Penganiaya Kyai NU Ditangkap, PBNU Duga Pelaku Mengidap Eksklusivitas Agama

4
284

ORANYENEWS- Kepolisian Resor Bandung menangkap seseorang terduga pelaku penganiayaan kyai NU, KH Emon Umar Basyri (60). PBNU menduga pelaku adalah pengidap penyakit ekslusivitas dalam beragama.

Penangkapan tersebut dibenarkan Kasat Reskrim Polres Bandung AKP Firman Taufik. Dia mengatakan, saat ini pihaknya tengah mengumpulkan bukti-bukti terhadap penganiayaan yang dilakukan pelaku.

Baca juga: Ini Wajah Terduga Penganiaya Kyai NU

“(telah ditangkap) diduga penganiaya KH Emon Umar Basyri di Masjid Al Hidayah pada Sabtu kemarin. Kami saat ini sedang melakukan prarekonstruksi dulu. Mengumpulkan saksi-saksi yang ada di lokasi kejadian untuk memastikan (perbuatan pelaku), ” jelas Firman.

Latar belakang peristiwa, pada Sabtu 27 Januari 2018, pukul 05.30 WIB, telah terjadi penganiayaan terhadap KH Emon Umar Basyri (60) yang akrab disapa Ceng Emon, pengasuh Ponpes Al Hidayah Santiong Cicalengka, di Masjid Al-Hidayah di lingkungan Ponpes Al Hidayah Santiong.

Saat itu, usai salat subuh berjamaah, Ceng Emong melanjutkan dengan duduk wirid dan zikir. Para santri telah kembali ke pondok pesantren, dan tersisa dirinya dan pelaku.

Secara tiba-tiba, pria diduga berusia 45-50 tahun, mengenakan kemeja levis biru, sarung, dan kopiah, menendang kotak amal sembari mengeluarkan sumpah serapah. Selanjutnya, pria  berperawakan kurus, kulit sawo matang, dan tinggi sekitar 160-165 itu menghampiri Ceng Emon dan memukulinya dengan membabi buta menggunakan tangan kosong. Setelah korban terkapar bersimbah darah, pelaku melarikan diri.

Para santri yang datang ke masjid dan mengetahui KH Emon bersimbah darah, berupaya mengejar tetapi pelaku tidak berhasil ditangkap. Akibat penganiayaan itu, Ceng Emon mengalami luka serius, pelipis lecet, bibir pecah, hidung patah, dan tengkorak kepala retak. Korban yang sempat tak sadarkan diri itu langsung dilarikan ke RS AMC Cileunyi, kemudian dirujuk ke RS Al Islam Bandung di Jalan Soekarno-Hatta.

Ketua Pengurus Harian Tanfidziah PBNU KH Robikin Emhas menduga bahwa pelaku mengidap penyakit eksklusivitas di dalam beragama.

“Sepertinya pelaku terjangkit virus eklusivisme dalam beragama,” katanya.

Dia pun meminta agar pihak kepolisian mengungkap secara tuntas apa motif pelaku di dalam melakukan penganiayaan tersebut

4 COMMENTS

  1. Permasalahan yang muncul ditengah – tengah kehadiran masyarakat adalah suatu hal yang lumrah. Kemajemukan masyarakat di Indonesia yang merupakan suatu kelebihan tersendiri pada kenyataan juga menimbulkan beberapa perbedaan yang pastinya menimbulkan konflik kecil yang ikut serta dlam kehidupan bermasyarakat.

    Kasus penganiayaan yang mungkin sudah banyak terjadi di negara ini timbul tenggelam dalam pemberitaan di beberapa media masa. Kasus penganiayan salah satu tokoh agama ini cukup banyak memakan perhatian masyarakat. Oknum yang melakukan penganiayaan diduga mengidap eksklusivitas agama. Jadi eksklusivitas agama itu sendiri adalah suatu paham yang menjelaskan bahwa di luar agama atau kepercayaan yang dianut oleh mereka tidak ada keselamatan. Dengan kata lain, mereka menganggap ajaran mereka adalah ajaran atau paham yang paling benar adanya.

    Tindakan cepat dan tepat kepolisian dalam menyelesaikan masalah ini dikira sangat baik. Dengan adanya penyelesaian ini, satu persatu paham yang mungkin akan menimbulkan maslaah akan terlebur dengan adanya tindakan nyata dari pihak kepolisian baik dari himbauan maupun tindakan tegas kepada seluruh oknum yang membuat kerugian – kerugian dan tentunya mengancam negara.

  2. Penganiayaan sering terjadi disekitar kita, dimana banyak sekali orang yang tidak memakai akal sehatnya untuk melakukan sesuatu hal . Pada masa kini banyak orang yang tidak berfikir panjang atas apa yang mereka lakukan .

    Apalagi penganiayaan terhadap pengasuh pondok pesantren tersebut terjadi di lingkungan Pondok Pesantrennya sendiri.
    Pelaku penganiayaan sudah diamankan oleh pihak kepolisian, Irjen Agung mengatakan tersangka menganiaya korban setelah salat Subuh berjamaah.

    Sangat disayangkan apa yang dilakukan oleh tersangka. Kita harus bisa menggunakan akal sehat kita agar tidak sampai melakukan hal pidana seperti penganiayaan tersebut. Polri sering menghimbau bahwa kita harus selalu bahu membahu menjaga keamanan bersama.

  3. Penganiayaan pada tubuh manusia dapat diminimalisir apabila setiap warga negara Indonesia lebih mengetahui dan mengerti apa yang dinamakan dengan hukum yang terdapat dalam KUHP. Pemerintah lebih dituntut untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat, sehingga setiap orang lebih mengerti dengan hukum.

    Kejadian penganiayaan terhadap Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah Santiong, KH Emon Umar Basyri berhasil ditangkap dan terjerat pasal 351 ayat (1) KUHP telah memastikan ada penjelasan hukum terkait penganiayaan. undang-undang tidak memberi ketentuan apakah yang diartikan dengan “penganiayaan” itu. Menurut yurisprudensi, “penganiayaan” yaitu sengaja menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau luka. Menurut alinea 4 pasal ini, masuk pula dalam pengertian penganiayaan ialah “sengaja merusak kesehatan orang”.

    Terimakasih pak polisi telah berhasil menangkap pelaku penganiayaan terhadap Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah Santiong. Jangan ragu-ragu untuk memindak tegas pelakunya karena penganiayaan terhadap pengasuh pondok pesantren tersebut terjadi di lingkungan Pondok Pesantren. Proses hukum aja pelakunya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here