Curhat Komika Acho tentang Green Pramuka yang Berujung Pengadilan

Komika Acho

HATI-HATI jika Anda curhat di media sosial, jika objek curhat tidak berkenan, maka siap-siap saja dipolisikan. Kejadian itu, baru saja dialami komika Muhadkly MT alias Acho. Pria yang namanya melambung dari stand up komedi itu dipolisikan pengelola Apartemen Green Pramuka dengan ancaman pasal ITE. Acho pun ditetapkan polisi sebagai tersangka.

Peristiwa bermula dari tulisan Acho di blognya Muhadkly.com pada 8 Maret 2015. Tulisan bertajuk “Apartemen Green Pramuka City dan Segala Permasalahannya” itu berisikan curhatan Acho terhadap pengelolaan Apartemen Green Pramuka City yang dianggapnya sewenang-wenang  dan merugikan konsumen pemilik unit apartemen Green Pramuka City.

Komika Acho

Ada 4 hal yang disampaikan Acho di dalam curhatannya:

Pertama, Sertifikat yang tidak kunjung diterima

Acho menuliskan bahwa sejak dirinya membeli apartemen tersebut, 9 Februari 2013, hingga menuliskan curhatan tersebut, tidak kunjung menerima sertifikat. Tak hanya dirinya, pemilik apartemen lainnya yang sudah 3 tahun menghuni, bahkan melunasi pembelian apartemen juga tak dapat sertifikat. Bahkan, ada di antara mereka yang memasang tulisan besar di balkon. “Mana Sertifikat Kami”

Kedua, Lahan Parkir yang kurang layak

Acho juga menuliskan soal biaya parkir Rp200 ribu perbulan bagi penghuni yang ingin berlangganan parkir. Itu pun hanya dibolehkan parkir di basement 2 yang menurutnya saat itu masih berdebu dan tidak ada fasilitas lift. Jika parkir di tempat lain, di luar basement 2 harus membayar kembali setiap jamnya.

Ketiga, biaya IPL yang melonjak

Masalah lainnya yang dicurhati Acho adalah soal Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) yang terus melonjak, tanpa adanya fasilitas yang dijanjikan. Maret 2015, Acho menuliskan bahwa Apartemen Green Pramuka menaikkan harga IPL sebesar 45% secara sepihak, dari Rp9.500/m2, menjadi Rp14.850/m2. Acho sebagai pemilik apartemen dengan luas 33 meter pun harus membayar IPL sebesar Rp490,050 perbulan.

Tak sampai di situ, Acho kemudian update kembali bahwa biaya IPL kembali naik per 23 Februari 2016 menjadi Rp18,700/m2 dengan itu maka dia harus membayar Rp617,000. Kenaikan tersebut, tidak ada diskusi sama sekali dengan pihak penghuni.

Keempat, Perijinan Renovasi

Dalam curhat lanjutannya, komika Acho menyampaikan keluhannya mengenai list tarif perijinan jika penghuni ingin melakukan renovasi menggunakan jasa pekerja di luar yang ditunjuk Apartemen Green Pramuka.

Bahkan, Acho memposting foto list tarif ijin tersebut, di mana salah satunya penghuni yang ingin memasang cermin harus membayar ke pihak pengelola sebesar Rp50,000.

Akibat curhatannya tersebut, Acho ditetapkan sebagai tersangka dan kasusnya sudah dinyatakan lengkap atau P21 oleh Kejati DKI Jakarta pada 27 Juli 2017 lalu. Rencananya, Senin 7 Agustus ini berkas Acho akan diserahkan ke Kejari Jakarta Pusat.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan bahwa pihak Acho ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap telah memposting tulisan atau gambar yang memuat pencemaran nama baik dan fitnah terhadap Apartemen Green Pramuka.

Tak hanya di blog, Acho juga memposting tulisan bertajuk “Ada Maling Berkedok Pengelola di #greenpramuka” di akun twitternya @muhadkly.

Meme soal komika Acho yang beredar.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ikut angkat suara mengenai kasus yang menimpa Acho tersebut. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menilai bahwa tulisan Acho tersebut tidak berpotensi melanggar hukum, jika dilihat dari perspektif UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

Menurutnya, apa yang ditulis Acho merupakan upaya dalam mendapatkan hak-haknya yang diduga dilanggar pengembang apartemen. Itu hanyalah bentuk kekecewaan saja.

Dalam UU Perlindungan Konsumen Pasal 4, bahwa konsumen berhak untuk didengar pendapat dan keluhannya. Termasuk keluhan dan pendapat melalui media massa dan media sosial. Asalkan sesuai fakta dan tidak berpotensi fitnah.

