Media Siber Terinovatif 2017, Tirto Kalahkan Kumparan

0
143
Tampilan Tirto.id.

ORANYENEWS- Dua media baru yang tengah mencuri perhatian, Tirto.id dan Kumparan.com bersaing sengit dalam memerebutkan media siber terinovatif 2017. Pada akhirnya, pilihan juri jatuh kepada Tirto.id sebagai media siber terinovatif tahun 2017.

Penghargaan khusus media siber terinovatif ini berbeda dengan kategori yang lainnya, karena jika yang lain mengirimkan karyanya. Untuk kali ini, ketiga dewan juri yaitu Nukman Lutfie, Manuel Irwanputera, dan Merdi Sofansyah, mengamati secara langsung dalam kurun waktu tertentu pada 2017, tanpa mengundang peserta.

Dari sejumlah media online,Tirto.id dan Kumparan masuk ke dalam nominasi terkuat dan mendapat sorotan tajam juri. “Dewan juri akhirnya melihat bahwa Tirto.Id mempunyai kekuatan lebih pada konten dan fitur,” ujar Merdi Sofansyah, mewakili Dewan Juri.

Pengamatan pada dua situs berita tersebut berdasarkan konten yang konsisten mengusung prinsip komprehensif 5W+1H dan sesuai kaidah jurnalistik, kelengkapan berita dengan tampilan info-info grafis yang memudahkan pembaca memahami konteks sebuah berita, serta independen dalam kebijakan redaksinya.

Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2017 yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat itu juga telah menetapkan enam pemenang lainnya dalam kategori Indepth Reporting (media cetak), Jurnalistik Foto (media cetak), Jurnalistik Karikatur (media cetak), News Features televisi, News Features radio, dan News Features media siber. Karya-karya tersebut adalah karya perorangan yang dipublikasikan pada 2017.

Para pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2017 akan mendapatkan hadiah sebesar Rp50 juta, tropi, dan piagam, sedangkan Media Siber Terinovatif mendapatkan hadiah sebesar Rp10  juta, tropi, dan piagam. Hadiah akan diserahkan pada Hari Pers Nasional 2018, tanggal 7-9 Februari 2018 di Padang, Sumatra Barat.

1.Kategori Indepth Reporting

Pemenang Kategori Indepth Reporting  adalah “Dinamika dan Romantika di Sepadan Negeri (1-10)” karya Muhammad Amin yang dipublikasikan di Harian Riau Pos pada 18 Desember 2017.  Karya tersebut bercerita tentang komunitas adat terpencil yang ada di Riau. Tiga di antaranya – Suku Laut, Suku Akit, dan Suku Asli – berdiam di pesisir dan menjadi suku terasing.  Di tengah suasana yang masih serba minim, menerima serbuan budaya dan nilai-nilai dari udara.  Serangan itu tidak mengubah kultur masyarakat. Mereka tetap mempertahankan NKRI.

Karya pemenang ini bersaing ketat dengan 4 nomine yang lain, yaitu “Uang Haram di Kas Negara” karya Romdani (Kaltim Pos), “Aset Penting (Tanah Abang) yang Dibiarkan Tidak Terurus 1-3” (Irene Sarwindaningrum, Harian Kompas), “Ketika Rokok Merampas Gizi si Miskin” (Dina Konstantia Manafe, Harian Suara Pembaruan), dan “Kami Rindu Kampung Halaman, Pemerintah Tidak Serius, Belajar Mandiri Secara Ekonomi” (Muhamad Taufik, Harian Surya).

Dewan juri (Marah Sakti Siregar, Putut Trihusodo, Dr.Artini) memuji jumlah peserta yang jauh lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya dan didominasi oleh peserta luar Jawa.  Pilihan topik dan kualitas tulisan juga cukup baik dan memenuhi standar penulisan jurnalistik. Baik komposisi, magnitude, tingkat kesulitan, dan desain grafisnya sudah memenuhi standar.

