Perjalanan Etnis Rohingya, dari Jaman Kerajaan, Kolonial, hingga Modern

0
591
Doa etnis Rohingya

 

SEJARAH Rohingya ini tidak lepas dari sejarah berdirinya negara Burma atau Myanmar. 13 ribu tahun yang lalu, menurut catatan sejarah pemukim pertama di negara tersebut adalah orang-orang Pyu, suku bangsa Tibeto-Birma, dan pemeluk agama Buddha Therevada. Mereka kemudian mendirikan sebuah negara-kota dari Pyay hingga selatan Birma.

Peninggalan kerajaan Mrauk U

Kemudian, Bamar, suku bangsa lain “Bangsa Penunggang Kuda Cepat” memasuki kawasan hulu Sungai Irawari pada awal abad 9. Kemudian kelompok tersebut mendirikan Kerajaan Pagan yang berdiri 1044-1287. Kerajaan ini mempersatukan kawasan lembah Sungai Irawadi dan sekitarnya. Seiring dominasi, bahasa Pyu kemudian tergantikan dengan bahasa Birma dan budaya Bamar.

Kerajaan Pagan cukup lama berdiri hingga 250 tahun, politik, ekonomi, dan budaya pun sempat terbangun dengan baik. Bahkan, kekuasaan Pagan menurut kronik-kronik Siam mencapai Semenanjung Malaya dan Selat Malaka.

Di awal abada ke-12, Kerajaan Pagan muncul menjadi kekuatan yang besar setara dengan Kerajaan Khmer di Asia Tenggara. Bahkan, kedaulatannya diakui raja-raja di Tiongkok dan India saat itu.

Kemudian, di tahun 1287 terjadi invasi Mongol yang pertama kali terhadap kerajaan tersebut, usai invasi Mongol meninggalkan kerajaan tersebut dalam kondisi porak-poranda, kerajaan Pagan tak mampu bangkit setelah kehancurannya dan bermunculanlah kerajaan-kerajaan kecil. Yang paling menonjol adalah Kerajaan Awa, Kerajaan Hanthawadi, Kerajaan Mrauk U, dan negara-negara orang Shan. Kerajaan tersebut saling memerangi dan bergonta-ganti sekutu.

Candi peninggalan Kerajaan Mrauk U.

Kerajaan Mrauk U didirikan oleh Narameikha atau Min Saw Mun (1380-1433) di kawasan Rohang atau Arakan pada tahun 1429. Dalam salah satu perang, Kerajaan Awa (Birma tengah) yang dipimpin Raja Minyekyawswa menyerang Arakan dan baginda Raja Narameikha mengasingkan diri ke wilayah Kerajaan Bengal selama 24 tahun.

Kesultanan Bengal adalah sebuah kerajaan Islam yang cukup kuat pada abad pertengahan yang didirikan di Bengal pada 1342. Daerah kekuasaan kesultanan ini mencakup wilayah negara Bangladesh saat ini, India bagian Timur, dan bagian Barat Myanmar.

Narameikha kemudian memasuki tentara kerajaan Bengal di bawah Sultan Jalaludin Muhammad Shah. Setelah 24 tahun dalam pengasingan, dibantu Sultan Jalaludin, Narameikha kemudian berhasil merebut kembali kerajaannya Mrauk U dari Kerajaan Awa.

Setelah berhasil merebut kembali Mrauk U, Raja Narameikhla menyerahkan beberapa wilayah kepada Sultan Benggala dan mengakui kekuasaan Benggal atas wilayahnya. Mrauk U menjadi kerajaan bawahan Benggala, dan Raja Narameikhla juga mengganti namanya dengan gelar yang diberikan Sultan Benggala dengan nama Sulaeman Shah.

Dalam membangun kerajaannya, Raja Sulaeman Shah merekrut banyak orang Benggala di Istananya, dengan tetap membawa budaya mereka. Kedekatannya dengan Teluk Benggala membuat Kerajaan Mrauk U berkembang menjadi pusat perdagangan yang penting. Kerajaan tersebut berperan menjadi ‘pintu belakang’ ke pedalaman Burma, dan pelabuhan penting di sepanjang pantai timur Teluk Benggala.

Bukti peninggalan kejayaan Mrauk U

Ini menjadi titik transit untuk barang seperti beras, gading, gajah, getah pohon dan rusa bersembunyi dari Kerajaan Ava di Burma, dan kapas, budak, kuda, cowrie, rempah-rempah dan tekstil dari Bengal, India, Persia dan Arab.

Warga Muslim Benggala saat itu terus meningkat, karena mereka bekerja di berbagai bidang di Arakan, dari juru tulis bahasa Arab, Benggala, Persia di pengadilan-pengadilan Arakan.

Wilayah Kerajaan Mrauk U berkembang hingga 160.000 dan berganti 49 kali raja, dan berakhir dengan penaklukan Kerajaan Burma dari Dinasti Konbaung pada tahun 1784, tak lama setelah Kerajaan Bengal ditaklukkan Inggris tahun 1757. Dari sinilah harmoni antar suku dan agama berakhir, dan penderitaan muslim Rohingya dimulai.

