“Biarkan Aku Mandiri, Ayah & Bunda..”

Ilustrasi anak mandiri

Pagi ku cerah..

Matahari bersinar..

Kugendong tas merah ku di pundak..

Potongan lagu “Pagi ku cerah ku” di atas menggambarkan betapa cerianya seorang anak yang hendak berangkat sekolah. Bertemu ibu atau bapak guru menjadi kerinduan tersendiri bagi si anak. Biasanya guru yang dirindukan adalah guru yang menurut anak tersebut memiliki nilai plus. Entah karena kesabarannya, kebaikannya, atau nasehatnya yang menyejukkan hati.

Hari pertama sekolah.

Lalu bagaimana dengan anak yang belum pernah sekolah sebelumnya?  Yang tahun ini adalah tahun perdana bagi ananda sekolah?

Kalau anak merajuk, menangis hingga tantrum ketika hari pertama sekolah itu sih hal yang wajar.

Tapi bagaimana jika justru orangtua yang “enggan” melepas anak?  dengan beragam alasan. Khawatir sekolah tidak mmberikan ruang mengembangkan diri untuk anaknya, takut anak nya “dibully” teman, takut anak nangis, bla bla bla…

Nah loh,,, kalau hal demikian terjadi pada Anda. Yuk kita belajar bareng, dari orangtua untuk orangtua istilahnya. Kita harus paham dulu alasan dari kekhawatiran kita dengan memahami gejala yang ditunjukkan anak kita.

Menghadapi anak usia sekolah apalagi usia dini memang berat bagi orang tua karena masih sangat besar kemungkinan anak akan rewel. Saat-saat sulit ini bisa dimulai sejak bangun pagi, ketika mereka sulit dibangunkan, tidak mau mandi dan sarapan, serta cari-cari alasan agar tidak berangkat sekolah.

Lebih jauh lagi, anak bisa jadi mudah menangis, ketakutan, dan bahkan menunjukkan gejala sakit secara fisik seperti muntah, sakit perut, dan tangan dingin. Walhasil, mereka tidak mau bersekolah atau tidak mau ditinggal. Ini salah satu alasan mengapa orang tua “enggan” melepas anak di periode awal masa sekolahnya.

Ilustrasi anak mandiri

Mengapa proses adaptasi dan mendapatkan rasa nyaman di sekolah bisa menjadi masalah yang sulit bagi anak?

Pada dasarnya, sekolah dan rumah memang berbeda bagi anak. Di rumah, anak telah terbiasa dengan pola-pola tertentu, apalagi menyangkut cara pengasuhan. Perhatian yang didapat anak di rumah biasanya cenderung tidak terbagi, kalaupun harus terbagi paling tidak hanya sebatas 2-3 orang.

Sedangkan di sekolah, anak harus menjalankan program kegiatan yang terstruktur, dengan serangkaian aturan yang harus diikuti, dan dalam hal perhatian guru, anak harus berbagi dengan puluhan temannya.

Perbedaan cara dalam mengomunikasikan kebutuhan akan perhatian inilah yang akan menimbulkan rasa frustasi dan ketakutan bagi sebagian anak. Utamanya bagi mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan hanya sedikit orang, yang secara otomatis kebutuhannya akan perhatian bisa ia dapatkan tanpa harus bersusah payah.

Lalu, orang tua dan guru harus bagaimana?

Berikut tips mengusir jauh rasa “enggan” melepas anak di fase awal masa sekolahnya :

Pertama, butuh kerjasama orangtua dan guru

Untuk memudahkan proses adaptasi anak di sekolah, tentunya dibutuhkan kerja sama antara guru dan orang tua. Guru memegang peran melalui pendekatannya di sekolah dengan menunjukkan kepada anak bahwa sekolah adalah tempat yang baru dengan teman-teman baru dan bahwa guru bukanlah ancaman bagi anak.

Dalam menghadapi masalah anak, guru harus secara konsisten berkomunikasi dengan orang tua untuk mencari tahu kebiasaan serta minat anak. Dengan demikian, guru dan orang tua dapat bersama-sama menyusun strategi untuk mendekati anak dan perlahan-lahan bisa membentuk rasa nyaman anak di sekolah.

Kedua, jalin komunikasi efektif antara orangtua, anak, dan lingkungan sekolah/guru/teman

Jalin Komunikasi antara Orang Tua, Anak, dan Lingkungan Sekolah/Guru/Teman

Orangtua bisa mendorong dan melatih anak untuk aktif berkomunikasi dengan lingkungan barunya. Misalnya, ketika membawakan bekal, bawakan dalam jumlah lebih dan pesankan pada anak, “Nanti kuenya adik bagi ya sama temannya,” lalu ketika pulang sekolah, tanyakan pada anak, “Adik, tadi kuenya dibagi sama siapa?”

Atau bisa juga kita persiapkan anak untuk berani bercerita dengan gurunya mengenai sesuatu yang baru saja ia alami. Misalnya, “Adik nanti cerita ya sama Bu Guru, kemarin Adik sudah pintar makannya, enggak disuapi bunda.” Lalu, guru juga bisa menyambut cerita-cerita anak dengan memberi hadiah sederhana. Walau hanya dengan guntingan kertas berbentuk bintang, hal tersebut akan membuat anak merasa mendapat perhatian khusus.

Terakhir, dan ini menjadi poin yang paling penting. Percaya penuh kepada sekolah dapat menghilangkan rasa khawatir dan rasa “enggan” melepas ananda untuk memulai dunia keajaibannya di sekolah.

Hal yang sederhana ini, namun memiliki peranan penting dalam proses adaptasi anak di sekolah adalah suasana hati orang tua. Sebagian orang tua cenderung cemas ketika harus melepas anaknya di lingkungan baru.  Anak takut beginilah, takut begitulah, dan kecemasan-kecemasan lainnya.

Hal yang perlu diketahui oleh para orang tua adalah walaupun sepenuh daya kita berusaha tidak mengomunikasikan kecemasan dan keraguan kita, tapi bahasa tubuh dan ekspresi wajah sangat mudah dibaca. Karenanya, kepercayaan orang tua terhadap sekolah, khususnya guru, amatlah besar pengaruhnya dalam membantu anak membangun zona nyamannya di sekolah.

Nah, pilihannya sekarang ada di tangan anda, Parents..

Mau terus khawatir atau percaya penuh dengan sistem sekolah?

*Nurul Badriyah

Praktisi dan Pemerhati pendidikan anak.

Kepala Sekolah Kebon Alam Islami di Depok, Jawa Barat

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here