Sejarah Resimen Cakrabirawa, Pasukan Pembunuh Para Jenderal G30S/PKI

0
2673
cakrabirawa
Presiden Soekarno di depan anggota Resimen Tjakrabirawa cikal bakal paspampres (foto : Istimewah)

Fakta sejarah resimen Tjakrabirawa, Inti Sejarah Paspampres Yang Terlibat Dalam G30S/PKI. Jika membicarakan tentang G30S/PKI, tentu yang ikut terbahas adalah Resimen Tjakrabirawa disebut sebagai pasukan yang menculik dan membunuh enam Jenderal Besar TNI AD.

Resimen Tjakrabirawa itu sendiri merupakan pasukan khusus cikal bakal terbentuknya Paspampres sekarang ini. Lalu bagaimana bisa pasukan yang seharusnya membela negara namun ikut terlibat pada kejadian G30S/PKI ?

Sejarah Resimen Cakrabirawa

Dari berbagai sumber sejarah, Resimen Tjakrabirawa merupakan pasukan yang terbentuk dari TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI AU, ditambah dari kepolisian Indonesia yang pada jamannya menjandi pasukan keamanan Presiden dari acaman sejak pemerintahan Soekarno.

Sebelumnya Resimen Tjakrabirawa dipimpin oleh Brigadir Jenderal Moh. Sabur diera Soeharto Resimen Tjakrabirawa sempat dibubarkan dan para anggotanya dipulangkan ke masing masing satuanya.

Namun pada akhirnya sempat dibentuk lagi dan diubah namanya menjadi Pasukan Pengaman Presiden atau yang sekarang ini dikenal dengan nama Paspampres.

Kata Tjakrabirawa sendiri merupakan senjata pamungkas milik Prabu Kresna yang memiliki kekuatan yang sangat besar untuk memusnahkan musuh. Dari sinilah dikenal nama Resimen Tjakrabirawa sebagai pasukan khusus untuk mengamankan keselamatan Presiden.

Pembentukan pasukan ini awal mulanya karena Presiden saat itu, Soekarno, sering sekali terjadi percobaan pembunuhan.

Itulah mengapa Panglima TNI saat itu, Jenderal A.H Nasution mengusulkan untuk pembentukan pasukan khusus untuk menangani masalah tersebut. Tahun 1962 mulai dikenal dengan nama Resimen Tjakrabirawa (Cakrabirawa) yang sudah disetujui juga oleh Presiden Soekarno.

Pada awal pembentukannya merekrut beberapa bekas pasukan Raider Angkatan Darat, Korps Komando Angkatan Laut, Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara, dan Brigade Mobil dengan nama Batalyon KK dengan nomor urut masing-masing antara I sampai IV.

Dalam otobiografi dari Soekarno memang pasukan tersebut dibentuk dari anggota yang sangat handal terbagi dari empat pasukan besar. Dengan latar belakang tersebut kekuatan dari Resimen Tjakrabirawa sudah tidak diragukan lagi pada zaman dulu kala.

Empat Batalyon yang dibagi pada dua tempat yaitu Batalyon I dan II bertugas di Jakarta dan Batalyon III dan IV menjaga Istana Bogor, Cipanas. Jogja, dan Tampaksiring (Bali). Dari pembagian tugas, Markas dari Batalyon I KK berada di Jalan Tanah Abang yang sekarang ini menjadi markas besar Paspampres.

Pada saat peristiwa besar G30S/PKI dimulai, pasukan ini disebut-sebut sebagai pelaku penculikan terhadap enam Jenderal Besar TNI AD. Namun yang menjadi faktanya hanya ada beberapa oknum dari pasukan Resimen Tjakrabirawa yang ikut serta dalam G30S/PKI.

Beberapa anggota yang sudah terbukti terlibat Gerakan 30S/PKI sudah dijatuhi hukuman mati termasuk Kolonel Untung yang menjadi pemimpin dari gerakan penangkapan dan pembunuhan para jenderal.

Ada dua nama besar dari Resimen Tjakrabirawa yang ikut serta dalam peristiwa G30S/PKI yaitu Letnan kolonel Untung bin Syamsuri yang berperan sebagai komandan G30S/PKI dari Batalyon I dan Letnan Satu Doel Arif sebagai komandan regu G30S/PKI yang menculik dan membunuh enam Jenderal TNI AD.

kolonel untung
Letkol Untung Syamsuri dibawa ke Mahmilub atas (tuduhan) keterlibatannya dalam G30S

Menurut sejarah ada tujuh orang yang diincar oleh PKI ini namun hanya 6 yang berhasil dibunuh. Seorang Jenderal A.H Nasution yang berhasil lolos dan memberitakan pada militer untuk mulai menumpas gerakan 30 September tersebut.

G30S/PKI memiliki dasar bahwa setiap tanah dari negara merupakan hak dari para petani, yang kemudian bisa mengambil hati sebagian masyarakat untuk ikut serta dalam peristiwa tersebut.

Dari konflik kecil itulah yang menjadi awal kemunculan peristiwa besar G30S/PKI. Militer Indonesia langsung memburu dalang dari PKI ke berbagai daerah dan membasmi masyarakat yang ikut serta membela gerakan PKI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here