7 Fakta Yudi Latif Mundur dari BPIP

0
114

ORANYENEWS- Kepala Badan Pembinaa Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif memberikan pengumuman mengejutkan. Dia mengundurkan diri dari badan yang sudah dipimpinnya sejak setahun lalu.

Pengunduran diri Yudi Latif dituangkan di dalam sebuah surat yang diposting di akun Facebooknya dan tersebar ke grup whatsapp sejak pagi tadi.

Dari surat tersebut setidaknya terdapat 5 catatan penting. Berikut catatannya:

1. Hadir di Waktu Tak Tepat

Yang dimaksud dengan poin ini bukan berarti lembaga ini tidak penting, namun pembentukannya di waktu tak tepat.

Lembaga yang awalnya bernama UKP-PIP (Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila) ini dibentuk 7 Juni 2017, mendekati waktu libur Lebaran. Sehingga lembaga ini belum dapat bekerja efektif setelah dilantik.

3 Deputi yang bekerja di bawah Yudi Latif juga baru dilantik pada Juli 2017. Belum lagi tenaga lainnya yang bekerja secara operasional di lembaga tersebut.

2. Kendala Anggaran

Dibentuknya BPIP (UKP-PIP) di waktu anggaran APBN 2017 sudah berjalan, sehingga lembaga tersebut harus mengajukan anggaran lewat APBNP dan menginduk kepada lembaga Sekretaris Kabinet.

Selanjutnya, anggaran baru turun pada awal November, sedangkan penggunaan anggaran kementerian/lembaga harus berakhir 15 Desember, sehingga hanya sisa waktu 1 bulan bagi Yudi Latif dkk untuk menggunakan anggaran.

Ditambah lagi anggaran dari APBN 2018 hingga hari ini belum juga turun.

3. Tidak Punya Kewenangan Eksekusi

Berdasarkan Perpres lembaga UKP-PIP (BPIP) hampir tidak memiliki kewenangan eksekusi secara langsung. Apalagi dengan anggaran yang menginduk pada salah satu kedeputian di Seskab, kinerja UKP-PIP dinilai dari rekomendasi yang diberikan kepada Presiden.

4. Pembentukan Badan

Kemampuan mengoptimalkan kreasi tenaga pun terbatas. Setelah setahun bekerja, seluruh personil di jajaran Dewan Pengarah dan Pelaksana belum mendapatkan hak keuangan. Mengapa? Karena menunggu Perpres tentang hak keuangan ditandatangani Presiden. Perpres tentang hal ini tak kunjung keluar, barangkali karena adanya pikiran yang berkembang di rapat-rapat Dewan Pengarah, untuk mengubah bentuk kelembagaan dari Unit Kerja Presiden menjadi Badan tersendiri. Mengingat keterbatasan kewenangan lembaga yang telah disebutkan. Dan ternyata, perubahan dari UKP-PIP menjadi BPIP memakan waktu yang lama, karena berbagai prosedur yang harus dilalui.

5. Tetap Bekerja Walau Terkendala

Dengan mengatakan kendala-kendala tersebut tidaklah berarti tidak ada yang kami kerjakan. Terima kasih besar pada keswadayaan inisiatif masyarakat dan lembaga pemerintahan. Setiap hari ada saja kegiatan kami di seluruh pelosok tanan air; bahkan seringkali kami tak mengenal waktu libur. Kepadatan kegiatan ini dikerjakan dengan menjalin kerjasama dengan inisiatif komunitas masyarakat dan Kementerian/Lembaga. Suasana seperti itulah yang meyakinkan kami bahwa rasa tanggung jawab untuk secara gotong-royong menghidupkan Pancasila merupakan kekuatan positif yang membangkitkan optimisme.

Eksistensi UKP-PIP/BPIP berhasil bukan karena banyaknya klaim kegiatan yang dilakukan dengan bendera UKP-PIP/BPIP. Melainkan, ketika inisiatif program pembudayaan Pancasila oleh lembaga kenegaraan dan masyarakat bermekaran, meski tanpa keterlibatan dan bantuan UKP-PIP/BPIP.

7. Regenerasi

Untuk itu, dari lubuk hati yang terdalam, kami ingin mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya atas partisipasi semua pihak dalam mengarusutamakan kembali Pancasila dalam kehidupan publik.

Selanjutnya, harus dikatakan bahwa transformasi dari UKP-PIP menjadi BPIP membawa perubahan besar pada struktur organisasi, peran dan fungsi lembaga. Juga dalam relasi antara Dewan Pengarah dan Pelaksana. Semuanya itu memerlukan tipe kecakapan, kepribadian serta perhatian dan tanggung jawab yang berbeda.

Saya merasa, perlu ada pemimpin-pemimpin baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Harus ada daun-daun yang gugur demi memberi kesempatan bagi tunas-tunas baru untuk bangkit. Sekarang, manakala proses transisi kelembagaan menuju BPIP hampir tuntas, adalah momen yang tepat untuk penyegaran kepemimpinan.

Pada titik ini, dari kesadaran penuh harus saya akui bahwa segala kekurangan dan kesalahan lembaga ini selama setahun lamanya merupakan tanggung jawab saya selaku Kepala Pelaksana. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati saya ingin menghaturkan permohonan maaf pada seluruh rakyat Indonesia.

Pada segenap tim UKP-PIP/BPIP yang dengan gigih, bahu-membahu mengibarkan panji Pancasila, meski dengan segala keterbatasan dan kesulitan yang ada, apresiasi dan rasa terima kasih sepantasnya saya haturkan.

Saya mohon pamit. “Segala yang lenyap adalah kebutuhan bagi yang lain, (itu sebabnya kita bergiliran lahir dan mati). seperti gelembung-gelembung di laut berasal, mereka muncul, kemudian pecah, dan kepada laut mereka kembali” (Alexander Pope, An Essay on Man).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here