Dukung Aksi Teroris di Sosmed, 2 Ibu di Aceh dan Kalimantan

0
183

ORANYENEWS- Penyisiran polisi terhadap kegiatan terorisme tidak hanya dilakukan secara offline, tapi juga online. 2 orang ibu rumah tangga di Aceh dan Kalimantan ditangkap karena pernyataannya yang mendukung aksi terorisme. Bahkan, menyebut darah kafir halal ditumpahkan.

WF (37) adalah seorang ibu rumah tangga di Banda Aceh, awalnya dia membagikan sebuah posting-an terkait kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Dalam status yang dibagikannya tersebut, ada seorang netizen berkomentar dan memberi tahu terjadi ledakan bom di Gereja Santa Maria, Ngagel, Surabaya.

Bukannya mengutuk aksi bejat tersebut, WF malah membalas komentar dari netizen tersebut dengan kata sara “memang halal darah orang kafir“. Mendapat informasi tersebut, Polisi melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap pelaku di Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh.

Kemudian, dari penangkapan polisi menyita satu unit telepon genggam yang diduga digunakan untuk menulis komentar tersebut. Barang bukti dan pelaku kini diamankan di Mapolda Aceh untuk menjalani pemeriksaan.

“Pasal yang dipersangkakan kepada pelaku meliputi Pasal 45A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 sesuai dengan UU RI No. 19/2016 perubahan atas UU RI No. 11/2008 tentang ITE,” ungkap Kabid Humas Polda Aceh Kombes Misbahul Munauwar.

Sebelumnya, perempuan berinisial FSA juga ditangkap polisi lantaran menyebut tragedi serangan bom di Surabaya sebagai pengalihan isu pemerintah. FSA diciduk di sebuah rumah kos, Jl Sungai Mengkuang, Desa Pangkalan Buton, Sukadana, Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Kabid Humas Polda Kalimantan Barat Kombes Nanang Purnomo mengatakan saat ini FSA masih menjalani pemeriksaan oleh petugas dan kasusnya akan diserahkan penyidik Polres Kayong Utara kepada Polda Kalimantan Barat.

FSA ditangkap pada Minggu (13/5) pukul 16.00 WIB oleh personel Satuan Reskrim Polres Kayong Utara. Dalam akun Facebook-nya, FSA menulis status analisisnya, yaitu tragedi bom Surabaya adalah rekayasa pemerintah.

“Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sekali ngebom: 1. Nama Islam dibuat tercoreng ; 2. Dana trilyunan anti teror cair; 3. Isu 2019 ganti presiden tenggelam. Sadis lu bong… Rakyat sendiri lu hantam juga. Dosa besar lu..!!!” begitu tulis FSA, sebagaimana dikutip dari akun Facebooknya

FSA juga menulis status tragedi Surabaya sebuah drama yang dibuat polisi agar anggaran Densus 88 Antiteror ditambah.

“Bukannya ‘terorisnya’ sudah dipindahin ke NK (Nusakambangan)? Wah ini pasti program mau minta tambahan dana anti teror lagi nih? Sialan banget sih sampai ngorbankan rakyat sendiri? Drama satu kagak laku, mau bikin draama kedua,” tulis FSA lagi.

Dari tangan FSA, polisi menyita satu unit ponsel Samsung J3.

Pelaku diancam dengan  Pasal 28 ayat 2 UU Informasi dan Transaksi Elektronik yang isinya:

(Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here