Curhat Komika Acho tentang Green Pramuka yang Berujung Pengadilan

Hati-hati jika Anda curhat di media sosial, jika objek curhat tidak berkenan, maka siap-siap saja dipolisikan. Kejadian itu, baru saja dialami komika Muhadkly MT alias Acho. Pria yang namanya melambung dari stand up komedi itu dipolisikan pengelola Apartemen Green Pramuka dengan ancaman pasal ITE. Acho pun ditetapkan polisi sebagai tersangka.

Peristiwa bermula dari tulisan Acho di blognya Muhadkly.com pada 8 Maret 2015. Tulisan bertajuk “Apartemen Green Pramuka City dan Segala Permasalahannya” itu berisikan curhatan Acho terhadap pengelolaan Apartemen Green Pramuka City yang dianggapnya sewenang-wenang  dan merugikan konsumen pemilik unit apartemen Green Pramuka City.

Ada 4 hal yang disampaikan Acho di dalam curhatannya:

Pertama, Sertifikat yang tidak kunjung diterima

Acho menuliskan bahwa sejak dirinya membeli apartemen tersebut, 9 Februari 2013, hingga menuliskan curhatan tersebut, tidak kunjung menerima sertifikat. Tak hanya dirinya, pemilik apartemen lainnya yang sudah 3 tahun menghuni, bahkan melunasi pembelian apartemen juga tak dapat sertifikat. Bahkan, ada di antara mereka yang memasang tulisan besar di balkon. “Mana Sertifikat Kami”

Kedua, Lahan Parkir yang kurang layak.

Acho juga menuliskan soal biaya parkir Rp200 ribu perbulan bagi penghuni yang ingin berlangganan parkir. Itu pun hanya dibolehkan parkir di basement 2 yang menurutnya saat itu masih berdebu dan tidak ada fasilitas lift. Jika parkir di tempat lain, di luar basement 2 harus membayar kembali setiap jamnya.

Ketiga, biaya IPL yang melonjak

Masalah lainnya yang dicurhati Acho adalah soal Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) yang terus melonjak, tanpa adanya fasilitas yang dijanjikan. Maret 2015, Acho menuliskan bahwa Apartemen Green Pramuka menaikkan harga IPL sebesar 45% secara sepihak, dari Rp9.500/m2, menjadi Rp14.850/m2. Acho sebagai pemilik apartemen dengan luas 33 meter pun harus membayar IPL sebesar Rp490,050 perbulan.

Tak sampai di situ, Acho kemudian update kembali bahwa biaya IPL kembali naik per 23 Februari 2016 menjadi Rp18,700/m2 dengan itu maka dia harus membayar Rp617,000. Kenaikan tersebut, tidak ada diskusi sama sekali dengan pihak penghuni.

Keempat, Perijinan Renovasi

Dalam curhat lanjutannya, komika Acho menyampaikan keluhannya mengenai list tarif perijinan jika penghuni ingin melakukan renovasi menggunakan jasa pekerja di luar yang ditunjuk Apartemen Green Pramuka.

Bahkan, Acho memposting foto list tarif ijin tersebut, di mana salah satunya penghuni yang ingin memasang cermin harus membayar ke pihak pengelola sebesar Rp50,000.

Akibat curhatannya tersebut, Acho ditetapkan sebagai tersangka dan kasusnya sudah dinyatakan lengkap atau P21 oleh Kejati DKI Jakarta pada 27 Juli 2017 lalu. Rencananya, Senin 7 Agustus ini berkas Acho akan diserahkan ke Kejari Jakarta Pusat.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan bahwa pihak Acho ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap telah memposting tulisan atau gambar yang memuat pencemaran nama baik dan fitnah terhadap Apartemen Green Pramuka.

Tak hanya di blog, Acho juga memposting tulisan bertajuk “Ada Maling Berkedok Pengelola di #greenpramuka” di akun twitternya @muhadkly.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ikut angkat suara mengenai kasus yang menimpa Acho tersebut. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menilai bahwa tulisan Acho tersebut tidak berpotensi melanggar hukum, jika dilihat dari perspektif UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

Menurutnya, apa yang ditulis Acho merupakan upaya dalam mendapatkan hak-haknya yang diduga dilanggar pengembang apartemen. Itu hanyalah bentuk kekecewaan saja.

Dalam UU Perlindungan Konsumen Pasal 4, bahwa konsumen berhak untuk didengar pendapat dan keluhannya. Termasuk keluhan dan pendapat melalui media massa dan media sosial. Asalkan sesuai fakta dan tidak berpotensi fitnah.

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here