Proyek Infrastruktur DKI Jakarta Membuat Kemacetan, Sampai Kapan?

kemacetan pancoran

Proyek infrastruktur di DKI Jakarta membuat kemacetan yang begitu hebat. Dengan anda naik kendaraan pribadi ataupun transportasi umum hasilnya sama saja.

Oranyenews.com – Laporan Esklusif, Perempuan tua mengangkat tangan (sambil mengacungkan tangan) dengan nada menggerutu dan mengadu ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. “Pak, itu Pancoran kenapa macet banget sekarang ?” Proyeknya memang enggak bisa yak dikerjakan satu – satu ?” keluh si perempuan tua tsb.

Pada saat itu 14 April 2017, Ahok berkunjung ke markas grup musik slank yang terletak di Gang Potlot, kalibata untuk memenuhi undanganya. Ahok hadir berkepentingan untuk kampanye putaran ke 2 pada pilgub DKI Jakarta. Sebelum ahok menjawab perempuan tua tsb, Ahok menganggukkan kepala seakan ia membenarkan keluhan tsb.

Ahok menjelaskan keputusan membangun jalan layang pancoran, yang saat ini bersamaan dengan konstruksi proyek kereta cepat ringan alias (LRT). Proyek Light rail transit Jabodetabek digarap pemerintah pusat melalui BUMN PT. Adhi Karya. Ke – 2 Proyek tersebut di cap sebagai biang keladi dari kemacetan Jakarta, kemacetan dimulai dari jalan MT haryono hingga Universitas Kristen Indonesia yang berjarak 2-3 kilometer. Sebabnya proyek itu memakan hingga separuh lajur jalan normal.

Ahok menceritakan, Syahdan seorang konsultan datang kepadanya dan membri pilihan terkait proyek infrastruktur underpass dan jalan layang di Jakarta.

“Kalau Bapak bangun (jalan layang) sekaligus, macetnya dapat (bertambah) 80%. Apabila Bapak pilih satu-satu (Bagun jalan layang saja), macetnya 30%. Bapak mau lebih pilih yang mana?” Kata si konsultan sembari memberi masukan yang ditirukan Ahok.

“Saya pilih potong sekaligus. Macetnya tidak apa – apa jadi 80 persen (%) ,” Jawab Ahok. ” Orang Jakarta sudah terbiasa mengalami kemacetan. Yang penting 2 tahun selesai, jadi lancar. Pembangunan LRT juga sama, kami juga tidak mau ditunda – tunda lagi,” Katanya, Ahok lagi.

Sejah tahun 2015, proyek infrastruktur sarana transportasi di Jakarta digenjot habis-habisan secara serentak. Baik pemerintah pusat ataupun pemprov DKI Jakarta.

2 tahun terakhir, Pemprov Jakarta sudah membangung jalur busway melayang juruasan Tendean-Ciledug dan dua jalan layang kuningan selatan, simpang susun semanggi, permata hijau. 4 proyek tersebut sudah selesai.

Sementara itu proyek yang dibangun pemerintah pusat, selain LRT Jurusan Bekasi-Cawang dan LRT jurusan Cibubur-Cawang, adalah angkutan cepat terpadu (MRT) Koridor 1 dengan juruan lebak Bulus-Bundaran HI, Tol Antasari – Depok dan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu.

Di saat megaproyek ini belum selesai, proyek langsung digeber pak Jokowi tahun ini lewat konstruksi LRT Cawang – Dukuh Atas, Tol layang Jakarta-Cikampek dan  ruas tol dalam kota jurusan sunter pulo gebang yang dipegang oleh Kementrian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat.

Meningkatnya jumlah proyek juga terjadi oleh Pemprov DKI Jakarta. Tahun ini ada 7 proyek besar diantaranya :

  • 3 jalan layang di Bintaro Permai, Pancoran, Cipinang Lontar.
  • 3 underpass di Jalan Kartini Matraman & Mampang-Kuningan.
  • Dan proyek LRT yang ditangani oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) rute Kelapa Gading-Velodrome.

Proyek yang digagas pemerintah pusat ditargetkan akan selesai dan dapat broprasi sebelum 2019, seperti Tol penghubung ke arah Jakarta, Tol dalam kota, LRT ataupun MRT. Targetnya diakui PT Adhi Karya (persero) Tbk.

Budi Harto Sebagai Direktur Utama PT Adhi Karya mengatakan, pihaknya dituntut presiden Jokowi untuk menyelesaikan LRT Jabodetabek sesuai rencana awal, dengan menyelesaikan konstruksi fisik pada akhir 2018, dan mulai beroperasi pada tanggal 2019, tepat ketika pemerintahaan jokowi berakhir-apabila tidak terpilih lagi.

Pemprov Jakarta menargetkan proyek pengembangan simpang jalan dapat selesai pada akhir tahun ini. “Progres  pembangunan underpass dan flyover saat ini sudah mencapai 60 %. Kami terus berusaha untuk menyelesaikan proyek ini pada akhir tahun,” kata Herus Suwondo dari Dinas Bina Marga DKI Jakarta.

