Teroris Wanita Lebih “Berdarah Dingin” Dibandingkan Pria

0
340

ORANYENEWS- Pelaku teroris wanita diketahui lebih memiliki lebih kuat, lebih berdedikasi, dan lebih berdarah dingin dibandingkan pria. Makanya, tak heran jika ada wanita atau seorang ibu berani membawa serta anak mereka dalam aksi gila, yaitu bom bunuh diri.

Psikolog Elizabeth Santosa mengutip Christian Lochte, Direktur Kantor Perlindungan Konstitusi Hamburg yang mengatakan bahwa dalam aspek dedikasi, keahlian dan kekejaman, pelaku teroris wanita dianggap lebih kuat, lebih berdedikasi, lebih berdarah “berdarah dingin” dan lebih tahan penyiksaan dibandingkan dengan pelaku teroris pria.

Hal ini dikarenakan kaum wanita memiliki keberanian yang tinggi saat terpojok dan keahlian untuk terlihat pasif dan agresif di saat yang sama.

Elizabeth melanjutkan, analisis yang dikemukan seorang kepala grup anti-teror di German yang telah menangkap teroris Red Army Faction (RAF). Dia menjelaskan bahwa pelaku kriminal wanita lebih bertahan dalam aksi ‘tutup mulut’ saat diinterogasi untuk tidak membocorkan informasi daripada teroris pria.

Sedangkan jika dilihat dari keahlian berperang, wanita dan pria dididik secara adil dengan beban latihan yang sama dalam pelatihan menggunakan senjata dan alat peledak (bom). Akibatnya, baik wanita dan pria memiliki tingkat keahlian yang relatif sama dalam melakukan serangan bom bunuh diri atau penggunaan senjata.

Sedangkan jika dianalisa dari pola pikir dan motivasi kaum wanita yang menjadi teroris, maka wanita memiliki kecenderungan menjadi sosok yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan pria.

“Wanita memiliki kemampuan dan dedikasi untuk tetap fokus (single-minded) tanpa terdistraksi hal lain mencapai satu tujuan akhir,” tulisnya.

Motivasi Wanita Jadi Teroris

Motivasi di balik wanita memutuskan untuk tergabung dalam organisasi teroris berbeda dengan laki-laki. Umumnya laki-laki tergiur dengan harapan “kekuasaan dan kejayaan (power & glory)”. Sedangkan wanita menurut Deborah M. Galvin (1983) dalam artikel yang berjudul “The female Terrorist: A Socio-Psychological Perspective” memiliki motivasi yang lebih idealis seperti ketertarikan akan harapan dan janji masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka.

Selain itu teroris wanita tergiur akan pemenuhan kebutuhan yang sulit tercapai sebelum bergabung dengan organisasi teroris. Pemikiran ini menjadi dasar pemikiran para teroris wanita yang rela melakukan aksi bom bunuh diri dengan membawa anaknya turut serta. Pelaku wanita sebagai ibu memiliki keterikatan emosional yang tinggi dengan anak kandungnya sehingga merasa bertanggungjawab untuk tidak meninggalkan anaknya hidup sebatang kara.

Perilaku serupa dilakukan oleh Magda Goebbles, istri seorang pejabat Nazi dijaman Hitler saat mengalami kekalahan perang. Goebbles memiliki 5 anak perempuan dan 1 anak laki-laki pada tanggal 1 Mei 1945. Keenam anak dibunuh oleh Magda dengan cara memasukan sianida kedalam mulut anak-anak dalam keadaan terbius penenang. Baru kemudian setelah keenam anak tersebut meninggal, Magda dan suaminya Joseph Goebbels melakukan aksi bunuh diri dengan menelan sianida bersama.

