Masih Ada 20 WNI Terancam Hukuman Mati di Arab Saudi

0
166
Iqbal Sharief (foto: Pospertki)

ORANYENEWS, MAKKAH- POSPERTKI (Posko Perjuangan TKI) Saudi Arabia menyesalkan dan berduka kembali terjadinya eksekusi mati terhadap salah satu TKI di Saudi Arabia yang nota bene Pahlawan Devisa bernama Muhammad Zaini Misrin asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur pada Minggu 18 Maret 2018 lalu.

Pernyataan disampaikan Pembina pospertki, Sharief Rachmat di Makkah baru-baru ini. Walaupun pada akhirnya upaya Pemerintah tidak membuahkan hasil, Sharief Rachmat yang juga merupakan Ketua DPLN PDI Perjuangan Saudi Arabia mengapresiasi langkah Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah berupaya semaksimal mungkin dalam menyelamatkan para WNI atau TKI yang terancam hukuman mati di Saudi Arabia.

Berdasarkan catatan sementara yang dimikili DPLN PDI Perjuangan Saudi Arabia dalam kurun waktu 2014 hingga 2018, sekitar 12 lebih WNI atau TKI di Saudi Arabia yang diselamatkan Pemerintah Indonesia atau terbebas dari hukuman mati. 3 WNI atau TKI telah dieksekusi hukuman mati, dan masih terdapat 20 WNI atau TKI dalam proses persidangan.

Sebagaimana peraturan Saudi Arabia, bahwa mereka tidak punya kewajiban untuk  memberitahu ke Pemerintah Asing bila ada warganya yang terjerat hukum, tetapi alangkah baiknya sebagai Negara sahabat sesama muslim, pemberitahuan dapat dilakukan. Dan disisi lain yang juga disayangkan, tidak dihargainya proses PK (Peninjauan Kembali) yang diajukan oleh Pemerintah Indonesia sedang berlangsung,” sambungnya.

Walaupun demikian, tentu kita juga harus menghormati hukum yang berlaku di Saudi Arabia yang menerapkan hukum qishos bagian dari syari’at Islam. Sebagaimana Negara lain juga harus menghormati hukuman mati yang berlaku di Indonesia khususnya hukuman mati terhadap Bandar Narkoba.

Saat ini masih terdapat 20 WNI atau TKI yang terancam hukuman mati dan perlu perhatian untuk diselematkan, menghujat dan menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah. Alangkah baiknya mari kita bersama sama mendorong, mendukung, dan memberikan masukan kepada Pemerintah RI untuk menyelamatkan warga kita agar tidak lagi ada korban susulan. Kami pun percaya, Pemerintahan dibawah pimpinan Presiden Joko Widodo dapat melakukan yang terbaik dari era sebelumnya,” lanjut Sharief.

Belajar dari kasus – kasus sebelumnya, Pembina POSPERTKI Saudi Arabia ini menilai keberangkatan Presiden Joko Widodo ke Saudi Arabia sebaiknya tetap dilanjutkan. Perlu ada pembicaraan dan kesepakatan dengan Kerajaan Saudi Arabia untuk membenahi ini semua. Jangan sampai ada lagi istilah tidak ada pemberitahuan dan tidak mengindahkan proses hukum PK (Peninjauan Kembali) yang diajukan Pemerintah Indonesia sedang berjalan.

Sudah berapa nota protes yang dilakukan Pemerintah Indonesia ke Saudi Arabia perihal tidak adanya pemberitahuan adanya WNI yang terjerat hukum, tetapi faktanya tetap terjadi. Dan hal – hal semacam ini dan lainnya sudah perlu dibacarakan tingkat tinggi antara Presiden RI dan Raja Saudi. Jangan setelah kejadian baru kita ramai, yang seharusnya bisa diminimalisir sebelumnya. Pemerintah Indonesia khususnya Presiden perlu mempertimbangkan membentuk satgas atau tim khusus gabungan lintas kementerian, swasta, tokoh, dan komunitas masyarakat untuk menangani pembebasan WNI yang terancam hukuman mati.

Di sisi lain, kekaguman Raja Saudi terhadap Presiden Pertama Ir. Soekarno beserta keluarga, dapat dilibatkan melakukan pembicaraan diawali secara non formal. Memperhatikan budaya setempat, titik terang biasanya diawali dengan komunikasi non-formal.

Selain persoalan WNI yang terancam hukuman mati, yang tak kalah penting pula maraknya penempatan TKI Unprosudural ke Saudi Arabia. Padahal kita mengetahui, Pemerintah Indonesia telah menghentikan penempatan TKI sektor domestik ke timur tengah. Hal ini juga perlu diperhatikan, perlu ada penataan dan payung hukum. Jangan sampai ada masalah, mereka para TKI korban Unprosudural ini hanya bisa diselesaikan pulang ke tanah air dengan tangan kosong,” tutup Sharief Rachmat.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here