Setelah Burma menguasai Arakan, mereka menerapkan politik diskriminatif dengan mengusir dan mengeksekusi muslim Arakan. Tahun 1799, sebanyak 35 ribu orang Arakan mengungsi ke Chittagong di Bengal yang saat itu telah dikuasai Inggris  Orang-orang Arakan saat itu menyebut diri mereka sebagai Rooinga (penduduk asli Rohang/Arakan), kemudian ejaan menjadi Rohingya.

Pemerintah Kerajaan Burma kemudian memindahkan sebagian besar penduduk Arakan ke Burma Tengah, sehingga saat Inggris menguasai arakan pada 1826 hanya sedikit populasinya.

Pada awal abad ke-19 gelombang imigrasi dari Bengal ke Arakan semakin meningkat karena didorong oleh kebutuhan akan upah pekerja yang lebih murah yang didatangkan dari India ke Burma.

Seiring waktu jumlah populasi para pendatang lebih banyak daripada penduduk asli sehingga tak jarang menimbulkan ketegangan etnis. Pada tahun 1939 konflik di Arakan memuncak sehingga pemerintah Inggris membentuk komisi khusus yang menyelidiki masalah imigrasi di Arakan, namun sebelum komisi tersebut dapat merealisasikan hasil kerjanya, Inggris harus angkat kaki dari Arakan pada akhir Perang Dunia II.

Pada masa Perang Dunia II Jepang menyerang Burma dan mengusir Inggris dari Arakan yang kemudian dikenal sebagai Rakhine. Pada masa kekosongan kekuasaan saat itu, kekerasan antara kedua kelompok suku Rakhine yang beragama Buddha dan suku Rohingya yang beragama Muslim semakin meningkat. Ditambah lagi, orang-orang Rohingya dipersenjatai oleh Inggris guna membantu Sekutu untuk mempertahankan wilayah Arakan dari pendudukan Jepang.

Hal ini akhirnya diketahui oleh pemerintah Jepang yang kemudian melakukan penyiksaan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap orang-orang Rohingya. Selama masa ini, puluhan ribu orang Rohingya mengungsi keluar dari Arakan menuju Bengal. Kekerasan yang berlarut-larut juga memaksa ribuan orang Burma, India dan Inggris yang berada di Arakan mengungsi selama periode ini.

Pada tahun 1940-an orang-orang Rohingya berusaha menjalin kerjasama dengan Pakistan di bawah Mohammad Ali Jinnah untuk membebaskan wilayahnya dari Burma, tetapi ditolak oleh pemimpin Pakistan tersebut karena tidak mau mencampuri urusan internal negeri Burma. Pada tahun 1947 orang-orang Rohingya membentuk Partai Mujahid yang merupakan kelompok jihad untuk mendirikan negara Muslim yang merdeka di Arakan utara. Mereka menggunakan istilah Rohingya sebagai identitas politik mereka dan menyatakan diri sebagai penduduk asli Arakan. Kemudian Burma merdeka pada tahun 1948 dan orang-orang Rohingya semakin gencar melancarkan gerakan separatisnya.

Pada tahun 1962 Jenderal Ne Win melakukan kudeta dan mengambil alih pemerintahan Myanmar. Ia melakukan operasi militer untuk meredam aksi separatis Rohingya. Salah satu operasi militer yang dilancarkan pada tahun 1978 yang disebut “Operasi Raja Naga” menyebabkan lebih dari 200.000 orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh akibat kekerasan, pembunuhan dan pemerkosaan besar-besaran.

Pemerintah Bangladesh menyatakan protes atas masuknya gelombang pengungsi Rohingya ini. Pada bulan Juli 1978 setelah dimediasi oleh PBB, pemerintah Myanmar menyetujui untuk menerima para imigran Rohingya untuk kembali ke Rakhine. Pada tahun 1982 pemerintah Bangladesh mengamademen undang-undang kewarganegaraannya dan menyatakan Rohingya bukan warga negara Bangladesh.

Rohingya

Sejak tahun 1990 sampai saat ini, pemerintah junta militer Myanmar masih menerapkan politik diskriminasi terhadap suku-suku minoritas di Myanmar, termasuk Rohingya, Kokang dan Panthay. Para pengungsi Rohingya melaporkan mereka mengalami kekerasan dan diskriminasi oleh pemerintah seperti bekerja tanpa digaji dalam proyek-proyek pemerintah dan pelanggaran HAM lainnya.

Pada tahun 2012 kerusuhan rasial pecah antara suku Rakhine dan Rohingya yang dipicu oleh pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis Rakhine oleh para pemuda Rohingya yang disusul pembunuhan sepuluh orang pemuda Muslim dalam sebuah bus oleh orang-orang Rakhine. Menurut pemerintah Myanmar, akibat kekerasan tersebut, 78 orang tewas, 87 orang luka-luka, dan lebih dari 140.000 orang terlantar dari kedua belah pihak baik suku Rakhine maupun Rohingya.

2017, etnis Rohingya kembali menjadi korban kekerasan militer Myanmar. Mereka diserang dengn senjata, hingga mengakibatkan wanita dan anak-anak menjadi korbannya. Sampai kapan etnis Rohingya akan terus mengalami ketakutan, penderitaan, pemerkosaan, dan pembunuhan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here