Alexis Resmi Ditutup, Beredar Broadcast “Persaingan Godfather”

Alexis resmi ditutup.

GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk tidak menerima perpanjangan izin Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) Hotel Alexisn dan Griya Pijat Alexis. Keputusan itu diambil sesuai dengan janji politik Anies-Sandi saat kampanye di Pilkada DKI Jakarta.

Saat dijumpai wartawan di Balai Kota, Anies Baswedan mengatakan bahwa pihaknya tegas tidak inginkan Provinsi DKI Jakarta sebagai kota yang membiarkan adanya praktek prostitusi.

Hotel Alexis

Anies Baswedan mengaku bahwa keputusan tersebut diambil setelah mendengar laporan dan keluhan masyarakat. Dia pun menuangkan keputusan tersebut dalam surat balasan dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) pada 27 Oktober 2017. Isinya adalah tidak mengizinkan perpanjangan izin Hotel dan Griya Pijat Alexis.

“Sekarang sudah dijalankan (kebijakan penghentian izin, nanti kita akan awasi,” kata Anies.

Surat itu, lanjut Anies adalah legitimasi bagi Alexis untuk tidak melanjutkan usaha tersebut. Tanpa surat tersebut, Alexis dilarang untuk membuka kegiatan apapun setelah izinnya habis. Secara otomatis, kata Anies, apabila tanpa izin maka semua kegiatan di Alexis bukan kegiatan legal.

“Kegiatan legal adalah kegiatan yang mendapatkan izin, tanpa izin maka semua kegiatan di situ bukan kegiatan legal,” ujar Anies.

Diketahui, permohonan TDUP Hotel Alexis diajukan melalui aplikasi online ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Keputusan tak perpanjang izin Hotel Alexis berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 Tahun 2013, Perda Nomor 1 Tahun 2014, Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 18 Tahun 2016, Perda Nomor 2015, dan Peraturan Gubernur Nomo 113 tentang pendaftaran usaha pariwisata.

Seiring beredarnya surat keputusan Pemprov DKI Jakarta, beredar juga sebuah broadcast yang berjudul “Intrik Bisnis Lend*r”. Dalam broadcast tersebut, disebutkan adanya persaingan penguasa bisnis dunia malam.

Beberapa nama orang, tempat, dan juga perusahaan disamarkan karena kebenarannya masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut. Berikut isi broadcast tersebut:

INTRIK BISNIS LEND*R ( BISNIS )

Dulu di Era S******* tempat hiburan malam dikuasai oleh Keluarga I*** S******, yang di komandani oleh A****** S*****, yang menggunakan: T*,

Kakak beradik C****** K*****, H****** K******.

Tapi setelah era reformasi khususnya era S** bermunculan banyak tempat hiburan yang berkelas dunia.

Mengapa saya katakan berkelas dunia ?

Karena sudah di kelola sebagaimana layaknya industri yang melibatkan agent international penyedia wanita penghibur, agent musik dan professional dance.

Tempatnyapun di design sangat mewah untuk sorga bagi pelanggan Spa, Music lounge, massage, KTV, Bar. Sekilas memang tempat ini sebagai etalage wisata malam.

Tapi bukan rahasia umum bahwa tempat tempat itu juga menyediakan kamar hotel dan kamar massage yang bisa dipakai tempat execute.

Nah di era F*** sebagai g******* dan S** sebagai p*******, business hiburan malam nampak adem walau menyimpan api dalam sekam karena persaingan keras antar pemilik business hiburan.

Yang menarik adalah datangnya pendatang baru yang tampil percaya diri di era S**, yaitu M******* A***** ( C***** ).

Dia dulu adalah sahabat S** waktu S** bertugas di Palembang.

Bisnis utamanya adalah jasa EMKL, yang tentu punya koneksi hebat di kalangan pejabat bea cukai.

*Selama era S**, C***** mengembangkan bisnis hiburan dibawah bendera M**** G*****, yang meliputi:

– Stadium,

– Malioboro,

– Milles Club,

– Sumo,

– Classic,

– Nebula,

– King Cross,

– Level V,

– Exodus,

– Kampus,

– Rajamas.

