Wayang dan Gamelan Tampil di London, Sedot Banyak Penonton

0
134

ORANYENEWS- Sudah tak asing lagi bagi para penikmat kebudayaan nasional, gamelan dan wayang menjadi daya tarik tersendiri bukan hanya di dalam negeri namun di banyak belahan bumi lainnya. Di kota London, gamelan dan wayang telah menjadi pagelaran yang cukup rutin diadakan oleh beberapa instansi pendidikan dan kebudayaan di Inggris dan menyedot banyak penonton.

Tabuhan angklung buncis dan kendang telah menghentikan setiap obrolan di ruang Picture Gallery, Royal Holloway University of London (RHUL), yang sudah dipadati lebih dari 100 orang pengunjung pertunjukan. Suasana menjadi hening dan semua orang terpusat menyimak tabuh-tabuhan yang tersaji apik. Pagelaran seni budaya Degung Gamelan Sunda dan Wayang Bali di helat pada Kamis 8 Maret 2018.

Bertajuk Crossing Borders: Gamelan Puloganti, dengan para pemain, yakni mahasiswa Jurusan Musik dan dipimpin oleh dosen Simon Cook, tergabung dalam kelompok seni degung Sunda Puloganti. Kelompok seni degung ini tampil menyajikan pementasan karya-karya klasik degung Sunda. Ada perpaduan memainkan alat musik degung dengan angklung, yang kemudian menghasilkan musik baru. Simon Cook, guru musik Sunda yang sudah lama menekuni kecapi, suling, dan degung menyatakan bahwa dengan menyajikan musik yang digabungkan dengan drama, kita akan bisa lebih menghayati setiap makna dari tabuhan dan gerak yang kali ini diwakili oleh wayang Bali.

Selain pementasan degung dan angklung, pertunjukan di RHUL juga dimeriahkan dengan kehadiran karya kolaboratif wayang Bali. Bertindak sebagai dalang adalah Sietske Rijkema, mahasiswa program doktoral di Jurusan Drama RHUL, yang bekerja sama dengan Matthew Cohen, gurubesar teater di RHUL yang juga ahli wayang Cirebon dan I Nyoman Sedana, gurubesar teater tradisi di ISI Denpasar. Bukan kali pertama Pusat Kajian Musik, Tari, dan Drama di RHUL ini menyajikan karya kolaboratif yang menggabungkan berbagai bentuk seni tradisional dari berbagai belahan dunia.

Tahun 2017 lalu, Pusat yang dipimpin oleh Matthew Cohen ini menampilkan pertunjukan kolaborasi seni Sunda, Jepang, Turki, India, dan Inggris. Hasilnya menjadi sebuah tontonan yang unik dan sangat menarik. Matthew Cohen menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa kombinasi seni musik dan drama dari sumber manapun bisa diolah menjadi sebuah karya yang unik dan bisa dinikmati.

Pementasan wayang Bali di RHUL kali ini tidak terlepas dari adanya program residensi seniman tradisional yang dirancang di kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London. Setelah menuai sukses gemilang pada permulaan penyelenggaraan program residensi pada tahun 2017, kantor Atdikbud KBRI London kembali menyelenggarakan program yang sama di tahun 2018. Kali ini, diundang juga seorang ahli drama dan wayang Bali, I Nyoman Sedana, gurubesar drama di ISI Denpasar. IN Sedana sudah memulai program ini sejak awal tahun 2018 dan bekerja sama dengan Jurusan Drama di Pusat Kajian Musik, Tari, dan Drama, RHUL. Dalam pandangan Sedana, program residensi seperti yang akan dilakoninya sampai akhir Maret 2018 nanti itu merupakan sebuah bentuk penguatan terhadap keberadaan seni tradisional Indonesia yang telah lama dan banyak dipelajari oleh warga Inggris khususnya. “Dengan demikian, para seniman dan pelajar di mancanegara dapat terus belajar dari ahli-ahli dari daerah asalnya, sesuai dengan pakem-pakem yang melekat kepada seni itu sendiri”. Kehadiran pakar drama seperti Sedana ini memang menjadi nilai tersendiri bagi para pelajar dan dosen di Jurusan Drama RHUL. Sietske Rijkema yang tampil jadi dalang di malam itu menuturkan bahwa belajar langsung dari ahlinya memberikan kesan dan nilai tersendiri, sebab bermain wayang bukan hanya urusan menggerakkan tokoh wayang untuk berpadu dengan musik pengiringnya, tapi juga justru memaknai nilai-nilai budaya asli tempat bermulanya seni itu sendiri.

Pada kesempatan tersebut, Atdikbud KBRI London, E. Aminudin Aziz menyatakan bahwa dari program residensi seniman yang telah memasuki tahun kedua ini selalu saja muncul hal baru yang di luar kebiasaan. Sehingga, seringkali materi sebuah pementasan menjadi sulit ditebak. “Karya seni kolaborasi para musisi di Inggris ini sangat unik, dan menjadi kekuatan mereka dalam menampilkan kepiawaiannya menjaga nilai-nilai tradisi di satu sisi dan kemampuan untuk terus berimajinasi dan berkreasi menciptakan hal-hal baru, di sisi lain”, jelas Aminudin. Salah satu buktinya, pertunjukan dua jenis kebudayaan Nusantara di RHUL itu, degung Sunda dan wayang Bali, telah membuktikan kekuatan nilai-nilai seni dari Indonesia ini, yang berhasil membuat para penonton tidak beranjak dari tempat duduknya sampai pertunjukan usai. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2018 ini, kantor Atdikbud KBRI London telah mencanangkan kedatangan sejumlah seniman residen untuk hadir di tengah-tengah masyarakat pegiat seni, para mahasiswa, dan masyarakat Inggris umumnya dan tampil dengan karya-karya yang bisa mengokohkan keberadaan Indonesia di Britania Raya dan Irlandia.

Pertunjukkan tradisional khas nusantara ini dimulai pada jam 19.30 waktu Britania Raya, dibuka oleh penampilan para mahasiswa Royal Holloway, University of London, memainkan lagu Jung Pung dengan menggunakan alat music Angklung Buncis dan langsung dilanjutkan dengan memainkan lagu Tepang Asih, Lalayaran, Sancang, Bendrong, dan Karatagan Pahlawan dengan alat music Gamelan Degung serta lagu Bendrong dengan menggunakan Gamelan Salendro. Setelah music Gamelan, pertunjukan pun dilanjutkan dengan pertunjukan Wayang Kulit yang berlatar cerita khas pulau Bali, Ramayana. Namun kali ini pertunjukan wayang Bali yang dibawakan oleh Matthew Cohen, Sietske Rijkema, dan Nyoman Sedana, menggunakan Bahasa Inggris dan sedikit mengambil beberapa tokoh pewayangan dari Jawa Barat, juga menggunakan alunan Gender Wayang dari Cirebon dengan lama pertunjukan kurang lebih satu jam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here