“Sayangnya belum semua karya betul-betul mereprestasikan karya jurnalistik berkedalaman (indepth). Sebagian besar merupakan karya jurnalistik reportase dan feature,” ujar Marah Sakti Siregar, Ketua Dewan Juri.

“Kelemahan utama ada pada riset yang kurang mendalam dan komprehensif. Misalnya, menyorot satu masalah di negeri ini, tapi belum melakukan riset ihwal yang sama yang terjadi di  negeri tetangga. Padahal, realitanya kondisinya sudah lebih baik, serta disinyalir hampir semua kondisi, mulai dari alam, sosok manusia, nilai dan kulturnya tidak jauh berbeda dengan kondisi di sini,” jelas Marah Sakti.

2.Jurnalistik Foto

Pemenang Kategori Foto adalah foto jurnalistik berjudul “Fase Kritis” karya Raka Denny yang dipublikasikan di Harian Jawa Pos pada 29 November 2017. Foto tersebut menggambarkan Siswa SMP 2 Karangasem bersiap  berangkat ke sekolah dengan latar Gunung Agung Bali yang sedang menyemburkan abu.

Para juri yang terdiri dari Enny Nuraheni (Ketua Dewan Juri), Tagor Siagian, dan Melly Riana Sari sepakat memilih foto tersebut dengan alasan foto tersebut diambil dalam situasi alam yang menunjukkan kesulitan. Selain itu secara teknis ada momen bergerak saat anak naik kendaraan membuat foto tersebut “hidup”.    ‘’Foto ini sarat nilai berita, karena di tengah situasi kritis, anak-anak ini tetap memilih sekolah,’’ tambah Enny Nuraheni.

Selain “Fase Kritis” (Raka Denny-Jawa Pos),  terdapat 7 nomine yang lain, yaitu “Antre KTP el” (Wisnu Widiantoro-Harian Kompas), “Payungi Raja Arab” (Randi Tri Kurniawan-Harian Rakyat Merdeka), “Kampanye Blusukan” (Galih Pradipta-LKBN Antara), “Dampak Jalan Rusak Parah di Ogan Komering Ilir” (Adrian Fajriansyah-Harian Kompas), “Pilkada 2017”(Galih Pradipta-LKBN Antara), “Upacara Bendera” (Aya Sugianto-Harian Banjarmasin Pos) dan “Tiba di Cipinang” (Arya Manggala Nuswantoro-Harian Media Indonesia).

3.Jurnalistik Karikatur

Pemenang Kategori Jurnalistik Karikatur adalah “Anti Pancasila” karya Budi Setyo Widodo yang dipublikasikan di harian Media Indonesia, 19 Juli 2017.

“Karyanya sangat sederhana, lugas, tidak ruwet, sangat komunikatif, mudah dipahami oleh semua orang, mudah dipahami oleh semua orang, dan memenuhi syarat sebagai karya karikatur yang baik di antara karya lainnya,” jelas Gatot Eko Cahyono, Ketua Dewan Juri Kategori Jurnalistik Karikatur.

Para juri Kategori Jurnalistik Karikatur, yaitu Gatot Eko Cahyono, Budi G.Sadikin, dan Dolorosa Sinaga memilih karya berdasarkan topik, pesan, bahasa visual, komposisi, dan kualitas gambar. “Karya yang masuk semakin banyak dan semakin banyak pula karya karikatur yang bagus, baik teknis maupun ide, dari para kartunis muda yang berbakat,” ujar Gatot Eko Cahyono.

Menurut Dolorosa Sinaga, peserta tahun ini menggembirakan karena muncul nama-nama baru dan tampak pendekatan ekspresi yang bersifat eksploratif, elemen gambar dan tulisan tampil lebih sederhana, tapi memiliki kekuatan komunikatif.

“Isu korupsi, diskriminasi, keberagaman, nasionalisme, dan kritik tehadap pemerintah, kinerja dan kualitas kemanusiaan DPR, masih terus menjadi kepedulian yang sangat kuat dalam ekspresi karikatur tahun ini.  Beberapa karya mengekspresikan kritik terhadap generasi muda yang hidup dalam era teknologi komunikasi visual. Yang tidak muncul tahun ini adalah isu gender,” ujar Dolorosa Sinaga.

