Islamophobia Jadi Masalah Endemik Partai Konservatif Inggris

Islamophobia Jadi Masalah Endemik Partai Konservatif Inggris
Ilustrasi / Foto : Sindonews

Oranyenews.com, London – Disebutkan oleh para pengamat di Inggris, Partai Konservatif negara mempunyai masalah endemik dengan Islamophobia.

Kegagalan mereka untuk menghadapi masalah tersebut sudah memungkinkan budaya intoleransi dan kebencian terhadap kaum Muslim di negara tersebut.

“Ada epidemi Islamofobia di Partai Konservatif. Perlu ada penyelidikan penuh dan mendesak oleh Komisi Kesetaraan dan HAM. Sangat memalukan bahwa ini belum terjadi,” ucap Waqas Tufail, seorang pengamat dari Universitas Leeds Beckett.

Seperti yang dikutip dari Al-Jazeera, selama setahun terakhir, politisi dan anggota partai Konservatif sudah mengunggah retorika anti-Muslim di media sosial.

Serta sudah mendorong tuduhan bahwa Islamophobia lazim pada semua tingkatan, dari perwakilan lokal hingga pada eselon puncak partai.

Pada sebuah laporan investigasi yang diterbitkan oleh The Guardian, lusinan mantan serta anggota aktif dewan Tory, ditemukan menyebut Muslim sebagai “barbar” dan “musuh di dalam”, serta menyerukan supaya keberadaan masjid dilarang.

Parta Konservatif menyebut, mereka sudah menangguhkan anggota dewan yang masih aktif mengatakan akan membuka penyelidikan atas tindakan mereka.

“Partai Konservatif tidak akan pernah berpihak pada prasangka dan diskriminasi dalam bentuk apa pun,” ucap partai itu dalam sebuah pernyataan.

Namun Dewan Muslim Inggris (MCB), menuduh kaum Konservatif mempunyai “titik buta” pada saat berhadapan dengan rasisme anti-Muslim dalam jajarannya.

“Sangat jelas bagi banyak Muslim, bahwa Partai Konservatif mentoleransi Islamophobia, membiarkannya berkembang di masyarakat, dan gagal menerapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk membasmi jenis rasisme ini,” ucap MCB dalam sebuah pernyataan bulan lalu.

Boris Johnson selaku pemimpin Partai Konservatif, sudah menolak untuk meminta maaf atas komentar terkenalnya tentang wanita Muslim, dengan menyebut bahwa mereka dikeluarkan dari konteks.

Pada sebuah artikel, yang ditulis untuk Telepgraph tahun lalu, Johnson memberikan perbandingan wanita mengenakan burka dengan “kotak surat” dan “perampok bank”.

Tercatat oleh kelompok pemantau Tell MAMA, kejahatan rasial terhadap wanita Muslim semakin meningkat 375 persen pada minggu pertama pasca artikel tersebut terbit, bahkan lojakan terbesar dalam serangan anti-Muslim terjadi pada tahun 2018.

Zainab Gulamali yang merupakan kepala urusan publik MCB, menyebut jika keberadaan Johnson sebagai pemimpin Partai Konservatif memungkinkan budaya kebencian yang beracun tersebut muncul.

Gulmali menyebut jika Johnson harus sadar jika kata-kata mempunyai tindakan.

“Kita membutuhkan penyelidikan mandiri tentang Islamofobia (untuk menilai) skala masalah. Penyelidikan luas tentang rasisme tidak baik. Rasisme, dari mana pun asalnya dari kiri atau kanan, tidak dapat diterima. Apa yang dilakukan sekarang tidaklah cukup,” paparnya.

Bagikan Yuk..!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here