Kepala Sekolah Dianiaya Wali Murid, Tak Terima Anaknya Ditegur

0
299

ORANYENEWS, BOLMONG – Kekerasan di dalam dunia pendidikan kembali terjadi. Kali ini korbannya adalah seorang Kepala Sekolah SMP Negeri 4, Lolak, Desa Labuan Uki, Kecamatan Lolak, bernama Asri Tampi (57).

Menurut informasi yang diperoleh, peristiwa bermula saat Asri Tampi sebagai Kepala Sekolah mengundang walimurid berinisial DP (41) ke sekolah, atas unggahan anaknya terkait salah satu siswa yang kedapatan membawa alat tes kehamilan di sekolahnya lewat facebook.

Kapolsek Lolak AKP Sunarno nenceritakan orangtua tak terima anaknya dituduh sebagai pelaku. “Tersangka marah, dia beralasan bukan hanya anaknya saja yang menggungah foto alat tes kehamilan di facebook,” tuturnya.

Kemudian terjadilah insiden adu mulut di antara keduanya yang berujung memuncaknya amarah tersangka, kemudian menghancurkan kaca meja di ruang kepala sekolah tersebut.

Dalam keadaan emosi, tersangka langsung menendang kaca meja yang persis berada di depan korban. Pelaku kemudian menghantam kaca meja itu ke kepala korban yang menyebabkan luka sobekan di tangan kanan, hidung dan bengkak pada kepala.

Usai peristiwa ini, pelaku penganiayaan guru tersebut telah diamankan ke Polsek Lolak untuk penyelidikan lebih lanjut.

“Kami sudah amankan pelaku dan kini sedang menjalani pemeriksaan. Saya berharap kejadian ini tidak terulang. Terlebih, kejadiannya terjadi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung,” ungkapnya.

Peristiwa ini sempat ramai di dunia maya. Berbagai unggahan foto-foto penganiayaan yang tersebar lewat facebook ini sontak mengundang kepedulian dari sejumlah guru atas insiden yang menimpa Astri Tampi.

“Kekerasan sudah mulai masuk di sekolah. Sekolah yang tadinya dianggap sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan sudah rawan,” tulis Sucipto Podomi, warga Moyag.

Hal serupa juga dikomentari Muhammad Burhanudin, guru di SMK Nuangan, Kabupaten Bolmong Timur.  “Kasihan profesi (guru) ini. Tidak ada yang peduli. Kasus pembunuhan guru Budi di Jawa, bukan akhir cerita mengenaskan tentang profesi guru,” tulisnya.

Sementara itu, Layana Mokoginta, warga Kotamobagu, menilai, kasus penganiayaan terhadap guru, merupakan cerminan reformasi pendidikan yang salah kaprah. “Ada yang tidak beres. Reformasi pendidikan yang kebobolan,” sentilnya.

Yamin Mokoagow, guru salah satu di SMA Kotamobagu, mendorong pemerintah melahirkan regulasi terhadap profesi guru. “Susah kalau tidak ada aturan perlindungan guru sebagai perimbangan HAM dan UU Perlindungan Anak. Karena aturan itu sering dijadikan oknum orang tua siswa sebagai cambuk terhadap guru,” tulisnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here