Ketika Sate Ayam Indonesia Dilelang di Senegal

0
417

ORANYENEWS- Untuk keenam kalinya berturut-turut, Indonesia diundang sebagai tamu kehormatan pada ajang World Cultural Month 2018 yang digelar di ibu kota Senegal itu. Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh KBRI Dakar tampil begitu maksimal sehingga booth atau stan Indonesia kembali menjadi pusat perhatian pengunjung ajang ini.

Berbagai keragaman dan keunikan budaya menghiasi booth Indonesia mulai dari dekorasi khas Bali, seperangkat gamelan Jawa, hingga kain songket, ulos, dan batik. Kain-kain ini yang dipajang sebagai pengindah dekorasi dan tidak untuk diperjualbelikan ternyata mengundang kekaguman beberapa pengunjung untuk membelinya.

(foto: KBRI di Senegal)

KBRI juga memamerkan berbagai kerajinan ukiran, dua pasang patung kayu loroblonyo, patung burung garuda, ditambah dinding dengan latar belakang batik parang serta alunan lagu Bali semakin menambah kentalnya nuansa Indonesia.

Selain itu, KBRI juga menampilkan berbagai poster pariwisata, membagikan brosur, serta memberikan kesempatan kepada para pengunjung untuk mencoba memainkan gamelan secara langsung.

Sate Ayam “Dilelang” 

Dalam setiap partisipasinya di ajang ini, KBRI Dakar selalu menampilkan makanan khas Indonesia, dan penampilan all out KBRI Dakar telah menginspirasi panitia untuk mengajak peserta lain memamerkan kuliner khas negara mereka.

Hal yang selalu ditunggu-tunggu pengunjung selama beberapa tahun terakhir ini adalah kuliner khas Indonesia seperti nasi goreng ayam, mie goreng udang, serta sate ayam bumbu kacang dan bumbu kecap.

Berbagai kuliner khas Indonesia laris manis diserbu para pengunjung. Aroma khas sate ayam mengundang para pengunjung berbondong-bondong menghampiri booth Indonesia.  Ibu-Ibu Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Dakar yang beratribut kebaya nusantara bahkan harus membatasi pemberian makanan agar tidak terlalu cepat habis.

Para pengunjung pun sampai rela untuk mengantri berlama-lama demi merasakan kelezatan sate ayam khas Indonesia. Ibu-Ibu DWP yang bertugas memberikan makanan pun sempat kewalahan ketika para pengunjung saling berebut sate ayam di depan stan Indonesia.

Ketika stok sate ayam hanya menyisakan beberapa tusuk saja, Ibu Febie Mansyur, Ketua DWP KBRI Dakar, akhirnya melelang sisa beberapa tusuk sate ayam dengan memberikan Quiz kepada para pengunjung yang sudah rela lama-lama mengantri.

Beragam pertanyaan dilontarkan kepada para pengunjung, seperti: “siapa nama Presiden RI”, “apa nama ibukota Indonesia”, “apa lambang negara Indonesia”, “apa warna bendera Indonesia”, “sebutkan nama binatang yang berasal dari Indonesia”, “apa nama bahasa Indonesia”, “apa bahasa Indonesianya thank you”, dan “apa pulau terbesar di Indonesia”.

Para pengunjung yang berhasil menjawab pertanyaan sontak berteriak gembira karena berhasil mendapatkan sate ayam yang mereka sudah tunggu-tunggu, sementara harus ada sejumlah pengunjung yang kecewa karena tidak dapat mencicipi sate ayam.

“Tidak disangka-sangka akan seramai ini pengunjung yang menunggu sate kita. Ke depannya, KBRI akan menyediakan lebih banyak lagi sate ayam untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung,” ujar Dubes RI Dakar, Mansyur Pangeran.

Booth Indonesia Favorit Pengunjung

Direktur ISD sekaligus Ketua penyelenggara, Alan Knobloch, dan para dubes menyampaikan kepada Dubes Mansyur bahwa booth Indonesia selalu menjadi yang terfavorit bagi para pengunjung World Cultural Month.

“Para pengunjung selalu mengharapkan partisipasi Indonesia tiap tahunnya karena KBRI Dakar selalu berupaya memberikan yang terbaik dalam setiap promosi budaya Indonesia,” imbuh Dubes Mansyur.

Puncak kegiatan festival budaya yang diselenggarakan International School of Dakar (ISD) ini adalah defile budaya pakaian negara-negara peserta. Pada defile ini, para ibu DWP KBRI Dakar bersama staf KBRI ikut ambil bagian dengan menampilkan keindahan dan keberagaman berbagai pakaian daerah dari berbagai provinsi di Indonesia.

Dubes Mansyur mengatakan, partisipasi KBRI Dakar dalam acara ini sangat penting guna memperkenalkan Indonesia secara lebih luas terutama dari aspek budaya. Ajang promosi tersebut diharapkan dapat memberikan daya tarik bagi warga Senegal dan warga asing untuk datang ke Indonesia, baik untuk mengunjungi tempat-tempat wisata maupun membeli produk Indonesia. Selain itu, juga tidak kalah pentingnya, KBRI Dakar mempromosikan pencalonan Indonesia untuk menjadi Anggota Tidak Tetap DK PBB Periode 2019 – 2020 dengan memajang standing banner bergambarkan kepedulian tentara nasional Indonesia yang tergabung dalam operasi perdamaian PBB.

World Cultural Month merupakan ajang prestisius yang diselenggarakan setiap tahun untuk memamerkan dan mempromosikan keunikan budaya masing-masing negara kepada masyarakat dan ekspatriat di Dakar. Partisipasi KBRI Dakar kali ini merupakan yang keenam kalinya secara berturut-turut sejak 2013 sebagai tamu kehormatan.

ISD merupakan sebuah sekolah swasta internasional di Dakar, Senegal, yang didasarkan pada kurikulum Amerika, dengan jenjang sekolah mulai dari tingkat pra-sekolah sampai tingkat 12. Komposisi murid yang belajar di ISD pun sangat beragam yaitu terdiri dari 55 negara dari seluruh dunia. (dms)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here