Hari Perempuan Internasional, Masih Banyak Wanita Disabilitas Alami Kekerasan dan Diskriminasi

0
159
Peringatan Hari Perempuan Internasional

ORANYENEWS– Hari perempuan internasional yang jatuh pada 8 Maret diperingati setiap perempuan di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Koalisi perempuan disabilitas mengadakan sebuah festival satu hari yang diadakan pada 8 Maret di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Koalisi perempuan disabilitas diorganisir oleh Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) dan Perhimpunan Jiwa Sehat Indonesia (PJSI) dengan dukungan dari Disability Rights Fund (DRF) ingin meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan perempuan disabilitas melalui festival satu hari yang diadakan pada tanggal 8 Maret 2018 di Taman Ismail Marzuki.

Dalam rilis yang diterima Oranyenews disebutkan bahwa Festival ini bertujuan untuk mengkampanyekan perjuangan perempuan penyandang disabilitas untuk melawan stigma, diskriminasi dan kekerasan, agar perempuan disabilitas dapat hidup dan terlibat sepenuhnya di dalam masyarakat.

Sasaran khusus dari kampanye festival ini adalah:

  1. Mengawal RUU Penghapusan Kekerasan Seksual agar memiliki perspektif disabilitas berdasarkan hak-haknya di dalam bentuk penghormatan, perlindungan dan pemenuhan yang tepat bagi perempuan pada umumnya dan perempuan disabilitas khususnya.
  2. Mendorong partisipasi aktif perempuan disabilitas dalam proses-proses yang menentukan atas diri mereka melalui keterlibatan mereka di berbagai pembuatan kebijakan dan regulasi.
  3. Mempromosikan kemampuan perempuan disabilitas dalam berbagai bentuk pembangunan dan pemberdayaan ekonomi serta kreativitas seni.

Dengan tema tahun ini bertajuk #PressforProgress, mereka mengajak masyarakat untuk mewujudkan kesetaraan gender melalui aksi-aksi yang progresif dan kolektif melibatkan semua baik perempuan maupun laki-laki.

Selama ini, perempuan disabilitas masih berada dalam posisi marjinal dan belum dilibatkan secara aktif dan setara dalam memperjuangkan hak-hak perempuan secara umum. Padahal, perempuan disabilitas mempunyai berbagai potensi, kemampuan dan kemauan yang tinggi untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai seorang disabilitas maupun sebagai seorang perempuan.

Masih banyak kasus kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh perempuan disabilitas seperti kesulitan dalam mengakses pendidikan dan pekerjaan, kerentanan terhadap tindak kekerasan dan pelecehan seksual, pemaksaan kontrasepsi, ditelantarkan oleh keluarga, dianggap tidak layak berkeluarga/tidak cakap dalam berumah tangga, tidak cakap hukum, dan seterusnya. Oleh karena itu, mengkampanyekan bahwa perempuan disabilitas adalah bagian dari masyarakat umum harus terus-menerus dilakukan untuk menghilangkan stigma dan anggapan bahwa perempuan disabilitas adalah “the other”, yang tidak dipahami dan tidak berdaya.

Festival ini utamanya akan menggunakan media seni, baik sebagai ekspresi diri melalui pembuatan mural, kompetisi penulisan puisi, lagu, pembuatan poster, video pendek, melukis, berbagai workshop kesenian dan penulisan kreatif untuk membuka wawasan, membangkitkan semangat dan kepercayaan diri perempuan disabilitas. Media seni dipilih karena seni adalah sebuah media yang ekspresif, kreatif, memberdayakan, dan mampu mengkomunikasikan pesan secara jujur, menyentuh, tanpa kesan menggurui.

Sebuah diskusi publik akan digelar untuk membahas berbagai masalah yang dialami oleh perempuan disabilitas yang selama ini luput dari perhatian masyarakat termasuk para aktivis perempuan dan HAM, terutama masalah diskriminasi, ketiadaan akses, dan kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan seksual. Diskusi ini juga akan menyoroti draft Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) per tanggal 23 Oktober 2017 versi DPR pada pasal 104 (press release terpisah, terlampir) yang justru dapat menimbulkan dan melegalkan kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas mental. Pembentukan pasal diskriminatif tersebut hanya mempertimbangkan masukan dari kelompok tertentu, serta tidak diimbangi dengan sudut pandang penyandang disabilitas yang justru akan terkena dampaknya secara langsung.

Festival akan diakhiri dengan sebuah panggung seni yang menjadi puncak acara dan diisi oleh gabungan penyandang disabilitas maupun non-disabilitas melalui pertunjukan musik, pembacaan puisi, serta pengumuman pemenang kompetisi.

Peserta dan pengunjung kegiatan adalah para penyandang disabilitas, terutama perempuan serta masyarakat umum. Diperkirakan partisipan dan pengunjung mencapai 600 orang terdiri dari 300 penyandang disabilitas dan 300 pengunjung umum. Melalui kegiatan ini, diharapkan perspektif masyarakat dapat lebih terbuka dan memahami bahwa perempuan disabilitas juga berhak atas kesetaraan di semua aspek kehidupan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here