Hari Tanpa Tembakau, Jumlah Perokok Anak Terus Meningkat

0
65

ORANYENEWS- Hari ini 31 Mei merupakan hari tanpa tembakau sedunia. Ironi tidak ada yang serius menangani masalah rokok, tercatat perokok di bawah usia 10 tahun atau anak-anak meningkat 2,5 persen.

Data tersebut diungkap pemerhari masalah kesehatan dan lingkunan Dr Ridwan Mochtar Taha MSc medio Maret 2018.

Padahal pemerintah telah menaikkan cukai rokok hingga 113 persen, tapi tetap saja jumlah perokok tidak berkurang. Bahkan, BPJS mengalami defisit anggaran 20 triliun jika tembakau tidak dapat dikendalikan.

Reza Indragiri Amriel, Kabid Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mempertanyakan sikap negara secara pidana dan perdata terhadap masalah anak dan rokok.

“Pertama, pernah adakah perkara hukum di PN di Indonesia yang mengangkat pasal 76J ayat 2 UU Perlindungan Anak (UUPA)? Sepertinya belum ada satu pun. Padahal jumlah anak Indonesia yang menjadi first, second, dan third hand smoker pasti amat sangat banyak sekali,” katanya.

Menurutnyqa, tidak hanya karena masyarakat dan hukum belum menganggap serius dan genting masalah anak sebagai perokok aktif, anak sebagai perokok pasif, serta anak pengisap residu rokok yang tertinggal di berbagai barang di dekat anak.

“Zat adiktif lainnya” pada pasal 76J ayat 2 juga masih terlalu abu-abu untuk dikaitkan dengan tembakau dan kandungan beracun lainnya dalam rokok.

Karena itu, perlu dilakukan revisi terhadap UUPA agar rokok dicantumkan sama eksplisitnya dengan alkohol, narkotika, dan psikotropika.

“Juga, Ikatan Dokter Indonesia sepatutnya mengeluarkan fatwa yang menjelaskan bahwa kandungan rokok merupakan salah satu rincian “zat adiktif lainnya”. Ini bermanfaat bagi otoritas penegakan hukum untuk memproses secara pidana anak yang menjadi pecandu, sakit parah, dan meninggal dunia akibat rokok,” urainya.

“Kedua, pernahkah hakim di Indonesia memerhatikan perilaku merokok orang tua yang bercerai dan tengah memperebutkan kuasa asuh anak? Hampir bisa dipastikan belum pernah ada,” katanya.

Padahal orang tua wajib mengupayakan pemenuhan hak anak untuk hidup sehat. Rokok juga diakui sebagai bahaya besar bagi kesehatan anak.

Alhasil, sebelum menentukan siapa yang akan memegang kuasa asuh anak (korban perceraian), hakim sepatutnya mengecek perilaku merokok orang tua. Ayah maupun bunda yang akan bercerai, dan diketahui mencandu rokok, pantas diragukan kompetensinya untuk berperan sebagai pemegang kuasa asuh.

Bahkan, orang tua yang mengabaikan apalagi mendorong anak untuk menjadi perokok sudah sepantasnya diproses sebagai pelaku kekerasan atau pun penelantaran terhadap anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here