Kronologis Debora Meninggal Usai Ditolak Masuk PICU karena Uang Jaminan

Kuburan bayi Debora. (foto: kumparan)

JAKARTA- Peristiwa meninggalnya bayi Tiara Debora pasti sangat sulit dilupakan pasangan Rudianto Simanjorang dan Henny Silalahi. Keduanya masih ingat betul detik-detik peristiwa yang menyesakkan dada tersebut.

Peristiwa bermula dari bayi Tiara Debora yang mengalami sakit pilek selama sepekan. Tak kunjung sembuh, Henny pun membawa Debora ke RSUD Cengkareng. Rekam medis Debora menjadi alasan Henny membawanya ke sana. Di sana, Debora diberikan nebulizer sebanyak dua kali dalam sehari, dan juga mendaoatkan obat.

Kuburan bayi Debora. (foto: kumparan)

BACA JUGA: DAFTAR BAYI MENINGGAL KARENA UANG JAMINAN

Kata Henny, anaknya sempat nyenyak tidur, tapi tidak kunjung sembuh. Sabtu malam, Debora mengalami keringatan dan sesak nafas. Tak piker panjang, Minggu dinihari, Henny langsung memanggil suaminya dan memberikan informasi mengenai kondisi anaknya.

Sang suami pun bergegas mengambil motor, dan mencari rumah sakit terdekat dari rumahnya. Adalah RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, akhirnya dipilih menjadi tujuan, karena sangat dekat dengan rumahnya.

Setibanya di sana, dokter jaga langsung memberikan pertolongan pertama kepada Debora. Saat itu, kata Henny, dokter memberikan pertolongan dengan memberi oksigen dan penyedotan dahak. Tapi, dokter mendiagnosa bahwa Debora harus masuk ke Pediatric Intensive Care Unit atau PICU.

Henny pun setuju, dan meminta dokter memberikan perawatan yang terbaik dia mengaku punya kartu BPJS. Tapi sang dokter mengingatkan bahwa rumah sakit belum bekerjasama dengan BPJS, sehingga pembayaran harus dilakukan secara cash.

Henny mendampingi Debora di IGD, sementarara sang ayah mendatangi bagian administrasi untuk menanyakan biaya untuk masuk PICU. Di bagian administrasi, Rudianto disodori secarik kertas berisikan biaya jaminan untuk masuk PICU sebesar Rp19,8 juta, dengan kamar Rp900 ribu perhari.

Lalu, petugas admin menjelaskan bahwa Debora tidak bisa masuk PICU jika tidak ada uang jaminan sebesar Rp11 juta tersebut. Rudianto yang saat itu tidak membawa apa-apa, langsung kembali ke rumah dan mengambil dompet, dan menarik uang dari ATM di rumah sakit sebesar Rp5 juta. Tapi, saat disodorkan uang tersebut, pihak admin tidak dapat menerimanya. Debora pun masih tetap berada di dalam ruang IGD. Padahal saat itu, orangtua Debora sudah berjanji mencoba melunasinya di siang hari, dan meminta agar Debora disegerakan masuk ruang PICU.

Bayi Debora. (foto Ist)

Orangtua Debora saat itu juga sudah mendapat bantuan Rp2 juta, tapi belum juga cukup. Akhirnya, hanya bisa digunakan untuk membayar uang lab sebesar Rp1,7 juta.

Rudianto dan Henny pun berencana memindahkan Debora ke RS lain yang bekerjasama dengan BPJS, tapi saat itu ruang PICU RS terdekat sedang penuh. Lalu, kemudian mereka berencana untuk memindahkan ke RS Koja Jakarta Utara, hal tersebut disampaikan kepada dokter Ivan yang berjaga saat itu. Kemudian, Dokter menjelaskan bahwa hasil lab Debora terkait saturasi oksigen sudah baik, sehingga bisa dipindahkan. Akan tetapi, dengan wajah panik, suster kemudian mendatangi Dokter Ivan dan mengabarkan bahwa kondisi Debora kritis. Dokter segera melakukan penanganan.

Henny yang bersama Debora saat itu merasakan tangan anaknya sudah dingin, Debora masih bernafas tapi detak jantungnya tidak terasa. “Tuhan tolong jangan ambil anak saya,” batin Henny.

Tapi, nyawa Debora tak tertolong dan dokter mengabarkan bahwa anaknya sudah meninggal dunia.

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here