Begini Cara Teroris Mendoktrin Ekstremisme kepada Anak, Orangtua Wajib Waspada

0
242

ORANYENEWS- Maraknya terorisme di Surabaya dan Riau mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, bom bunuh diri kali ini melibatkan satu keluarga, perempuan, dan anak-anak. Ditambah lagi sangat sulit membedakan, siapa saja yang sudah terpapar paham terorisme. Tapi, setidaknya terdapat 4 ciri-ciri seorang anak sudah terpapar bibit-bibit paham ekstremisme.

Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati mengungkapkan setidaknya ada empat pola kelompok teroris melakukan doktrin kepada anak-anak mengenai paham ekstremisme.

1. Keluarga

Salah satu yang sulit dideteksi adalah ketika paham ekstremisme dianut kepala keluarga atau pasangan suami istri. Lalu, kemudian paham tersebut mereka tanamkan kepada anak-anak mereka sebagai satu-satunya jalan kebenaran.

Bahkan, demi mencegah anak-anak mereka dengan paham lainnya, orangtua tidak memberikan hak pendidikan kepada anak, dengan menyekolahkan anak mereka di sekolah umum.

Anak-anak hanya diberikan pendidikan di rumah oleh sang ayah atau ibunya, sembari menanamkan paham-paham radikalisme.

Hal ini terlihat dari tiga keluarga yang melakukan bom bunuh diri, keluarga Dita Oepriarto (bomber 3 gereja di Surabaya) , keluarga Anton Apriantono (bom meledak di rusun sendiri di Sidoarjo), Tri Murtiono (bomber Mapolres Surabaya).

Tapi, setidaknya ada perlawanan dari anak Anton Apriantono yang menolak ajaran sang ayah, pasalnya dia tinggal bersama neneknya, tidak seperti kakak dan dua adiknya.

2. Sekolah Formal

Orangtua wajib tahu pola pengajaran di sekolah tempat anak akan belajar. Rita mengatakan, orangtua wajib tahu apa yang diajarkan dan bagaimana metodenya. “Jangan asal percaya saja,” katanya.

Dalam penelitiannya, Rita mengaku mendapati dua sekolah swasta yang dalam pendidikannya menanamkan bibit-bibit terorisme, seperti tidak mengajarkan pancasila, nasionalisme. Namun, sebaliknya.

Lain itu, doktrin terorisme masuk melalui organisasi keagamaan sekolah seperti Rohis. Senior rohis sekolah tersebut biasanya menanamkan bibit-bibit ekstremisme saat pendidikan organisasi rohis di luar sekolah.

Dita Oepriarto menurut adik kelasnya dikenal sebagai siswa yang aktif di Rohis SMA 5 Surabaya.

3. Sekolah Informal

Tak hanya sekolah formal, sekolah informal seperti home schooling, kursus, dll juga patut diwaspadai menjadi ajang penanaman bibit terorisme.

Pasalnya, ditemukan fakta bahwa anak-anak keluarga terorisme tidak disekolahkan di sekolah formal melainkan di home schooling.

4. Terpapar sosial media

Di luar ketiga hal di atas, media sosial juga menjadi medium bagi anak-anak terpapar terorisme.

Rita Pradawati, Wakil Ketua KPAI, mengungkap bahwa dirinya mendapati temuan bahwa seorang anak yang berasl dari keluarga biasa, sekolah biasa, tapi kemudian terpapar terorisme sejak umur 5 tahun.

Anak tersebut ternyata sering membuka internet dan video, yang kemudian membawanya pada video mengenai kekejaman Israel kepada Palestina, lalu kemudian dia bergaul secara online dengan orang berpaham ekstremisme.

***
Sebab itu orangtua harus berhati-hati dan menjaga anak dengan baik. Jangan sampai di kemudian hari baru sadar bahwa anak Anda telah terpapar paham terorisme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here