Alasan yang dikemukakan oleh Magda sebulan sebelum ia menghabisi nyawa keenam anaknya adalah harapan akan reinkarnasi suatu kehidupan anak-anak yang lebih baik di masa depan atau alam lain. Magda juga mengemukakan alasan dirinya tidak sanggup meninggalkan anak-anaknya hidup menderita tanpa orangtua dan mendapatkan perlakuan buruk semasa hidup.

Faktor lain yang dapat menjadi motivasi bagi wanita untuk tergabung dalam organisasi teroris adalah alasan ikatan pernikahan dimana suami turut bergabung dalam organisasi yang sama. Dimana peran istri dalam nilai budaya tertentu (Indonesia, Jepang, dsb) yaitu mematuhi keputusan suaminya sebagai kepala dalam keluarga yang memiliki kedaulatan penuh dan tidak memiliki otoritas untuk pengambilan keputusan secara mandiri. Faktor ini dapat saja dijadikan alasan yang kuat dalam menganalisa  motivasi keterlibatan kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh Ayah-Ibu-Anak yang mengguncang Surabaya di tiga gereja pada hari Minggu 13 Mei 2018.

Ada pun faktor lain yang dapat memotivasi peran wanita menjadi teroris adalah kebutuhan akan kasih sayang dan dukungan emosional dan rasa persaudaraan yang didapatkan dari sesama anggota lain dalam organisasi tersebut,

Ideologi feminisme juga dapat menjadi alasan motivasi dibalik maraknya kaum wanita yang tergabung dalam organisasi teroris. Banyak diantaranya berasal dari lingkungan masyarakat dengan nilai budaya bahwa kaum wanita dipandang lebih rendah secara martabat dari kaum pria; mendapat tekanan (fisik, seksual dan mental) dan ketidaksetaraan hak dengan kaum pria; belum terlaksana nya perlindungan hukum terhadap kaum wanita dari kekerasan dan kejahatan.

Hukuman Bagi Teroris Wanita

Ditinjau dari aspek hukum, apakah seorang ibu kandung dianggap bersalah dalam tindakan bunuh diri dengan mengikutsertakan anak-anaknya dilandaskan suatu idealisme tertentu ?

Of course. This is a serious crime! Dalam Undang-undang Perlindungan Hak Anak no 23 tahun 2003 RI pasal 1 ayat (2) bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, berkembang secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Sedangkan dalam Undang-undang nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) mengemukakan bahwa orangtua/wali yang melakukan segala bentuk perlakukan buruk atau pembunuhan terhadap anak yang seharusnya dilindungi maka harus dikenakan pemberatan hukuman.

Jika dicermati lagi pemberatan hukuman dari undang-undang diatas tidak dapat lagi diberlakukan kepada orangtua sebagai pelaku pembunuhan anak  yang turut tewas bersama-sama. wong sudah jadi jasad, mana bisa diadili? Namun begitu tetap saja sosialisasi undang-undang perlindungan anak perlu digaungkan kepada semua orangtua di Indonesia sebagai tindakan PREVENTIF untuk STOP melakukan kekerasan, pelecehan, eksploitasi, penelantaran, internalisasi nilai-nilai (dogma) pendidikan yang bertentangan dengan kehidupan dan norma sosial yang berlaku, diskriminasi, melibatkan anak dalam politik, aksi demonstrasi, aksi huru-hara, dsb.

Seringkah anda melihat banyak orangtua yang masih menganggap bahwa anak adalah ‘kepemilikan’ orangtuanya dimana seringkali tindakan semena-mena terhadap anak kerap terjadi? Adanya pola pikir masyarakat bahwa orangtua yang sudah berjasa merawat, membiayai, membesarkan anak-anak nya memiliki hak ekslusif untuk bertindak sesuka hati terhadap anak adalah bentuk kesesatan logika. Setiap anak yang lahir dan menjadi bagian dari warga negara Indonesia memiliki perlindungan hukum dari pemerintah karena mereka merupakan ‘aset negara’ yang wajib dijaga dan dirawat sebaik-baiknya demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here