Rubrik Hukum: Ibu Menikah Lagi Terancam Kehilangan Hak Asuh Anak

0
56
Ilustrasi perebutan hak asuh anak.

ORANYENEWS- Kumbang dan Mawar (bukan nama sebenarnya) semula pasangan suami istri yang telah memiliki 2 orang anak perempuan masih di bawah umur. Namun di usia tahun ketiga, perkawinan mereka kandas diterpa badai, yang berujung pada perceraian di Pengadilan Agama. Selain memutus perceraian, Hakim Pengadilan Agama dalam putusannya menetapkan hak asuh atas 2 orang anak mereka berada dalam pengasuhan (hadhanah) Mawar selaku ibunya. Alasannya, karena kedua anak belum berusia dewasa (mumayyiz). Meskipun Kumbang selaku ayah telah memohon kepada hakim agar ia diberikan hak untuk mengasuh 2 anaknya, namun hakim tetap kukuh, menolak keinginan Kumbang.

Selang 2 tahun bercerai dengan dasar putusan yang telah berkekuatan hukum tetap. Mawar ternyata telah menikah dengan pria lain. Begitu pula dengan Kumbang, yang juga telah menikah dengan perempuan lain. Namun Kumbang gelisah. Ia tak rela anak-anaknya berada dalam pengasuhan seorang pria dewasa yang bukan ayah kandungnya, melainkan hanya sebagai ayah tiri.

Pak Kumbang menghubungi penulis, dan bertanya, apakah ia masih punya hak untuk meminta hak asuh anak dengan alasan Bu Mawar telah menikah dengan pria lain.

Ini yang penulis jelaskan kepada pak Kumbang.

Pada prinsipnya penyelesaian masalah atas hak asuh anak harus memperhatikan kepentingan anak. Terlebih anak yang belum usia dewasa atau mumayyiz, hukum Islam yang berlaku di Indonesia telah memberikan hak kepada ibunya untuk mengasuh. Sebagaimana ini ditegaskan dalam pasal 156 hurup a Kompilasi Hukum Islam (KHI). Dengan dasar pasal ini, banyak hakim di Pengadilan Agama menolak permohonan ayah untuk mendapatkan hak asuh anaknya yang belum dewasa/mumayyiz.

Akan tetapi dalam praktik di pengadilan agama, dalam memeriksa dan memutus perkara hadhanah hakim tidak hanya berdasarkan pada KHI, tetapi juga berdasarkan pada Kitab-kita Fiqh karya para ahli hukum Islam (fuqoha). Antara lain mengutip pendapat dalam Kitab Kifayatul Akhyar Juz II halaman 94 yang menyebutkan:

“Syarat-syarat bagi orang yang akan melaksanakan tugas hadhanah (memelihara anak) ada tujuh macam, (1). Berakal Sehat, (2). Merdeka (bukan budak), (3). Beragama Islam, (4). Memelihara Kehormatannya, (5). Amanah (dapat dipercaya), (6). Tinggal di Kota/ Desa tertentu, (7) Tidak bersuami baru.”

Juga bersandar pada Kitab Almajmu karya Imam al-Nawawi yang menyatakan:

“Hak pengasuhan anak tidak bisa dimiliki oleh seorang mantan istri yang telah menikah lagi, atas dasar hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amr bin al-’Ash, yaitu ada seorang wanita berkata kepada Nabi SAW bahwa sungguh anakku ini akulah yang mengandungnya, akulah yang menyusuinya, aku lah yang mengasuhnya, tiba-tiba bapak anak ini menceraikan aku bahkan ia ingin memisahkan anak ini dariku, maka Rasulullah SAW bersabda, kamu jelas lebih berhak untuk mengasuh anak kamu itu, selama kamu belum menikah. Di samping itu, sesungguhnya seorang mantan istri yang telah menikah lagi dengan pria lain sebagai suami baru akan sibuk mengurus dan melayaninya, hingga kewajiban mengasuh anak-anak dapat terabaikan.” (al-Majmu’ Jilid 19, hlm 131)

Penulis pernah mempertanyakan apa kiranya hal yang mendasari sebab mengapa ibu (mantan istri) yang sudah bersuami baru lagi bisa kehilangan haknya untuk mengasuh anak. Pertanyaan penulis dijawab oleh Dr Nurul Irfan, ahli hukum Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saat memberikan keterangan keahliannya di muka persidangan, dengan jawaban berikut:

“Dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adilatuhu karya Prof Wahbah az-Zuhaili, dibahas mengenai mantan istri yang telah bersuami baru, yaitu dimana jika mantan istri telah menikah dengan pria lain, maka ia tidak layak lagi mengasuh anaknya, sebab akan terbagi kasih sayangnya dengan suami yang sekaligus ayah tirinya (hal ini berbeda dengan kondisi mantan suami yang sekaligus sebagai ayah kandung anak-anak tersebut. Ia tidak akan takut dengan istri barunya seperti mantan istri yang bisa takut dengan suami barunya ketika lebih cenderung melayani anak daripada suami). Karenanya hak hadhanah gugur bila mantan istri, murtad, berbuat dosa besar seperti zina, menjadi penyanyi (dalam hiburan malam), pencuri, pengumpat, atau sifat-sifat lain yang mengarah kepada sikap tidak amanah, seperti selalu keluar rumah dan membiarkan anak-anaknya terlantar.”

Di samping itu, menurut Dr Nurul Irfan, secara logika jika seorang istri telah menikah, ia akan sangat terikat dengan kewajiban khidmat kepada suami, sebagai mana sabda Nabi: “Jika saja saya boleh memerintahkan seseorang agar sujud kepada orang lain, maka sungguh yang akan pertama kali saya perintahkan sujud adalah seorang istri kepada suami (Hadist Riwayat. al-Tirmidzi)”

Bahkan Nabi SAW bersabda: “Demi Allah, tidaklah seorang suami yang mengajak istrinya untuk berhubungan badan, lalu istri itu enggan, (akibat telah kelelahan mengasuh anak), kecuali semua makhluk dan Allah yang dilangit membenci istri itu hingga sang suami rela (Hadist Riwayat Muslim).”

Oleh sebab itu wajar jika pada saat mantan istri telah menikah lagi dengan lelaki lain lalu gugur hak hadhanahnya.

Atas penjelasan penulis di atas, pak Kumbang mempertimbangkan untuk menempuh upaya musyawarah mufakat terlebih dahulu dengan pihak mantan istri (Mawar) untuk menyelesaikan masalah hak pengasuhan kedua anaknya.

Ditulis oleh:
Irfan Fahmi SHI SH MH)
(Advokat anggota Asosasi Pengacara Syariah Indonesia)

Konsultasi hub: 0816920711

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here