Ini 3 Skenario Gatot Nurmantyo di Pilpres 2019, Menurut Pengamat

0
853
Marsekal TNI Hadi Tjahjanto salam komando bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
Marsekal TNI Hadi Tjahjanto salam komando bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

ORANYENEWS- Mantan Panglima TNI Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo langsung tancap gas setelah resmi pensiun akhir Maret kemarin. Gatot berniat maju dalm kontestasi Pilpres 2019. Banyak parpol tak mau, ada juga parpol yang siap menampung. Lalu,  seperti apa skenario peluang Gatot Nurmantyo maju calon presiden?.

Banyak pengamat mengatakan bahwa peluang Gatot Nurmantyo maju calon presiden sangat kecil. Tapi, peluang politik tetap saja ada bagi Gatot. Yang membuat rumit adalah Jenderal Gatot tidak memiliki partai politik dan syarat maju calon presiden harus mengantongi 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara pemilu.

Sementara dari 10 partai politik yang saat ini berpeluang mencalonkan presiden dan wakil presiden, mayoritasnya sudah memiliki calon, yaitu Presiden Jokowi untuk periode kedua.

Sebagai gambaran ini adalah suara partai politik pada pemilu lalu adalah:

1. Partai Nasdem 8.402.812 (6,72 persen)
2. Partai Kebangkitan Bangsa 11.298.957 (9,04 persen)
3. Partai Keadilan Sejahtera 8.480.204 (6,79 persen)
4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 23.681.471 (18,95 persen)
5. Partai Golkar 18.432.312 (14,75 persen)
6. Partai Gerindra 14.760.371 (11,81 persen)
7. Partai Demokrat 12.728.913 (10,19 persen)
8. Partai Amanat Nasional 9.481.621 (7,59 persen)
9. Partai Persatuan Pembangunan 8.157.488 (6,53 persen)
10. Partai Hanura 6.579.498 (5,26 persen)
14. Partai Bulan Bintang 1.825.750 (1,46 persen)

Lalu, bagaimana peluang Gatot Nurmantyo. Berikut analisa dari lembaga survey dan pengamat politik yang dirangkum dalam 3 skenario Jenderal Gatot.

Skenario Pertama: Berharap Prabowo Tidak Maju Pilpres

Skenario pertama Gatot Nurmantyo berharap diusung koalisi Gerindra dan PKS. Koalisi ini memiliki kursi yang cukup untuk mengusung capres/cawapres.

Secara latar belakang sebagai militer dan memiliki kedekatan dengan aktivis 212 merupakan modal tersendiri bagi Gatot Nurmantyo. Namun, pada skenario ini tantangan Gatot yang cukup besar.

Koalisi ini memiliki figur yang cukup populer, yaitu Prabowo Subianto yang elektabilitasnya di atas Gatot Nurmantyo. Walaupun disebut-sebut Prabowo sulit mengalahkan Jokowi, bukan berarti akan menyerahkan kepada yang elektabilitasnya lebih rendah.

Belum lagi Pemilu Serentak ini menuntut calon untuk membantu mendongrak elektabilitas parpol. “Supaya naik, kan perlu figur yang populer, nah figur populer itu Pak Prabowo. Kalau Pak Gatot elektabilitasnya masih di bawah Gerindra, agak sulit mengharapkan Gerindra untuk bisa didongkrak oleh Gatot yang elektabilitasnya kecil,” kata Direktur Indo Barometer Ahmad Qodari.

Di sisi lain, kata Qodari, PKS juga dinilai merasa nyaman dengan sosok Prabowo. Sebab, PKS telah mengenal dan ikut mengusung Prabowo pada Pilpres 2014.

Tapi hingga saat ini, koalisi ini belum mengumumkan siapa yang akan diusung. Menurut Ketua DPP Gerindra Desmond J Mahesa pihaknya tengah menggodok 15 nama untuk dampingi Prabowo.

Skenario pertama: Dicalonkan Poros Ketiga

Peluang Gatot Nurmantyo relatif lebih besar ada di poros ketiga, yaitu poros Demokrat, PKB,  dan PAN. Pasalnya, ketiganya memiliki calon yang elektabilitasnya lebih rendah dibandingkan Gatot Nurmantyo.

Namun, Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengingatkan bahwa Ketua Umum Partai Demokrat SBY memiliki kecenderungan ingin berkoalisi dengan calon pemenang.

Jika berharap dengan PKB dan PAN, Gatot Nurmantyo akan mengalami kesulitan, karena tidak memiliki cukup syarat Pilpres.

Skenario ketiga: Menjadi Cawapres

Skenario ketiga ini juga bisa terbilang tidak mudah. Sejumlah nama pesaing bermunculan seperti Agus Harimurti, Anies Baswedan, Muhaimin Iskandar,  hingga TGB atau Muhammad Zainul Majdi.

Untuk skenario ini, Gatot Nurmantyo agak kesulitan masuk ke koalisi Gerindra-PKS, karena tidak mungkin capres-cawapres berlatar belakang militer, ditambah PKS punya 10 nama  kader mereka sendiri yang tengah digadang sebagai capres/cawapres.

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menilai duet Prabowo Subianto dan Gatot Nurmantyo tidak akan laku pada Pilpres 2019.

Alasannya, kata Djayadi, karakteristik pemilih kedua calon yang berlatar belakang militer tersebut cenderung tidak berbeda.

“Pemilih Prabowo sama dengan Gatot karakteristiknya,” kata Djayadi.

Selama ini, kata Djayadi, pemilih Prabowo dan Gatot adalah masyarakat yang cenderung oposisi terhadap Presiden Joko Widodo. Masyarakat tersebut pun sebagian besar sampai hari ini masih akan memilih Prabowo.

Jika masuk sebagai cawapres Jokowi, secara latar belakang sebenarnya mendukung, koalisi sipil-militer.

Dalam survey Alvara Research Center, responden 61,9 persen memilih Jokowi-Gatot,  dibandingkan Jokowi-Cak Imin 59,6 persen,  dan Jokowi-AHY 55,5 persen.

CEO Alvara Hasanuddin Ali menjelaskan kemunculan nama Gatot publik menilai tokoh yang cocok untuk mendampingi Jokowi adalah dari kalangan militer, generasi muda dan generasi muslimin. Dari ketiga elemen tersebut nama Gatot lebih unggul dibanding Cak Imin dan AHY.

Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi menilai Gatot bisa menjadi senjata pamungkas Jokowi, karena dinilai dapat merebut suara responden yang selama ini pendukung Prabowo.

“Karena suara Gatot dari sisi elektabilitas, dari sisi demografi dan pilihan politik, itu lebih besar peluangnya menggerogoti basis suara Prabowo. Terutama mereka yang 2014 tidak memilih Pak Jokowi. Itu Pak Gatot punya potensi untuk menarik suara,” katanya.

Namun, ‘akrobat politik’ Gatot Nurmantyo jelang pensiun membuat banyak pihak pendukung Jokowi meragukan integritas Gatot. Sebab itu, Gatot dipensiunkan lebih cepat.

Persoalan integritas tersebut juga membuat khawatir jika Gatot diusung akan berbahaya pada pemilu selanjutnya, saat Jokowi tak bisa mencalonkan sebagai calon presiden.

Lalu,  skenario mana yang akan dipilih Gatot Nurmantyo?

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here