Setahun Free Cargo Literasi, PT Pos Kirim 160 Ribu Ton Buku Secara Gratis

0
150

ORANYENEWS- Penyebaran pengetahuan yang belum merata, yang ditandai antara lain oleh keterbatasan akses atas buku di berbagai penjuru, adalah salah satu problem besar pembangunan SDM Indonesia. Sejak Mei 2017, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan PT Pos Indonesia mengirim buku gratis ke seluruh penjuru, setiap tanggal 17.

Buku yang terkirim, menciptakan benang imajiner yang terentang dari alamat pengirim ke alamat penerima, menyeret orang untuk lebih sungguh-sungguh membayangkan Indonesia.

Semakin banyak buku terkirim, semakin ketat benang-benang imajiner itu terbentuk, semakin rapat ikatan emosional kita pada sesama warga Indonesia. Gerakan pengerahan pengetahuan bermutu, yang saat ini masih mengambil bentuk Free Cargo Literacy (FCL), menumbuhkan nasionalisme baru berbasis ilmu pengetahuan.

Selain menyuburkan nasionalisme baru, Gerakan Pengerahan Pengetahuan Bermutu juga meningkatkan tolerasi dan memperbesar kemampuan warga untuk menyelesaikan konflik tanpa menggunakan kekerasan. Terorisme yang marak beberapa waktu yang lalu, yang telah menelan nyawa termasuk anak-anak, menegaskan bahwa gerakan pengerahan pengetahuan bermutu harus dikobarkan lebih besar lagi. Buku-buku bermutu harus dikirim lebih banyak. Gerakan literasi harus makin aktif membangun budaya kritis namun toleran pada perbedaan.

Terorisme dan intoleransi memang harus ditangkal lewat kerjasama antara negara dan masyarakat. Jika negara berusaha menangkal terorisme dengan kekuatan yang mereka punya (antara lain dengan mempercepat penerbitan UU Antiterorisme, misalnya), maka masyarakat berupaya menangkal terorisme, dan menyemarakkan toleransi, dengan terus mengirim buku ke seluruh Indonesia dan bergerak membawa buku-buku itu ke warga yang membutuhkan. Bergerak membawa buku mendatangi warga adalah cara yang efektif untuk berbagi rasa merdeka, membangun persaudaraan dan solidaritas di semua kalangan.

Perlawanan atas terorisme lewat kegiatan pengiriman buku bermutu, sangat tergantung pada dukungan PT Pos Indonesia.

Selama setahun perjalanan Free Cargo Literacy, PT Pos telah mengangkut paket buku sebanyak 25.580 koli, berat total 160,463 Ton dan menanggung biaya Rp 8.879.458.950 (data April 2018).

Melihat trend partisipasi masyarakat yang terus menanjak, jumlah paket dan beban biaya yang ditanggung oleh PT Pos di masa yang akan datang tentu juga akan meningkat.

Kepada Presiden Joko Widodo dan segenap jajaran PT Pos Indonesia yang telah mendukung gerakan pengiriman buku gratis ini, kami seluruh relawan bergerak, pegiat literasi dan dermawan buku, dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas sampai Rote, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Selain fasilitas pengiriman paket gratis yang disediakan PT Pos, unsur terpenting dalam gerakan ini adalah buku-buku bermutu, yang isinya membuka cakrawala pemikiran dan memperkokoh toleransi.

Karena itu, Pustaka Bergerak menyambut hangat tawaran rekan-rekan JK Institute for Youth Development, yang dipimpin Arief Rosyid Hasan, untuk mengirim paket buku ke ratusan simpul pustaka di seluruh Indonesia. Paket ini berisi sejumlah buku, antara lain “Pak JK dan Anak Muda” yang merupakan penghormatan kepada Bapak Jusuf Kalla, wakil presiden dua periode yang kerja dan pengabdiannya telah ikut membentuk sejarah mutakhir Indonesia. Kontribusinya di bidang perdamaian dan penyelesaian konflik menjelujur melampaui batas-batas Republik Indonesia.

Pengiriman paket dalam jumlah cukup besar ke seluruh Indonesia, telah cukup sering dilakukan sebelumnya. Kemkominfo sudah pernah membantu PBI mengirim paket seri buku “Anak Bertanya Pakar Menjawab” ke ratusan simpul pustaka. Keluarga Shihab juga pernah mengirim paket berisi buku-buku karya mereka ke ratusan komunitas. Tiga hari yang lalu, disaksikan oleh relawan Seknas Jokowi, kawan-kawan Go-Jo menyerahkan puluhan paket yang adalah pengiriman gelombang ketiga ke berbagai simpul di Indonesia.

Kelompok relawan seperti 1001 Buku, Katakan Dengan Buku, Buku Bagi NTT, Book for Papua, FTBM, Kuark, Majalah Cia, #AkuBaca Gramedia, dan lain sebagainya, masih terus berusaha mengumpulkan dan menyebarkan buku ke berbagai penjuru.

Semoga dengan semakin banyaknya buku-buku bermutu yang terkirim ke seluruh Indonesia, watak toleran dan imajinasi kritis masyarakat bisa berkembang semakin subur. Membangun toleransi dan memperkokoh budaya ilmiah, menentang terorisme dan meletakkan kemadirian sebagai puncak kemerdekaan, harus terus jadi pedoman bergerak seluruh relawan literasi di segenap penjuru Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here