6 Aksi Nekat Jual Ginjal, Dari Beli Ponsel Anak hingga Bayar Utang Caleg Gagal

0
473

ORANYENEWS- Aksi seorang ibu berusia 41 tahun bernama Juwati membuat heboh warga Surabaya. Ibu dua anak ini nekat menjual ginjal di Mall City of Tomorrow guna membeli ponsel baru untuk anaknya yang selalu merengek kepadanya. Padahal sudah dua kali warga Jalan Menanggal, Surabaya, itu membelikan ponsel kepada anaknya, dan keduanya telah hilang.

Ternyata, aksi jual ginjal ini bukanlah yang pertama kali di Indonesia. Aksi jual ginjal untuk kebutuhan ekonomi ternyata sudah terjadi sejak tahun 1980. Namun, baru semakin beredar luas di era sosial media pada tahun 2012. Dimana, jual ginjal dilakukan atau diumumkan melalui sosial media.

Berikut daftar aksi nekat jual ginjal:

Gadis Rh Jual Ginjal Setelah Ayah di-PHK

Mei 2012 pemberitaan sempat heboh dengan aksi seorang gadis SMA yang nekat mengiklankan aksinya menjual ginjal di salah satu website ternama di Tanah Air. Dia juga mencantumkan nomor telepon bagi yang berminat untuk membeli salah satu ginjalnya itu.

Aksi nekat ini terpaksa dilakukan Rh, setelah ayahnya dipecat dari  sebuah perusahaan di Pontianak. Akhirnya, sang ayah harus bekerja membanting tulang untuk memenuhi hidup seorang istri yang tengah sakit, serta lima orang anak yang masih bersekolah.

Usai dipecat, sang ayah hanya bekerja sebagai buruh kasar di salah satu warung sembako dengan upah perharinya Rp3,000.

Sebagai anak sulung, dia sangat ingin membantu untuk meringankan beban yang dialami orangtuanya untuk memberi makan mereka sekeluarga.

Rh pun mengaku ingin menjual ginjal setelah mendengar ceirta orang-orang mengenai fantastisnya uang yang akan didapatnya jika menjual ginjal. Dia pun sudah memikirkan resiko yang akan dia alami jika kemudian hidup dengan satu ginjal saja. Makanya, dia diam-diam mengiklankan untuk menjual salah satu ginjalnya tersebut. Dia merahasiakan rencananya itu, khawatir kedua orangtuanya tahu dan pasti melarang rencananya.

Demi Sekolah Anak, Dwi Waryono Jual Ginjal

Sejak dipecat dari sebuah perusahaan garmen pada Maret 2013, Dwi Waryono (47) bergonta-ganti pekerjaan alias kerja serabutan guna menafkahi keluarga dan membiayai pendidikan kedua anaknya.

Namun, beberapa bulan terakhir Dwi tak lagi mendapatkan kesempatan bekerja serabutan. Dia pun kebingungan bagaimana mencari uang untuk menafkahi keluarga, apalagi dua anaknya dalam waktu dekat masuk SMK, dan yang paling kecil masuk sekolah TK.

Putus asa menaungi Dwi Waryono yang mendapati kesulitan ekonomi yang sangat berat dan mendesak. Hingga akhirnya, mendadak muncul ide untuk menjual salah satu ginjal miliknya, demi anaknya, Eldi Iqbal Pratama (16) dan Satria Munji (5) dapat melanjutkan sekolah.

Dia pun nekat mengumumkan niatnya tersebut dengan membawa papan besar dan berdiri di bawah baliho raksasa peringatan Kemerdekaan RI bergambar Presiden SBY dan Wapres Budiono kala itu di bundaran HI, 12 Agustus 2013. Bahkan, dia juga mengaku sudah melakukan hal yang sama di depan kediaman Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dia mengaku tak mematok harga, dia mengaku seikhlasnya jika ada yang mau.

Jual Ginjal ke Jokowi Rp1,2 Miliar, Demi Obati Sakit Anak

Susanto jual ginjal

Susanto berjalan kaki puluhan kilometer dari Pandeglang, Banten ke Jakarta, menuju Istana Negara.

Warga Kampung Kalapa Cagak, RT 01 RW 07, Desa Teluk Lada, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, Banten ini sangat berharap, Jokowi mendengar keluh kesahnya.

“Saya mau jalan kaki ke Istana Presiden, jika Pak Jokowi masih belum mendegar jeritan hati saya,” ucap Susanto.

Setibanya di depan di Istana pada Jumat 10 Oktober 2015, siang. Dengan berkemeja lengan panjang merah dan menggendong ransel, dia berdiri di seberang Istana Negara sambil membawa poster berbunyi, ‘Pak Jokowi tolong beli ginjal saya, butuh operasi Rp 1,2 M.’

