Cerita Halim Ambiya Mengajak Anak Punk Mengenal Tuhan

0
111

ORANYENEWS- Berdakwah di masjid sudah biasa, bagaimana dengan berdakwah di kolong jembatan di hadapan puluhan bahkan ratusan anak punk jalanan. Begitulah yang dijalani Halim Ambiya, Pendiri Tasawuf Underground.

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1994 itu sudah menjalani “tugasnya” sejak tiga tahun lalu. Hingga kini, sudah ratusa anak punk yang berhasil dia didik dan mendekat kepada agama.

Halim pun menceritakan pengalamannya dalam acara Kongkow Bareng Alumni UIN di Taman Kreatif Teater Syahid UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Selasa 29 Januari 2019.

“Agama itu mudah, agama bisa bisa dicerna bukan hanya untuk kalangan terdidik saja,” katanya.

Halim bercerita bahwa dirinya tidak memiliki energi yang berat. Pada dasarnya menjadi anak jalan bukanlah sebuah pilihan. Yang menjadi objek adalah anak Punk Street atau Punk Jalanan. Karena banyak juga anak punk dari kalangan berada.

“Pada dasarnya siapapun dia, butuh sahabat. Ketika kita datang sebagai sahabat yang tulus, kita akan diterima. Selesai masalah,” katanya.

Menurut Halim selama ini masjid menjadi tempat yang ‘sakral’ sehingg tidak bisa menyentuh mereka. “Pernah anak punk baru mau belajar berwudhu dan salat di masjid, malah dicurigai mau mencuri sandal,” katanya.

Padahal, mereka hadir di jalanan karena kejahatan orangtua, mereka yang broken home. “Mereka menyaksikan konflik orangtua mereka, bahkan ada juga yang hidup di halte sejak masih kecil, tidak punya orangtua,” katanya.

Halim juga dalam kesempatan itu menyindir alumni pesantren kemudian kuliah di UIN yang mungkin merasa lebih khusyuk dibanding anak punk saat berdzikir. “Jangan salah, walau mereka baru pertama kali diajarkan berdzikir tapi mereka bisa lebih khusyuk dibandingkan Anda,” katanya.

Anak Punk Nangis Saat Dzikir

Dalam kesempatan itu, salah satu anak punk bernama Willy bercerita pengalamannya ikut berdzikir berama Tasawuf Underground. Willy yang sejak SMP berada di jalanan menjadi anak punk ini bercerita sebenarny banyak sekali kelompok yang mengajak anak jalanan mengaji. “Tapi kami sempat ragu karena mereka jenggotan dll, nanti dikira teroris,” katanya, makany awalnya dia tidak mau ikut ajakan-ajakan mengaji.

Tapi, saat dirinya diajak mengaji bersama anak punk lain di kolong jembatan Tebet, dia melihat ada suatu yang berbeda. Tidak hanya diajari mengaji, tapi juga diajarkan memberdayakan ekonomi, agar tidak kembali lagi ke jalanan. “Kami diajarkan banyak hal, dari tanaman organik hingga membuat sablon kaos. Kini kami sudah memproduksi kaos bertema ‘Genggamlah dunia di tanganmu, bukan di hatimu’. Kaos itu sudah dijual hingga ke Jepang,” katanya dengan bangga.

Dia mengartikan tulisan tersebut, mengapa dunia cukup di tangan, karena hati untuk masa depan di akhirat nanti.

Willy pun bercerita dia dan teman-temannya, pernah diajak berzikir di Masjid Al Mubarak di Rawamangun. Saat itu, saking khusyuknya mereka pun menangis. “Tato boleh bleber di sekujur badan, tapi kalau sudah dzikir, karena terbawa suasana. Jadi menangis,” urainya sambil tersenyum.

Sampai dia dan teman-temannya ketagihan diajak Halim yang disebutnya sebagai ustadz gaul untuk berdzikir. “Kapan lagi kita dzikir ustadz,” pintanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here