Pemuda ini Malah Sukses Jadi Miliarder Setelah Ditolak 5 kali Ketika Melamar Pekerjaan, Kok Bisa?

Suatu Kisah Inspirasi di dunia bisnis bagi mereka yang ingin berusaha dan bangkit dari keterpurukan (foto : ist

Rezeki kadang tidak dapat ditebak pada kemampuan manusia terbilang terbatas. Salah satu cara yang dapat ditempuh dengan berusaha sesuai pada kadar kemampuan yang dimiliki.

Tetapi tak jarang, pasti selalu ada halangan dan rintangan yang menghampiri, itu semua tergantung pada tingkat kesabaran dan tekad yang dijalani setiap prosesnya.

Kelihatannya, dalam urusan menjemput rezeki lebih layak disematkan untuk sosok pemuda ini. Sempat frustasi akibat lamaran pekerjaannya selalu ditolak, pria yang berasal dari Surabaya, Jawa Timur ini justru mendulang sukses sampai menjadi seorang miliarder.

Banyaknya wirausaha muda akhir-akhir ini, malah menginspirasi Wahyu Adjie Setiawan.

Wahyu Adjie Setiawan
Wahyu Adjie Setiawan (foto : ist)

Saat itu ia tengah duduk di bangku kuliah di Surabaya, berusaha mencari ide untuk tambahan uang sakunya. Hal itu tercetus sesudah melihat langsung beberapa temannya yang sukses memiliki penghasilan tambahan, di samping mendalami kegiatan perkuliahan.

Banyak temannya yang berprofesi sebagai tenaga lepas atau freelancer dalam sebuah perusahaan. Tetapi sayang, ia sering ditolak ketika melamar menjadi tenaga kerja lepas dalam sebuah perusahaan.

Total, sebanyak lima kali penolakan yang didapatinya waktu itu.

bisnis konveksi
Ilustrasi bisnis konveksi (foto : ist)

Beralih-alih ingin mandiri. Selalu pengalaman pahit yang diperolehnya. Sebagai pengganti, ia tetap berusaha ingin mandiri dengan modal nekat menjadi seorang pengusaha. Berbekal pengalaman berjualan di bangku SMP, Adjie memperoleh tawaran dari Badan Eksekutif Mahasiswa di kampusnya supaya mengelola toko mereka.

Padahal, ketika itu baru satu semester menjalani perkuliahan. Bahkan saat satu tahun semasa kuliah, Adjie sanggup berbisnis untuk skala lebih besar.

Ia juga berhasil memenangi tender dalam pembuatan kaos mahasiswa sejumlah 1.200 buah yang diadakan kampusnya.

Disayangkan, uang muka 30 persen dari kampus yang diberikan untuknya, belum memenuhi persyaratan pabrik konveksi yang ingin memproses pesanannya. Pabriknya mematok 50 persen jumlah uang muka di awal.

Untuk menyiasatinya, ia terpaksa memberikan KTP sebagai jaminan agar pesanan kaos dapat segera dikerjakan. Dosen kampus mengubah jalan hidupnya waktu itu.

Bakat bisnis tumbuh di Wahyu Adjie Setiawan, ternyata sudah diamati oleh sang dosen.

tas souvenir
Ilustrasi tas souvenir (foto : ist)

Tak lama dosen itu menawarkan dirinya membuat tas seminar untuk dijadikan souvenir sebanyak 200 buah dengan waktu seminggu. Tanpa pikir lama, tawaran itu disanggupinya. Ia pun memulai memproses orderan tersebut dengan melibatkan langsung sejumlah para pengrajin tas yang berada di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo.

Dari order tas tersebut, akhirnya menjadi ladang kesuksesan untuk masa depannya. Ketika itu, ia kemudian berpikir bahwa mengembangkan bisnis tas jauh lebih mudah dibandingkan kaos konveksi.

Selain tidak memerlukan ukuran yang berbeda-beda, waktu produksinya pun lebih efisien sebab tidak membutuhkan revisi yang dapat menyita tenaga.

Alhasil, Adjie mulai mengubah haluan dalam bisnisnya. Karena telah berpengalaman mendalami bisnis sebelumnya, ia juga tidak merasa kesulitan dalam mengembangkan bisnis barunya ini.

Mengusung merek Ortiz, ia menghasilkan tas kasual yang berkualitas Internasional. Bahkan dijual di pasar Asia, seperti Singapura dan Malaysia.

Merek tasnya pun sudah memperoleh kontrak sejumlah 6 ribu tas dengan waktu setahun.

Bisnis tas yang sukses
Produk tas buatan Wahyu Adjie Setiawan (foto : ist)

Tetapi sayang, belum genap setahun berbisnis, merek tasnya tersebut dilanda kasus pelanggaran paten oleh sebuah merek yang berasal dari Spanyol. Yang melabeli dengan nama sama Ortiz.

Bahkan, perusahaan asing itu tengah mengancam ingin mengajukan denda sejumlah Rp 7 miliar bila produk tas miliknya tidak ditarik dari pasaran. Karena masalah inilah, Adjie segera menarik penjualan tas miliknya dan menanggung kerugian sebesar Rp 600 juta.

Bangkit dari keterpurukannya dan mengubah dirinya jadi seorang miliarder

Wahyu Adjie Setiawan
Wahyu Adjie Setiawan Mulai Bangkit dan sukses setelah terpuruk (foto : ist)

Tak mau larut dalam kesedihannya, ia mulai menghidupkan lagi bisnis tasnya di tahun 2011. Dengan label baru Evrawood, Adjie pergi ke Singapura demi mengurus hak paten merek itu.

Untuk menarik minat dari para calon pelanggannya, Adjie menawarkan garansi kerusakan pada tas berjangka tiga tahun. Ia akan lebih berfokus untuk kualitas bahan, cara pembuatan sampai kekuatan tas. Dan ia menempati puncak kejayaannya lagi bahkan hingga ke Pasar Eropa.

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here