“Cara halal apapun akan saya lakukan demi kesembuhan anak saya (Adrian). Saya sudah tidak punya cara lagi mencari uang sebesar itu. Hanya menjual ginjal solusi terbaik untuk menyembuhkan anak saya,” tutur Susanto.

BPJS Kesehatan pun cepat bertindak dan menangani anak Susanto dengan menanggung semua biayanya. Namun, setelah dirawat di RSCM, anak Adrian meninggal dunia pada 5 Januari 2016.

Jual Ginjal, Sang Caleg Bayar Utang

Tak sedikit juga para caleg yang gagal menjadi stres saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan nama-nama calon anggota legislatif (caleg) yang terpilih menjadi anggota dewan pada Pilpres 2014 lalu. Padahal sudah banyak uang keluar untuk biaya kampanye.

Maka tak heran jika ada di antara para caleg yang nekat menjual ginjalnya demi melunasi utang-utang yang ia tanggung yang sebelumnya digunakan untuk biaya kampanye.

Termasuk Candra, mantan caleg DPR dari Partai Demokrat.

Candra mengungkap, total biaya menjadi caleg yang telah ia keluarkan mencapai Rp 600 juta. Sementara dia sudah tidak memiliki harta benda apapun, selain beberapa pakaian yang ia kenakan setiap hari dan uang tabungan yang pas-pasan.

Demi memuluskan jalan pencalonannya, Candra mengaku juga telah menggadaikan 3 unit mobil yang ia pinjam dari sebuah rental mobil di Pekalongan.

Perasaan tertekan semakin dia rasakan mengingat saat ini terus dikejar-kejar rentenir.

“Pihak rental nagih kewajiban. Saya juga utang ke salah satu politisi Rp 210 juta, tim sukses Rp 150 juta, yang rental itu total Rp 85 juta, itu 3 mobil digadaikan, yang menggadaikan tim sukses tapi saya yang tanggung jawab,” beber Candra pada 15 Mei 2014 lalu.

Jual Ginjal Demi Tebus Ijazah Ayu

Tak cuma Susanto ayah yang merelakan ginjalnya demi buah hati tercinta. Ada pula Sugiyanto (45). Dia nekat menjual organ tubuhnya demi menebus ijazah anak perempuannya, Sarah Melanda  Ayu (19).

Pada Rabu siang yang terik pada 27 Juni 2013, dia bersama putrinya berkeliling Bundaran Hotel Indonesia membawa secarik poster dari kertas.

Yang tertulis: “Kepada saudara yang butuh ginjal, kami siap dibelah demi untuk menebus ijazah.” Teriakan dan orasi diselingi musik yang ia mainkan dengan gitar yang disandangnya.

Sugiyanto mengaku nekat karena butuh banyak uang untuk meloloskan ijazah anaknya dari sebuah pesantren di Bogor. Biaya untuk 2 surat keterangan lulus, SMP dan SMA, menurut dia, harus ditebus Rp 17 juta.

Dia menambahkan, masih ada biaya administrasi Rp 20 ribu per hari sejak 2005. Sehingga total biaya yang harus dia tebus sebanyak Rp 70 juta.

“Dan saya tidak mampu untuk menebus semuanya,” kata Sugiyanto saat .

Aksi itu lalu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu M Nuh berjanji menebus ijazah tersebut sehingga Sugiyanto tak perlu menjual ginjalnya. Tak hanya itu, Kemendikbud juga janji membiayai kuliah Ayu.

Ginjal Ditukar Kesehatan Sang Ayah

Himpitan ekonomi memaksa Fahmi Rahardiansyah (19) menawarkan ginjalnya melalui situs jual beli. Dia bingung mencari uang untuk biaya pengobatan sang ayah, Muhamad Dik Mahmudi.

Sudah bertahun-tahun ayahandanya menderita sakit darah tinggi. Penyakit orangtuanya kian hari kian parah, sehingga proses pengobatan pun harus lebih intensif.

“Sempat ke Puskesmas, habis sekitar Rp 2,5 juta. Sekarang harus terapi syaraf rutin, sekali terapi bisa habis Rp 1,5 juta,” kata Fahmi di Kampung Cariu, Talagasari, Balaraja, Banten pada 13 Maret 2013.

Ayahnya, kata dia, sudah pensiun sebagai PNS di Pemda Cianjur. Uang pensiunnya hanya Rp 800 ribu per bulan. Fahmi mengaku sudah menawarkan ginjalnya dengan harga Rp 50 juta melalui posting iklan di situs jual beli sejak Senin 11 Maret 2013.

“Tapi sampai sekarang belum ada tawaran cocok. Paling tinggi baru Rp 1 juta. Yang serius mau beli belum ada,” keluh dia kala itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here