Anak-Anak Pelaku Teror di Surabaya, Disematkan Bom di Paha hingga Terpental Selamat

0
332

ORANYENEWS- Aksi teroris di Surabaya kali ini sungguh membuat geram semua pihak. Betapa tidak, anak-anak yang masih kecil, belum bisa menentukan pilihan secara mandiri, mereka ajak untuk melakukan aksi bunuh diri. Tercatat, 11 anak dari tiga keluarga teroris dilibatkan orangtua mereka yang berpaham ekstremisme.

Dari 11 anak tersebut, 7 orang meninggal dunia, 3 dirawat, dan 1 orang selamat.

Dimulai dari keluarga Dita Supriyanto, Ketua JAD Surabaya, organisasi pendukung ISIS, beserta istrinya Puji Kuswati yang mengikutsertakan 4 anak mereka dalam aksi mengebom 3 gereja di Surabaya.

Bermula Dita Supriyanto membawa motor membawa istri dan dua anak wanitanya yang masih kecil, Fadhila Sari (12) dan Pamela Riskita (9). Ketiganya diturunkan di Gereja Kristen Indonesia (GKI).

Saat dicegat pihak keamanan, Puji Kuswati Kuswati mengajak anaknya berlari ke dalam gereja, lalu meledakkan diri. Kedua anaknya juga langsung tewas di lokasi, polisi saat itu menemukan masih ada bom aktif disematkan di paha salah satu anaknya. Yang kemudian dilepas dan diledakkan di lokasi aman.

Anaknya yang lain Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16) berboncengan sepeda motor menuju Gereja Santa Maria dan meledakkan bom di sana, setelah dihentikan di pos penjagaan.

Sang ayah meledakkan diri di dlm mobil berisi bom di Gereja Pantekosta.

Keluarga yang kedua adalah Anton Febriantono di rusun Sidoarjo. Malam setelah peristiwa bom gereja, Anton tengah menyiapkan bom rakitan mereka, tapi malah meledak di rusun yang mereka tempati.

Tak hanya Anton (47), Puspita Sari (47), sang istri dan anak sulung mereka PR (17) meninggal di tempat. Anak mereka lainnya FP (11) dan GA (10) mengalami luka, dan sang kakak AR (15) selamat dan membawa kedua adik mereka ke rumah sakit.

Keluarga ketiga adalah pelaku peledakan di Mapolrestabes Surabaya, sehari setelah peristiwa. Keluarga yang tinggak di Jalan Tambak Medokan Ayu Surabaya itu adalah Tri Murtiono (49), Tri Ernawati (42), Muhammad Daffa Anin Murdana (18), MDS (15) dan AA (8).

Keluarga ini mengendarai dua unit motor dipimpin sang ayah Tri Murtiono kemudian meledakkan diri di depan Mapolrestabes, anak bungsu mereka terpental saat ledakan, kemudian diselamatkan polisi saat berdiri sambil terhuyung.

Hingga berita ini dimuat, 4 anak keluarga teroris selamat dan polisi menegaskan bahwa keempat anak ini bukanlah pelaku, melainkan korban dari doktrinasi orangtua mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here