Aktif di Rohis SMA & Sering Baca Sabili, Benih Ekstremisme Dita Oepriarto Tertanam Sejak 30 Tahun Lalu

0
466

SURABAYA- Dita Oepriarto menjadi sosok yang paling dibicarakan saat ini, pasalnya pimpinan JAD Surabaya tersebut membawa satu keluarganya, istri dan empat anaknya, untuk melakukan aksi bom bunuh diri di 3 gereja di Surabaya.

Ternyata, benih-benih ekstremisme Dita Oepriarto sudah tertanam sejak menjadi aktivis Rohis di SMA 5 Surabaya.
Masa lalu bomber 3 gereja Surabaya itu diungkap adik kelasnya di SMA 5 Surabaya bernama Ahmad Faiz Zain melalui akun facebooknya.

Ahmad Faiz menceritakan bahwa Dita adalah kakak kelasnya lulusan 1991 dari SMA Surabaya. Saat mendengar Dita membawa anggota keluarganya melakukan bom bunuh diri, Ahmaz Zain tidak terlalu kaget. Pasalnya, dia sudah memiliki kekhawatiran sejak 25 tahun yang lalu, dan kini kekhawatirannya menjadi kenyataan.

Dalam tulisan bertajuk “Dari Islam Muram dan Seram, Menuju Islam Cinta nan Ramah”, Ahmad Faiz menceritakan bagaimana aktivitas Rohis di sekolah, SMA 5 Surabaya, berikut petikan-petikannya:

Saat saya SMA dulu, saya suka belajar dari satu pengajian ke pengajian, mencoba menyelami pemikiran dan suasana batin dari satu kelompok aktivis islam ke kelompok aktivis islam yg lain. Beberapa menentramkan saya, seperti pengajian “Cinta dan Tauhid” Alhikam, beberapa menggerakkan rasa kepedulian sosial seperti pengajian Padhang Mbulan Cak Nun. Yg lain menambah wawasan saya tentang warna warni pola pemahaman Islam dan pergerakannya.

Diantaranya ada juga pengajian yg isinya menyemai benih2 ekstrimisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang2an. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi islam garis keras.

Bahkan ketua Rohis saya di buku Agendanya menyebut profesi dirinya bukan pelajar SMA, tapi Mujahid. Karena memang saat itu majalah Sabili sangat laris di sekolah kami.

Isinya banyak menampilkan secara Vulgar pembantaian etnis muslim Bosnia oleh Serbia. Dan ini dijadikan pembakar semangat anak2 muda jaman saya waktu itu untuk menjadi “mujahid2 pembela islam”, beberapa akhirnya berangkat beneran ke medan perang.

Dari pengalaman menjelajah berbagai versi pemikiran dan aktivis islam dari yg paling radikal sampai liberal itu, dari sunni, sufi, wahabi, syiah, NII, dll itu, saya menyadari walaupun Islam ini mestinya satu, tapi ada banyak versi cara orang memahaminya, sehingga melahirkan banyak versi ekspresi keislaman dan pola tindakan.

Dan dari semua versi tadi, yg paling saya khawatirkan adalah versi kakak kelas saya mendiang Dita Supriyanto yg jadi ketua Anshorut Daulah cabang Surabaya ini. Saya sedih sekali akhirnya ini benar2 terjadi, tapi saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak “jihad” dia, karena benih2 ekstrimisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu.

Dia juga teringat ketua rohisnya saat itu, yang menolak ikut upacara bendera karena menganggap hormat bendera adalah syirik, ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

Akibatnya, setiap upacara dia tidak pernah ikut dan memilih untuk I’tikaf di musalla sekolah. Ahmad Faiz mengaku saat malas upacara, ikut-ikutan I’tikaf di masjid dan mendengarkan siraman rohaninya.

Kakak kelasnya itu, pernah dipanggul guru BK sekolah untuk diajak diskusi. Namun, karena sudah tertancap kuat, seribu nasehat pun tidak masuk ke hati.
Dan Akhirnya pihak sekolah menyerah, toh dia tidak bertindak anarkis, bahkan terkenal cerdas, lemah lembut dan baik hati.

Akhirnya Ketua rohis saya ini tiap upacara bendera i’tikaf di mushola sekolah. Btw kadang saya kalau lagi males upacara, ikut menemani dia di mushola dan ikut mendegarkan siraman rohaninya. Dan yg seperti ketua rohis saya ini tidak hanya di SMA 5, tapi yg saya tahu ada di hampir semua SMA dan kampus di surabaya atau bahkan di seluruh Indonesia.

Tak hanya di SMA, Ahmaz Faiz, saat kuliah di Unair juga pernah mengikuti sebuah kegiatan yang hampir mirip, yang saat rihlah, mereka harus menutup mata, mendapat doktrin hingga akhirnya berlatih perang-perangan.

Menurutnya, hal ini adalah bibit-bibit terorisme sejak di bangku pendidikan, yang di kemudian hari akhirnya menjadi masalah bagi bangsa ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here