Hot Politics: Antara Poros Tengah atau ‘Merger’ Partai Islam

0
126
Ketua Umum PP Romahurmuziy (foto: Ist)

ORANYENEWS- Upaya menggalang kekuatan jelang pemilu 2019 terus dilakukan. Salah satunya dilakukan Partai Demokrat. Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono itu mencoba menggalang poros tengah, di luar kekuatan Presiden Jokowi dan rivalnya, Prabowo Subianto. Demokrat menggandeng Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan PAN.

Diketahui, syarat capres adalah 20 persen suara sah yang didapatkan partai politik pada Pilpres 2014 lalu. Partai Demokrat mendapatkan 10,19 persen, PKB 9,04 persen, dan PAN 7,59 persen. Artinya jika mereka bergabung, maka syarat 20 persen sudah pasti terlampaui.

Namun, yang menjadi masalah adalah bagaimana dengan persoalan figur? Partai Demokrat sudah pasti mengusung Agus Harimurti Yudhoyono, PKB mengusung Muhaimin Iskandar, dan PAN dengan Zulkifli Hasan. Jika melihat hasil survey, populasitas mereka masih berada di bawah angka 4 persen. Artinya, mereka bisa saja mengajukan calon, namun yang menjadi persoalan adalah mereka tidak akan dapat mengimbangi dua kubu, Jokowi dan Prabowo.

Muhammad Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer menilai koalisi poros tengah walaupun memenuhi syarat, akan mendapatkan kerumitan. Pasalnya, masing-masing ketua umum punya kepentingan berbeda. Partai Demokrat sebagai pemegang suara terbanyak, tentu saja akan menjadi pengendali koalisi. Namun, jika yang diusung adalah Agus Harimurti Yudhoyono akan menjadi sulit dalam penentuan wakil.

“Mau mengajukan calon presiden Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kemudian, siapa wakilnya? Apa Zulkifli Hasan (PAN) atau Muhaimin Iskandar (PKB)? Kalau Zulkifli jadi wapres, mau tidak Muhaimin gabung, atau sebaliknya? Nah, itu rumitnya,” ujar Qodari.

‘Merger Partai Islam’

Di tengah konsolidasi poros tengah, muncul yang nama ‘merger’ Partai Islam di pemilu 2019. Wacana merger Partai Islam ini dikemukakan, Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, yang juga Ketua Dewan Penasehat PPP KH Syukron Makmun.

Ketua Umum Forum Ulama dan Habaib DKI Jakarta itu mengaku ingin mengembalikan kejayaan Partai Islam di dalam pentas politik nasional. Makanya, dia menyerukan partai Islam seperti PPP, PKB, PAN, dan PKS bersatu

Jika merger ini terjadi maka akan terhimpun 31,5 persen suara, dengan perincian PAN 8,75 persen, PKB 8,3 persen, PKS (7,1 persen), dan PPP (6,9 persen).

Ketua Umum PP Romahurmuziy menyambut baik wacana ‘merger’ Partai Islam ini. Bahkan, menurutnya bukan tidak mungkin rencana ini akan terealisasi dengan baik. Pasalnya, pernah terjadi pada pemilu 1971, di mana saat itu semua partai Islam bersatu di dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Namun, ‘merger’ partai Islam ini juga memiliki tantangan karena tidak memiliki figur yang kuat dan terikat dengan koalisi lain, yaitu PKS sudah terikat koalisi dengan Gerindra dan PPP sudah mendeklarasikan dukungannya kepada Presiden Joko Widodo. Bahkan, sudah dua kali Ketua Umum PPP Romahurmuziy satu mobil dan satu pesawat dengan Jokowi.

Jika kedua masalah di atas dapat diatasi dengan baik, bukan tidak mungkin ‘merger’ Partai Islam ini bisa menjadi alternatif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here