4.Jurnalistik Televisi

Pemenang Kategori Jurnalistik Televisi adalah “Berdamai dengan Maut di Kaseralau” karya Rivo Pahlevi Akbarsyah yang dipublikasikan di Trans 7 pada 10 Oktober 2017.

Menurut Dewan Juri, yaitu Yasirwan Uyun (Ketua), Uni Z.Lubis, dan Nurjaman Mochtar, berdasarkan topik yang dibahas, karya tersebut layak mendapat nilai tinggi baik karena sangat menyentuh kepentingan masyarakat luas yang tidak memiliki akses jalan menuju desa di sekitarnya.

“Tayangan tersebut juga sangat komunikatif sehingga aparat terkait segera dapat membangun jalan desa agar perekonomian dapat berkembang dan memudahkan warga desa untuk mendapatkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang lebih memadai di desa terdekat,” ujar Yasirwan Uyun.

Komposisi dan kualitas gambar juga sangat bagus, dapat memperlihatkan secara detail sulitnya medan yang harus dilalui warga desa jika ingin melakukan aktivitas ke desa tetangga. “Melalui angle pengambilan gambar, dapat terlihat betapa sulitnya warga yang disertai rasa takut ketika akan menuruni dan menaiki tangga setinggi 400 meter tanpa pengamanan sehingga batas antara selamat dan maut yang mengintai sangat tipis,” jelas Yasirwan Uyun.

Uni Z.Lubis menambahkan, meskipun tema ini sudah banyak digarap, karya ini masih dapat memperlihatkan keunggulan – selain karena lokasinya – juga adanya penekanan pada kontradiksi antara mimpi meningkatkan pendidikan dan fakta minim infrastruktur.

 

5.Kategori Jurnalistik Radio   

Pemenang Kategori Jurnalistik Radio adalah “Saya Indonesia” karya Surya S.Thalib S.AP  yang dipublikasikan di Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Nunukan, Kalimantan Utara pada 16 Desember  2017.

Karya ini menggambarkan peliputan ke Pulau Sebatik, salah satu pulau terluar Indonesia, berbatasan langsung dengan Malaysia. Di sinilah salah satu tempat pertempuran antara pasukan Indonesia dan Malaysia saat konfrontasi Indonesia-Malaysia. Peliput secara humanis menggambarkan suasana kesulitan perjalanan hingga berhasil menemui warga setempat. Daerah tersebut, meskipun seharusnya menjadi prioritas pembangunan, sampai saat ini masih sangat memprihatinkan. Toh, masyarakatnya masih tetap menyatakan diri, “saya orang Indonesia”.

Dewan juri, yaitu Errol Jonathans (Ketua Dewan Juri), Awanda Erna, dan Rita Sri Hastuti menilai dari segi tema/sudut pandang, kelengkapan jurnalistik/kode etik, bahasa, dan penyajian. “Saya Indonesia” bersaing ketat dengan dua karya  lain  yang sama-sama memiliki kelengkapan jurnalistik yang bernilai tinggi dalam penjurian, yaitu “Menjemput Asa Anak-Anak Sikerei” (Classy Radio, Padang) dan “Memburu Ampas Emas di Grasberg” (KBR).  “Namun ‘Saya Indonesia’ lebih memiliki kesesuaian dengan nuansa Anugerah Adinegoro tahun ini, yaitu ‘Merekat Kembali Jati Diri NKRI’,” ujar Awanda Erna.

Awanda menyatakan kegembiraannya karena secara keseluruhan peserta kategori radio kali ini  memahami bahwa durasi paket siaran radio tidak lagi terlalu panjang, paling panjang 15 menit.  “Ini sejalan dengan kebiasaan pendengar yang rata-rata mendengarkan radio hanya 1 – 3 jam/hari. Di kota-kota besar lebih singkat lagi,” ujar Awanda Erna.

