Belum Membaik, Gizi Buruk Masih Hantui Anak-Anak Asmat

1
493
Gizi buruk di Papua (foto: ACT)

ASMAT – Jelang akhir Januari, berarti sudah memasuki pekan kedua sejak pertama kali Tim Emergency Response ACT turun tangan langsung di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.

Seorang dokter dan beberapa paramedis dari Tim Emergency Response ACT setiap hari menyusuri jalur-jalur sungai yang berbeda. Tugas utama adalah meninjau langsung kampung-kampung di distrik sekeliling Agats. Bukan dengan berjalan kaki, tapi dengan perahu bermesin yang disewa kepada warga lokal dengan harga selangit.

Mengapa tarif sewa selangit? Wajar, sebab perahu bermesin dinyalakan dengan bensin. Sementara bensin harganya luar biasa melambung di Asmat. Bisa tiga kali sampai empat kali lipat dibanding seliter bensin di ibu kota Jakarta. Kalau harga bensin selangit, berarti harga makanan pun berkali-kali lipat lebih mahal.

Untuk bergerak dari Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, hanya perahu bermesin itulah satu-satunya moda transportasi yang bisa diandalkan. Mungkin dua sampai empat jam perjalanan dengan speedboat. Dari hilir sungai di Agats, terus mengarah ke hulu menembus hutan, hingga tiba di beberapa kampung yang diduga menjadi titik awal sebaran gizi buruk dan wabah campak bermula.

Lantas, seberapa parah persoalan gizi buruk merebak bersamaan dengan wabah campak di Asmat? Perjalanan menyusuri kampung-kampung di sekitar Agats, jawaban akan pertanyaan tersebut terjawab dengan kenyataan memilukan yang terjadi di depan mata.

Kondisi lapangan terkini dipaparkan oleh dr. Riedha, dokter sekaligus Koordinator Tim Emergency Response ACT yang diberangkatkan dari Jakarta sampai ke Asmat. Ia dan timnya menyimpulkan, wabah gizi buruk dan campak terus terang memang sedang terjadi di Asmat. Bahkan, kondisi gizi buruk sudah sampai taraf mengkhawatirkan.

“Kami melihat sendiri, mayoritas anak-anak di kampung-kampung di pedalaman Asmat kondisinya memprihatinkan. Semua kondisi gizi buruk ada dan tampak jelas di tubuh mereka,” ujar dr. Riedha.

Riedha melanjutkan, secara umum kualitas gizi masyarakat Asmat bisa dikatakan memang tidak baik. Apalagi ketika seseorang terkena penyakit, kondisi gizi pun akan menurun. “Awalnya mungkin hanya kategori gizi kurang, tapi karena beberapa penyakit datang mewabah seperti campak dan TBC, maka akan cepat sekali jatuh ke kategori gizi buruk karena pemenuhan gizi kurang baik,” papar dr. Riedha.

Cerita yang sama dipaparkan oleh Nurjannatunaim, paramedis ACT. Nur menuturkan, tragedi gizi buruk anak-anak di Asmat menampilkan dengan gamblang bahwa kondisi klinisnya sudah sampai di taraf terburuk.

“Gizi buruk benar-benar sedang terjadi. Anak-anak Asmat mayoritas kondisi kesehatannya serupa. Mereka kehilangan sebagian besar lemak dan otot-ototnya, tinggal tulang terbungkus kulit. Pandangan matanya sayu, wajah anak-anak Asmat itu seperti orang tua. Beberapa anak tampak perutnya buncit, tapi sebenarnya busung lapar,” papar Nur.

Mengobati sekaligus memberikan penyuluhan

Semua pihak, baik dari pemerintah maupun ratusan relawan dokter, termasuk Tim Emergency Response ACT, kini memang sedang berfokus meredam wabah gizi buruk di Asmat. Namun, mengobati seorang anak dari fase gizi buruk paling akut, tentu tak boleh sembarang.

“Apalagi ketika menemukan kasus gizi buruk anak-anak Asmat, lalu menemukan pula kemungkinan komplikasi lainnya semisal pneumonia, tbc, cacingan, dll, tahapan penyembuhannya akan menjadi semakin panjang,” ujar dr. Riedha.

Riedha menambahkan, penyembuhan anak gizi buruk dilakukan secara perlahan. Dimulai dengan mengidentifikasi gejala klinisnya lalu ditelusuri apakah ada sebabnya. Setelah itu dilanjutkan dengan diagnosis di tingkatan fasilitas kesehatan, bisa puskesmas atau rumah sakit terdekat di Agats. Kemudian, baru memberikan zat besi dan multivitamin sekaligus perbaikan cairannya.

“Berbarengan dengan itu, harus diperhatikan pula jika ada demam atau tidak. Tidak lupa, sambil mengobati infeksi penyerta lainnya, misal tbc, pneumonia, diare dan cacingan, perlahan diberikan makanan padat gizi dan membenahi pola makannya, termasuk memberikan penyuluhan tentang gizi ke orang tuanya. Tahapan ini yang sedang kami lakukan di Asmat bersama dengan tim medis dari pemerintah Kabupaten Asmat,” tambah dr. Riedha.

Melansir data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, sampai dengan Kamis (25/1), terdapat 646 anak Asmat yang terkena wabah campak, dan 144 anak lainnya menderita gizi buruk akut. Selain itu ditemukan pula 25 anak suspek campak dan empat anak terkena campak dan gizi buruk sekaligus.

Memulihkan Asmat dalam jangka waktu yang panjang, ACT sudah menyiapkan langkah strategis untuk mengirimkan lagi bantuan pangan dalam jumlah masif, ditambah dengan ratusan relawan medis.

Insan Nurrohman selaku Vice President ACT menyampaikan, Kapal Kemanusiaan Papua Insya Allah akan diberangkatkan di pekan pertama Februari 2018.

“Tidak hanya membawa bantuan pangan dan medis seberat 100 ton. Seratus relawan, termasuk dokter, tenaga paramedis dan ahli gizi, juga akan ikut dalam perjalanan KK menuju Papua dengan kapal terpisah,” pungkas Insan.

SHARE

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here