Jadi Sorotan Warga, Ini Kata Pimpinan Kesultanan Selaco

Jadi Sorotan Warga, Ini Kata Pimpinan Kesultanan Selaco
Sultan Rohidin / Foto : Deden Rahadian/detikcom

Oranyenews.com, Tasikmalaya – Kemunculan Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, menjadikan Kesultanan Selaco (Selacau) Tunggul Rahayu di Desa Cibungur, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tsikmalaya ramai diperbincangkan.

Dan pada kenyataannya, Kesultanan Selaco sudah tercatat sebagai cagar budaya di Kemenkumham pada 24 Juli 2002.

Hal tersebut diungkap oleh Kepala Kantor Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya melalui Kasi Kewaspadaan, Pipin Novianti.

Ia menyebut jika pihak kesultaan telah melakukan permohonan pengesahan hingga pada akhirnya keluar keputusan Kemenkumham tersebut.

Lembaganya selama ini terdaftar di kita sebagai pekumpulan. Kalau nama kesultanannya memang belum terdaftar di kita,” ungkap Pipin.

Lebih lanjut, Pipin juga menyebut jika selama ini pihaknya belum menerima adanya keberatan atau protes yang dilayangkan warga terkait aktivitas yang dilakukan oleh kesultanan tersebut.

Satu hal yang pernah muncul, yakni aksi keberatan terkait adanya spanduk yang bertuliskan akan mendirikah Daerah Istimewa Provinsi Priangan.

“Waktu itu warga dan kita tertibkan tidak ada reaksi apapun dari pihak kesultanan. Dan sampai sekarang, rencana itu tidak kembali muncul,” imbuh Pipin.

Memberikan respon terkait dengan sorotan tersebut, Sultan Rohidin yang merupakan pemimpin Kesultanan Selaco, ikut buka suara.

Ia secara pribadi mengklaim bahwa dirinya merupakan keturunan Raja Wirasema anak dari Raja Padjadjaran atau keturunan sembilan Raja Padjadjaran.

“Saya ini keturunan Padjadjaran kesembilan, nama saya Rohidin SH, tapi kalau gelar Patra Kusumah VIII” ujar Rohidin saat ditemui di kediaman keduanya di Kawasan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Minggu (19/1/2020).

Lebih lanjut, ia juga menyebut jika Kesultanan Selaco didirikan sebagai cagar budaya warisan leluhur.

Dalam hal ini, Kesultanan Selaco mempunyai sistem kelengkapan seperti Maha Patih, Panglima Perang, Adi Pati, prajurit, abdi dalam hingga para pengikutnya.

Rohidin pun menjelaskan bahwa Kesultanan Selaco juga tercatat di UNESCO.

“Kami ini cagar budaya. Tujuannya untuk melestarikan dan merawat warisan budaya leluhur. Bukan kesultanan dalam arti lengkap, kami ini NKRI harga mati kok,” tutur Rohidin menegaskan.

Dari pihak pengikut, mengaku jika kegiatan yang mempunyai sifat budaya sudah jarang digelar. Akan tetapi pertemuan rutin tetap digelas setiap malam Kamis per pekannya.

“Rutin hadir paling 50 orangan. Tapi yang di luar banyak pengikutnya, dari Sumedang, Bandung, Tasik, banyak pokoknya,” ucap Suryaman, salah seorang pengikut Kesultanan Selaco.

Sedangkan dari pihak kepolisian, menyebut jika pihaknya terus melakukan pemantauan terkait dengan Kesultanan Selaco.

“Sejauh ini belum ada laporan yang merasa dirugikan akibat adanya Kesultanan Selaco,” ujar Kapolres Tasikmalaya AKBP Dony Eka Putra, Sabtu (18/1/2020).

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here