Ketua Dewan Juri, Errol Jonathans, menyatakan kegembiraannya dengan semakin meningkatnya jumlah peserta Anugerah Adinegoro Kategori Jurnalistik Radio kali ini. “Meskipun tidak semua peserta berformat news radio atau talk radio, gairah berjurnalismenya terdengar melalui karya-karya yang dikirim untuk berkompetisi,” ujar Errol Jonathans.

Selain itu, menurut Errol Jonathans, peserta kategori radio kali ini betul-betul mewakili wajah Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan Asia. Rentang heteroginitas ide dan sudut pandang karya juga kaya. “Karya-karya para peserta mengisahkan perjuangan tentang keadilan, kesewenangan kekuasaan, radikalisme, nasionalisme dan sejarah yang dikemas melalui pendalaman kisah di  balik berita, investigasi fakta, ungkapan kebenaran sejarah yang tersembunyi, hingga paparan minat insani (human interest) yang menjadi ciri-ciri radio features,” ujar Errol Jonathans, yang selalu mengikuti perkembangan sejak awal menjadi juri Adinegoro.

Errol mengharapkan, ke depan radio-radio generalis pun semakin piawai menambah bobot jurnalismenya sehingga sejajar dengan eksistensi radio-radio yang berformat jurnalistik. Diharapkan pula jurnalisme radio Indonesia nantinya semakin subur dalam siaran keseharian. Produk dan layanannya semakin kental menyuarakan aspirasi khalayak.

6.Kategori Jurnalistik Siber

Penjurian Kategori Jurnalistik Siber menetapkan  “Janji untuk Papua” karya A.Haryo Damardono  yang dipublikasikan di Kompas.ID pada 1 Maret 2017.

Karya tersebut tentang penantian masyarakat Papua atas janji pemerintah pusat, terutama berkaitan dengan kampanye Presiden Joko Widodo saat kampanye bahwa Papua adalah bagian  Indonesia yang harus diperhatikan. Janji itu baru kini mulai dipenuhi oleh Presiden sedikit demi sedikit. Meskipun demikian, dalam keterbatasannya, meskipun infrastruktur terlambat dibangun, masyarakatnya tetap merasa bagian dari NKRI.

“Janji untuk Papua” bersaing ketat dengan ‘’Menyulam Celah Retas NKRI dari Tanah Bumbu’’ karya Sri Iswati (Jayakartanews.com, 30 Desember 2017) dan ‘’Berjejal Barang-Barang Malaysia Masuk Indonesia via PLBN Entikong’’ (Danu Damarjati, Detik.Com, 25 Desember 2017).

Dewan juri, yaitu  Wina Armada Sukardi (Ketua), Teguh Wicaksono, dan Katherina M. Saukoly memilih pemenang dengan catatan sebagai berikut:  Topik yang dipilih menyangkut kepentingan orang banyak, bersifat inspiratif, membangun, serta menggugah pembentukan karakter bangsa dan merekat  jati diri NKRI. Selain itu, mengandung pesan, informatif, dalam penyajian berkedalaman. Kelebihan lain, bahasanya jernih, jelas, gaya, dan unik.

“Yang juga penting lengkap dalam format siber. Termasuk memenuhi persyaratan berita 5 W+1 H,” ujar Wina Armada Sukardi. “Juga terstruktur dalam penyajian. Penyajian tulisan di media cetak dan siber harus ada perbedaan,” tambah Wina Armada.

Dewan juri mengingatkan bahwa media siber merupakan kerja tim terpadu dengan banyak unsur – terminologinya digital, kreativitas, video streaming, dan penopang lainnya. “Lebih banyak tampilan yang berhubungan dengan digital, lebih berkualitas dalam penyajian,” ujar Teguh Wicaksono. Minimal ada tiga media kreatif yang digunakan, yaitu teks, foto, dan video.  Selain itu, tampilan bahasa visual harus kuat dan terlihat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here