Proyek LRT Jakarta ditargetkan dapat beroperasi sebelum pelaksanaan Asian Games,  rencananya digelar pada 2 Agustus – 18 September tahun 2018.

“Konstruksi LRT Jakarta terus berjalan, dan kontraktor sudah memulai pengupasan jalur hijau, menebang pohon, penanaman kembali pohon di BKT, pemasangan pagar proyek, dan perataan tanah. Presiden Direktur PT Jakarta Propertindo mengungkapkan ” Kami terus bergerak dan masih on-schedule. Tanggal 6 Agustus 2018 ditarget sudah bisa beroperasi.

Proyek Pengembangan Infrastuktur Jakarta
Sumber Tirto.id

 

Membuat Jalan Raya Menjadi lebih Sempit

Berbeda pada tahun sebelumnya, pengerjaan proyek pada tahun ini berdampak sangat signifikan terhadap kemacetan di DKI Jakarta, yang memang sudah sangat parah akibat volume kendaraan lebih tinggi ketimbang penambahan jalan raya.

Hal itu karena lokasi proyek seringkali berdekatan, bahkan berada dijalur yang sama. Contohnya, pengerjaan berbarengan LRT Jakarta Kelapa Gading – Velodrome dengan Tol Jurusan Sunter – Pulo Gebang di Jalan Boulevard Timur & Barat, Jakut.

Di titik ini juga selain ada proyek dari pemerintah dan pemprov DKI Jakarta, Pihak swasta lewat Agung Sedayu Group pengembang properti terbesar di Indonesia menggarap proyek infrastruktur lewat jembatan layang dari jalan Boulevard Timur, yang tembusanya ke arah Cakung Tipar. Proyek ini sudah berjalan sejak 2014, akan tetapi mangkrak dan direncanakan beroperasi bulan depan.

“Saya sebenarnya sudah malas kalau pagi dan sore lewat sini. Saya saja yang pakai motor dapat menghabiskan waktu sampai setengah jam sendiri dari La Piazza Ke Mall Of Indonesia (MOI),” gerutu curhatan Irvan, Seorang driver Go Jek, menyebutkan 2 lokasi yang berdekatan normalnya bisa ditempuh 10 menitan.

” Gimana tidak macet? ini lajur jalan hampir dihabisin proyek, untuk nyalip pakai motor pun sulit. Belum lagi seringkali truk proyek parkir sembarang seenaknya saja,” kata Irvan.

Kontraktor Tol Jurusan Sunter – Pulo gebang, PT Jakarta Tollroad Development dan PT Jakpro Sebagai pembangun LRT Jakarta Pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk solusi mengurai kemacetan.

Namu, Pada faktanya dilapangan, lajur jalan semakin sempit mau tidak mau akan membuat kemacetan parah hal itu sulit terhidar.

“Tidak apa apa sekarang macet, akan tetapi 5 – 6 tahun mendatang, Jakarta dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ucap Frans S. Sunito Dirut PT Jakarta Tollroad Development

Apa yang teradi di Kelapa Gading tidak separah di Cawang – Pancoran – Kuningan. Keluhan kemacetan disana bahkan dilontarkan langsung Pak Joko Widodo Selaku Presiden Indonesia.

“Saya kemarin ketemu Pak Jokowi. Dia ngeluh, “Pancoran macet!!” Kata Basuki Tjahaja Purnama meniru ucapan Jokowi pada April lalu. “kan, keputusan ini sudah di sepakatai bersama – sama (tahu sama tahu), pak,” Jawab Ahok, menjelaskan keputusan untuk menggeber proyek infrastruktur berbarengan saat Jokowi masih menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Sepanjang Jalan Cawang – Pancoran – Kuningan terdapat kontruksi LRT Jabodetabek, pembangunan tiang pancangnya saja menghabisakan hampir dua jalur atau separuh badan jalan menjadi lebih sempit.

Setiap Senin Jam 8 – 9 pagi, pengendara mobil dari tol Cililitan hingga Taman Mini Indonesia Inda (TMII) terkena macet yang jaraknya 12 Kilometer dari cawang, data ini berdasarkan Google Traffic.

Sementara itu kendaraan dari arah Bekasi via Tol Cikampek, dampak kemacetanya meluas hingga pintu Tol Jatiwaringin. Penyebabnya dikarenakan Ketika keluar dari pintu tol, mobil harus bersempit – sempitan melalui jalan MT Haryono yang hanya disediakan 2 – 3 lajur dari semulanya 4 jalur.

Aep Saefullah, seorang supir travel Bandung – Jakarta, harus melalui jalur ganas ini. Tiap hari ia mengantar penumpang dari Pasteur ke pul travel di Pancoran.

