YPN Lakukan Survey Konsumsi Susu Kaleng untuk Atasi Ancaman Gizi Buruk

Gizi buruk di Papua (foto: ACT)

ORANYENEWS– Ditemukannya sejumlah kasus balita gizi buruk akibat mengkonsumsi susu kental manis disejumlah daerah di Indonesia memicu reaksi lembaga masyarakat. Yayasan Peduli Negeri (YPN) dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) berinisiatif melakukan pengumpulan data untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap susu kental manis di sejumlah kota di Indonesia.

Di Sulawesi, dua kasus yang menarik perhatian publik adalah 3 balita gizi buruk di Kendari, Sulawesi Tenggara serta satu balita gizi buruk di Maros, Sulawesi Selatan. Keempat kasus gizi buruk tersebut disebabkan konsumsi susu kental manis sebagai pengganti ASI. Keempat balita tersebut adalah Arisandi (10 bulan), asal  Desa Ulu Pohara, Kecamatan Lahungkumbi, Kabupaten Konawe, Muhammad Adam Saputra (7 bulan) dan Muharram yang berumur 4 bulan serta Rasyad (2 tahun) asal Maros, Sulawesi Selatan.

Arisandi mengkonsumsi susu kental manis sejak berusia 4 bulan. Setelah beberapa bulan mengkonsumsi susu ini, ia mengalami gejala luka-luka pada kulit dan alergi akibat kekurangan nutrisi. Meski sudah mendapat pertolongan medis, namun nyawanya tetap tidak tertolong. Arisandi meninggal pada akhir Januari lalu.

Kasus kedua menimpa Muhammad Adam Saputra (7 bulan),  yang pada saat ditemukan tinggal di Kecamatan Mandonga, Kota Kendari.  Orang tua Adam tidak mampu membelikan susu bayi sehingga akhirnya Adam diberikan susu kental manis yang harganya lebih ekonomis. Dampaknya, berat badan Adam semakin hari semakin menurun hingga 4,8 kg dan dirawat di RSUD Bahtera Mas.

Kasus ketiga menimpa Bayi Muhammad Muharram umur 4 bulan. Warga jalan Sao Sao, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari itu mengalami gizi buruk karena keterbatasan Ekonomi. Untuk mencukupi kebutuhan gizi sang anak, pilihan orang tua jatuh pada susu kental manis.

Menurut Data WHO 2010, Di Indonesia ada sekitar 8,81 juta anak kurang gizi. Provinsi dengan prevalensi gizi buruk tertinggi adalah Nusa Tenggara Barat 48,01%, Sulawesi Barat 45,98% dan Provinsi Sulawesi Tenggara 38,89%. Situs resmi Kementerian Kesehatan RI www.depkes.go.id, menyebutkan gizi buruk muncul disebabkan daya beli yang rendah, akses terhadap pelayanan kesehatan serta pengetahuan orang tua dan sosial budaya setempat. Sangat disayangkan, Sulawesi yang dikenal sebagai lumbung pangan masih menyimpan persoalan gizi buruk yang ironisnya, kurang pengetahuan masyarakat adalah salah satu penyebab utamanya.

Ketua Pengurus Harian YAICI, Arif Hidayat mengatakan bahwa saat ini pihaknya bersama sejumlah lembaga lain yang peduli dengan persoalan gizi buruk mendesak Kementerian Kesehatan dan BPOM melalui DPR untuk memberi perhatian lebih terhadap polemik susu kental manis. Bahwa telah terjadi kesalahpahaman masyarakat dalam memanfaatkan susu kental manis. “Susu kental manis seharusnya produk yang dipasarkan untuk topping makanan dan bahan pembuat kue. Namun masih banyak masyarakat yang beranggapan kental manis adalah susu dan diberikan untuk anak dan balita. Dengan adanya temuan balita mengkonsumsi produk ini, maka pemerintah harus tegas dan mengawasi penggunaan produk ini di masyarakat,” kata Arif Hidayat.

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here