagi,” ujar dia.

Laman Bisnis.com melansir Adi membenarkan bahwa Karen Agustiawan ditahan selama 20 hari ke depan mulai hari ini hingga 13 Oktober 2018.

Karen Agustiawan ditahan setelah menjalani pemeriksaan selama lebih kurang 5 jam di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung. Ia sebelumnya diduga terlibat dalam kasus dugaan korupsi investasi yang terjadi pada 2009.

Pertamina melalui anak peru­sahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE), melakukan akui­sisi saham sebesar 10 persen terhadap ROC Oil Ltd, untuk menggarap Blok BMG.

Perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase -BMG Project diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transak­sinya mencapai US$31 juta. Akibat akuisisi itu, Pertamina harus menanggung biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar US$26 juta. Melalui dana yang sudah dike­luarkan setara Rp 568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga sebanyak 812 barrel per hari.

Ternyata Blok BMG hanya dapat bisa menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari. Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup setelah ROC Oil me­mutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya, blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi. Investasi yang sudah dilaku­kan Pertamina akhirnya tidak memberikan manfaat maupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional.

Hasil penyidikan Kejaksaan Agung menemukan dugaan penyimpangan dalam proses pengusulan investasi di Blok BMG. Pengambilan keputusan investasi tanpa didukung feasi­bility study atau kajian kelayakan hingga tahap final due dilligence atau kajian lengkap mutakhir. Diduga direksi mengambil keputusan tanpa persetujuan Dewan Komisaris. Akibatnya, muncul kerugian keuangan negara cq Pertamina sebesar US$31 juta dan US$ 26 juta atau setara Rp568 miliar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here