Kemiripan Fredrich Yunadi Saat Tangani Kasus Susno Duadji dan Setya Novanto

ORANYENEWS- Setiap pengacara punya cara, strategi tersendiri dalam memberikan masukan/nasihat kepada kliennya dalam menghadapi masalah hukum. Tak terkecuali dengan Fredrich Yunadi. Dia pun punya cara tersendiri, namun caranya hampir mirip saat menangani kasus tokoh high profile seperti mantan Kabareskrim Komjen (purn)  Susno Suadji  dan mantan Ketua DPR Setya Novanto.

Melihat bagaimana mantan Ketua DPR Setya Novanto selalu menghindar dari pemeriksaan KPK,  dari sakit di RS Premiere Jatinegara, sidang di DPR, hingga sebuah kecelakaan menabrak tiang listrik,  dan dirawat di RS Permata Hijau, ingatan jadi kembali ke April 2013, saat Kajati Jakarta dan Jawa Barat gagal mengeksekusi mantan Kabareskrim Komjen (purn) Susno Duadji,  kemudian dinyatakan buron.

Ceritanya,  Mahkamah Agung menolak kasasi Susno Duadji dan menetapkan vonis 3 tahun, 6 bulan penjara dalam kasus korupsi PT Salmah Arowana Lestari dan korupsi dana pengamanan Pilkada Jawa Barat.

Kemudian,  pada Rabu,  24 April 2013, tim eksekusi Kejaksaan Tinggi Jakarta, Kejati Jabar, dan Kejari Bandung mendatangi rumah Susno Duadji di Dako Pakar,  Bandung,  Jawa Barat. Proses eksekusi klien Fredrich Yunadi itu berlangsung alot  dan ricuh,  Susno Duadji tidak mau dieksekusi karena dianggapnya cacat dan melanggar hukum.

Ketua Majelis Syuro PBB Yusril Ihza Mahendra juga turut membantu, pasalnya Susno merupakan salah satu caleg PBB. Susno kemudian meminta perlindungan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Tb Anis Angkawijaya. Proses negosiasi pun dilangsungkan di Mapolda Jawa Barat,  namun hingga tengah malam,  upaya eksekusi yang berlangsung selama belasan jam itu pun gagal.

Usai negosiasi gagal itu,  Susno dinyatakan buron pada 28 April,  karena tidak juga datang untuk menjalankan eksekusi setelah tiga kali panggilan. Kejaksaan pun menyebarkan surat perintah atas nama Susno Duadji.

Di tengah buron,  Susno sempat menampakkan diri melalui Youtube dan menyatakan dirinya tidak buron,  dia tengah berada di Dapil I Jawa Barat untuk berkampanye.

Saat itu,  Fredrich Yunadi mengatakan bahwa keberadaan Susno dirahasiakan karena masuk program perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Namun, klaim itu pun langsung dibantah Komisioner LPSK, Lili Pintauli Siregar, “LPSK tak bisa menyembunyikan Susno.”

Pelaksana tugas Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Amir Yanto, mengatakan bahwa Susno menjadi buron karena bujukan pengacaranya tersebut, Fredrich Yunadi. Jaksa Amir juga menuding Fredrich telah menghalangi proses eksekusi terhadap Susno. “Yang menahan-nahan dia (Susno) selama ini adalah pengacaranya (Fredrich),” kata Amir di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, 3 Mei 2013.

Namun,  akhirnya Susno Duadji menyerahkan diri untuk dieksekusi Kejaksaan di LP Kelas Ii A Cibinong, Kamis 2 Mei 2013 malam, di penjara itu Susno menjalani sisa hukumannya.

Fredrich Yunadi saat itu tidak tahu kliennya menyerahkan diri,  karena dirinya tidak dilibatkan sama sekali

Fredrich mengatakan, lantaran tidak ada koordinasi sebelum menyerahkan diri, ia tidak tahu apa alasan Susno berubah sikap. Ia juga tak tahu mengapa Susno memilih menjalani sisa hukuman di Lapas Klas II A Cibinong.

Amir Yanto mengungkapkan bahwa Susno mengaku menyesal telah melawan eksekusi jaksa. Setelah tahu hasutan itu keliru, katanya, Susno mengaku sudah memecat Fredrich Yunadi dari jabatan kuasa hukumnya.

Amir saat itu menuding ayah dari Miss Indonesia 2011, Astrid Ellena itu hanya ingin memanfaatkan kontroversi kasus Susno Duadji demi popularitasnya sebagai pengacara.

Fredrich Yunadi saat itu membantah tudingan Amir. Dia balik menuduh Amir tendensius dan memutarbalikkan fakta atas keterangan Susno. “Itu adalah fitnah,” ujarnya. Fredrich mengaku punya bukti, baik pesan singkat maupun pesan BlackBerry, mengenai sikap Susno terhadap rencana eksekusi Kejaksaan Agung.

Walaupun menganggap aksi pengacara Fredrich Yunadi menghalangi proses penegakan hukum,  tapi kejaksaan saat itu tidak memidanakan Fredrich Yunadi.

Tapi saat berhadapan dengan KPK,  Fredrich Yunadi tidak berkutik.  Setelah ditemukan bukti yang cukup bahwa dirinya mengatur/merekayasi sakitnya Setya Novanto, dia langsung dijebloskan ke dalam penjara.

Kini,  Fredrich Yunadi bersama kliennya mendekam di balik jeruji penjara KPK.

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here