“Saya sudah minta ganti rute bos, sudah tidak kuat lewat jalur ini. Bayangin, bukan di jam sibuk aja, dari Bandung ke Cawang paling 2 jam. Dari Cawang ke Pancoran bisa menempuh 2,5 jam sendiri. Siapa yang tidak stres?” katanya. Jarak Bandung dan Cawang berjarak sekitar 144 km, Sedangkan jarak Cawang dan Pancoran cuma 5 km. Perbedaan yang sangat mencolok akibat macet yang parah ini.

kemacetan pancoran
Kemacetan Patung tugu Pancoran – MT Haryono

“Bagaimana tidak macet? Semua kendaran numpuk tumplek jadi satu. Yang pakai mobil, motor, dan TransJakarta  harus melewati jalan ini, jadi lebih sempit. Hari biasa sudah macet, apalagi jalanya dibikin sempit,” kata Bripda Andi, Polantas yang sedang bertugas di dekat Halte BNN, Cawang.

Berbagai cara sudah dilakukan Dishub, Dirlantas, kontraktor, dan Polda untuk mengurai kemacetan dengan mengalihkan arus lalu lintas agar dapat mengurangi volume kendaraan. Akan tetapi, sejauh ini, hasilnya belum bisa terlihat efektif.

Apa Benar Bisa Selesai pada akhir 2018? 

Pengamat tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriantna, Menilai bahwa pengendara sudah telat untuk mengeluh kemacetan akibat konstruksi infrastruktur proyek tersebut, “Yang dibutuhkan saat ini adalah kepastian. Berapa lama dan kapan proyek – proyek ini akan selesai, 2018 atau 2019? sehingga hal ini dapat disiasatinya,” ucapnya.

Data terbaru dari PT Adhi Karya selaku kontraktor, yang diterima oleh reporter Oranyenews, melaporkan sampai Agustus lalu, progres pembangunan LRT Jabodebek fase 1 baru mencapai 19,9%, dengan progres masing – masing  lintas layanan berbeda –  beda : Jalur Cawang – Cibubur 36,7%, Cawang – Bekasi Timur 20,2 % dan Cawang – Dukuh atas 4,9 %.

Dari data di atas, menggambarkan capaian tiap proyek masih di bawah 50 %.

Pertanyaannya: Apakah bisa target akhir tahun 2018 dapat tercapai? Terlebih lagi kedepanya akan di lalui bulan bulan musim hujan, bisanya antara November – Janurai hal ini dapat mengganggu kelancaran proyek.

Begitu juga pembangunan jalan Underpass yang di pegang oleh Pemprov DKI, Diakui Dinas Bina Marga, Hambatan tsb berpotensi memperlambat waktu pengerjaan proyek.

“Kendala – kendala yang dihadapi di lapangan cukup lumayan. terutama pada saat pembangunan jalan underpass. Kendala utama masih adanya crossing utilitas yang belum dipindahkan,” kata Herus Suwondo sebagai Dinas Bina Marga Jakarta.

Crossing itu di antarnya pipa Gas milik PGN PLN, dan PAM. Lalu kapan bisa selesai nya? “Tergantung kapan pihak utilitas yang bersangkutan untuk bisa sesegera memindahkan. Kita mengharapkan, pihak para pemilik jaringan utilitas segera mungkin untuk memindahkannya sehingga kita bisa segera mulai bekerja di area tersebut,” katanya.

Guru Besar Transportasi, Leksmono Suryo Putranto dari Universitas Tarumanegara, menyebutkan faktor nonteknis seringkali berpengaruh besar terhadap lancaranya laju proyek. Efeknya, macet akan menjadi parah akibat proyek bakal lama.

“ini harus diantisipasi, apakah proyek ini akan berjalan lancar dan sesuai jadwal tidak?” katanya. ” Apabila tidak pemerintah dan kontraktor harus bisa terbuka kepada masyarakat, karena efek kemacetan yang  ditimbulkanya sangat merugikan masyarakat.”

Dengan adanya kemacetan dari efek pembagunan LRT ini, ia berharap, Jika tiang – tiang pancang sudah dipasang dan jalur – jalur rel sudah terhubung, alangkah bijaknya seng penutup dilepas.

“Saya tahu itu bisa dibuka. Ya bukainlah. Apabila dibuka, ruang lalulintas akan menjadi lebih lebar,” permintaannya.

pt adhi
Seng penutup proyek

Terkait keluhan penyempitan jalan akibat proyek ini, Sekretaris Korporat Ki Syahgolang Permata PT Adhi Karya,  mengatakan bahwa kondisi saat ini bakal terus dibiarkan hingga proyek semuanya selesai. Dari kesimpulan ini artinya permintaan yang diminta oleh Leksmono sangat mungkin tidak ditanggapi.

“Semuanya menunggu seluruh jalur proyek sudah siap untuk beroperasi sesuai dengan SOP nya ,” kata Permata.

Artinya kemacetan bakal parah dan terus dialami oleh pengendara disepanjang Cawang – Pancoran – Kuningan, dan mereka harus menahan kesabaran hingga tahun 2019 dengan catatan: Proyek tidak mangkrak, Proyek tersebut dapat memenuhi target pemerintahan Jokowi – JK

Sumber :
Tirto.id

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here