Bibit Terorisme, Hasil Survei Mengungkap 58 Persen Aktivis Rohis Siap Jihad ke Suriah

0
191

ORANYENEWS- Terorisme sulit diberantas jika bibit-bibit indoktrinasi ekstremisme tidak juga diantisipasi. Salah satunya adalah hasil survei yang menunjukkan bahwa 58 persen aktivis Rohis (Rohanis Islam)  di sekolah ingin berjihad ke Suriah. Anak-anak tersebut ditengarai anak paling pintar di sekolahnya.

Demikian diungkap Direktur Wahid Institute Yenny Wahid dalam diskusi publik di kantor Wahid Institute, belum lama ini.

Menurut Yenny, data dari hasil survey 2 tahun lalu ini menjadi alarm, tanda bahaya bagi masyarakat Indonesia dan harus disikapi dengan pencegahan agar tidak semakin tergerus.

Namun Yenny mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menghakimi semua anak-anak Rohis demikian. Tetapi memang ada masalah dalam Rohis yang harus diselesaikan.

Survei tersebut dilakukan saat digelar acara kemah nasional yang diikuti seluruh Indonesia yang dilakukan Kementerian Agama.

“Ini kerja sama dengan Departemen (Kementerian) Agama dan kami membagikan kuesioner yang diisi anak-anak dari seluruh Indonesia ini,” jelasnya.

Yenny mengatakan persoalan ini harusnya menjadi perhatian serius pemerintah. Saat ini dia sudah melihat ada upaya dari pemerintah menyasar sekolah dan kampus-kampus.

“Sekolah harus mawas diri untuk mewaspadai agar kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler tak dijadikan ajang perekrutan radikalisme,” jelasnya.

Putri Presiden Abdurahman Wahid ini menyampaikan jika ada sekolah swasta yang terindikasi menjadi media penyebaran paham radikal, pemerintah harus segera masuk untuk menangkal. Salah satu caranya ialah pendekatan persuasif dan mengedepankan dialog dengan pengurus sekolah.

Kalau kemudian ternyata sekolah tersebut tidak sadar baru membuat rencana aksi untuk membangun kesadaran baru tentang NKRI. Kalau sekolah-sekolah itu secara sadar melakukan pelanggaran hukum, harus ditindak,” terangnya.

Kurikulum di sekolah, lanjut Yenny, harus fokus dalam mengajarkan kebhinekaan. Guru harus aktif menyisipkan nilai kebhinekaan bangsa dalam kegiatan belajar mengajar.

“Mereka bukan hanya belajar ilmu di sekolah tapi juga belajar nilai. Nilai-nilai itu yang secara aktif harus ditanamkan. Proses pembentukan nilai itu harus ada. Nilai kecintaan terhadap tanah air dan penghargaan terhadap kebhinekaan kita,” jelasnya.

Kemudian, kata Yenny, kualitas guru harus diperhatikan. Guru-guru harus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. “Kualitatif dan kuantitatif itu harus diperhatikan. Harus ada peningkatan kualitas guru itu jelas,” saran Yenny.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here