Keberadaan C***** membayangi Alexis Group yang mengelola:

– Alexis Hotel,

– Play Club,

– Zen,

– Club 36,

– Emporium,

– Colosseum and  1001,

– Tease Club.

Orang awam tahunya pemilik Alexis Group adalah A*** T****,

Tapi kalangan business tahu dibalik nama A*** T**** adalah pemain lama dengan godfather adalah T*.

Juga di ceruk business hiburan seperti life style night bagi kalangan middle class, seperti:

– OPCO,

– Ismaya,

– Union Group,

– Potato Head,

– MRA,

– Hard Rock Café,

– MAP ,

– Cork and Screw,

– All-In,

– Biko,

– Immigrant,

– Rys,

Dimana semua itu berhubungan dengan miras yang berlisensi dari pemerintah, yang umumnya dikelola oleh putra putri konglomerat yang tadinya sekolah di Amerika atau Australia.

Di era A*** fenomena bisnis hiburan ini dipetakan dengan baik.

A*** melihat potensi PAD ada pada bisnis ini.

Makanya dia tidak melarang secara ketat walau dia sering nyinyir soal bisnis ini.

Itu mungkin sebagai bentuk penolakannya sebagai pribadi krisitiani yang taat.

A*** menetapkan aturan pengawasan terhadap tempat hiburan itu dengan menempatkan CCTV di tempat tersebut, dan cashier online ke database pendapatan daerah untuk memastikan tidak ada penyelewengan pajak.

Kemudian menetapkan pajak hiburan setinggi tingginya.

Jadi sama dengan kebijakan penjualan rokok di luar negeri.

Silahkan beli tapi pajak 4 kali lipat dari harga.

Kalau bandel anda harus bayar ongkos sosialnya, tapi kalau engga mau itu memang lebih baik.

Semua tahu bahwa bisnis hiburan itu berhubungan dengan lingkaran kekuasaan baik kekuatan informal maupun formal.

Di Era S*******, upeti mengalir kepada petinggi T** sebagai bentuk biaya perlindungan.

Di Era S**, biaya perlindungan diberikan bukan hanya kepada T** tapi juga ORMAS – ORMAS.

Di Era J***** keadaan ini tidak berubah.

Hanya saja menjadi lain, ketika group C***** mulai melakukan ketidak sukaan terhadap kebijakan A***, dan ini DIKETAHUI oleh A*** dengan adanya BANYAK TEKANAN dari kalangan ormas dan Partai OPOSISI kepada A***.

Namun bukannya A*** berdamai malah MAKIN GILA DIA.

Di era A*** sebagai G*******:

– Stadium,

– Kampus,

– Rajamas,

– Milles,

Semua berhasil DITUTUP oleh A***.

Itu semua tadinya milik M**** Group, C*****.

Sementara Group Alexis lebih bisa menerima kebijakan A***.

Dari teman, saya tahu bahwa T* sangat takut melanggar aturan apalagi sampai berani melawan.

Engga mungkin T* berani.

Dari dulu dia aman karena loyal kepada penguasa , siapapun itu penguasanya.

Ketika Kampanye PILKADA D**, A****selalu nyindir Alexis tanpa sekalipun dia berani nyindir M**** Group.

Karena kita tahu bahwa M**** group memang dibacking oleh B**** M**** dan Partai dari koalisi M**** P**** berserta Ormas pendukungnya.

Jadi, silahkan nilai sendiri bahwa Issue soal penutupan Alexis tak lain riak dari adanya persaingan bisnis hiburan malam antar dua godfather, T* dan C*****.

Dan ini berhubungan dengan uang beredar sedikitnya Rp. 60 trilun setahun.

Apakah dengan uang sebanyak itu akan mudah membuat T* kalah begitu saja.?

Akses politik T* lebih hebat.

Mau coba?

Hingga kini belum diketahui siapa penyebar broadcast tersebut, dan juga belum dapat dipastikan isi kebenaran dari broadcast itu.

Bagikan Yuk..!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here