Ini 2 Penyebab Gagalnya Bisnis 7 Eleven

7 Eleven ditutup

JAKARTA- Waralaba asal Amerika Serikat 7 Eleven yang hak dagangnya di Indonesia dipegang PT Modern Internasional Tbk (MDRN) tumbuh begitu cepat. Tercatat, sebanyak 187 gerai pernah mereka miliki. Tapi mengapa bisnis yang demikian cepat tumbuh itu justru demikian cepat merugi dan bangkrut? Apa penyebabnya?

Ambruknya 7 Eleven menyita perhatian banyak orang, pasalnya banyak yang mengira waralaba dengan konsep gabungan minimarket dengan restoran itu adalah alternatif atau masa depan dari minimarket Tanah Air. Sebab, setelah kemunculan 7 Eleven, muncul minimarket dengan konsep hampir serupa, seperti Lawson dan Family Mart. Tapi, semua perkiraan terbalik, 7 Eleven, pelopor gabungan minimarket dan restoran itu justru cepat ambruk.

7 Eleven ditutup

Baca juga: Saham Perusahaan Induk 7 Eleven Ambruk dari Rp13,000 Jadi Rp50 per lembar

Bahkan, saham induk perusahaan 7 Eleven, yaitu PT Modern Internasional Tbk juga ikut ambruk di pasar saham, harga saham yang tadinya mencapai Rp13.000 per lembar sahamnya, kini ambruk menjadi Rp50 per lembar saham. Masuk kategori saham termurah di bursa saham.

Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, angkat bicara mengenai ambruknya bisnis 7 Eleven. Menurutnya, kesalahan pertama adalah 7 Eleven terlalu mengandalkan profit perdagangan.

Menurutnya, minimarket lainnya hanya mengambil profit sedikit, tidak banyak. Mereka justru mengambil keuntungan dari perusahaan-perusahaan yang memasukkan barang kepada mereka. “Di-charge (dikenakan biaya) untuk mereka (perusahaan pemasok barang), sehingga bisa diperkirakan ya (7 Eleven) kalah saing,” ujar Darmin Nasution, Senin 3 Juli 2017.

7 Eleven

Kata Darmin, kesalahan kedua 7 Eleven adalah tentang skema perdagangan retail yang menyerupai restoran. Menurutnya, dengan konsep tersebut banyak ditemui gerai 7-Eleven yang hanya dijadikan tempat nongkrong konsumennya, tetapi tak sepadan dengan pemasukan yang didapatkan lantaran pembelian dari konsumen juga terbilang sedikit.

“Ini masalah bisnis model. Sehingga bukan itu bisnis model yang pas (untuk minimarket di Indonesia) sebab itulah akhirnya pesaingnya mengungguli dia (7 eleven),”  katanya.

Tapi, ada analisa lain yang menyebutkan bahwa salah satu penyebab bangkrutnya 7 Eleven adalah perihal larangan minuman beralkohol, kabarnya minuman beralkohol menjadi penopang bisnis 7 Eleven.

Darmin pun menampik analisa tersebut. Menurutnya, itu tidak ada hubungannya sama sekali. Pemasukan dari minuman beralkohol kecil sekali. Tapi, bahwa itu menambah besar persoalan yang dihadapi, itu bisa saja.

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Supit menilai lepas dari kesalahan internal manajemen 7-Eleven, dia berharap Pemerintah mendukung pelaku bisnis serupa bisnis 7-Eleven. Pasalnya, dengan adanya dukungan Pemerintah, diharapkan kejadian pahit 7-Eleven tidak terulang kembali bagi bisnis waralaba lainnya.

Salah satu contohnya adalah soal regulasi pemerintah yang berubah-ubah dan tumpang tindih, sehingga membingungkan pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya.

Menurutnya, sangat disayangkan waralaba internasional sekelas 7 Eleven bisa bangkrut, justru dalam pandangannya dengan masuknya 7-Eleven di Indonesia dapat mengangkat nama baik Indonesia dalam dunia bisnis internasional.

Bisnis warabala ini juga tak hanya untungkan pengusaha, tapi juga menguntungkan masyarakat, karena dapat menyerap banyak tenaga kerja, tak hanya di kota bahkan di daerah. “Pengangguran pun dapat berkurang,” katanya.

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here