Pilkada 2018, 11 Calon Ini Terancam Lawan Kotak Kosong

0
203
Ilustrasi kotak suara.

ORANYENEWS- Pilkada serentak 2018 memasuki hari terakhir pendaftaran. Ironinya, sebanyak 11 daerah terancam hanya memiliki satu pasangan calon saja. Angka ini meningkat dari pilkada sebelumnya,  tahun 2017 yang hanya 9 orang.

Pilkada serentak tahun 2017 terjadi di 101 daerah,  dan terdapat 9 daerah yang hanya memiliki calon tunggal,  yaitu Kota Sorong, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Kabupaten Pati, Kabupaten Landak, Kabupaten Buton,  Kabupaten Maluku Tengah, Kota Jayapura, Kabupaten Tambrauw, dan Kota Tebing Tinggi.

Sedangkan,  untuk Pilkada serentak tahun 2018, potensi calon tunggal terjadi di 11 wilayah, yaitu: Kabupaten Lebak, Kabupaten Tapin, Kota Prabumulih, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Mamberano Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Padang Lawas Utara.

Berikut nama calon-calon tunggal:

1. Kabupaten Lebak, Banten
Iti Octavia Jayabaya-Ade Sumardi. (petahana)
Pendukung: Demokrat, Golkar,  PDIP,  PAN,  Gerindra,  PKS, PPP, PKB, Hanura, dan Nasdem.

2. Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
Arifin Arpan-Syafrudin (petahana).
Pendukung: Golkar, PDIP, Gerindra, PKB, PAN Demokrat, PKS, dan PPP.

3. Kota Prabumulih, Sumsel
Ridho Yahya-Andriansyah Fikri (petahana).
Didukung 12 partai politik:
PPP,  Hanura, Demokrat,  PDIP,
Golkar,  PBB,  PKPI,  NasDem,  PAN, Gerindra,  PKS dan PKB.

4. Kota Tangerang, Banten
Arief R. Wismanyah – Sachrudin (petahana).
Didukung 10 parpol,  50 kursi.
PDI P, Golkar, Gerindra, PKB, PAN, Demokrat, Hanura, Nasdem, PKS, dan PPP.

5. Kabupaten Tangerang, Banten

Zaki Iskandar-Mad Romli (petahana)

Didukung 12 partai politik:

Golkar, PDI Perjuangan, PPP, Demokrat, PAN, Gerindra, Nasdem, PKB, Hanura, PKS, PBB, dan PKPI

 

6. Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur

Irsyad Yusuf-Mujib Imron (cabup petahana).
Didukung 8 partai dengan 44 kursi
PKB, NasDem, Golkar, Gerindra, PPP, PKS, Hanura dan PDIP.
Demokrat yang tersisa hanya punya 6 kursi,  tidak penuhi syarat 10 kursi untuk ajukan calon.

7. Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Puput Tantriana Sari-Timbul Prihanjoko (petahana).
Didukung lima parpol, dengan 34 kursi.
NasDem (14 kursi), PDIP (5 kursi), Golkar (5 kursi), PPP (5 kursi) dan Gerindra (5 kursi).

8. Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
Juliyatmono dan Rober Christanto (petahana)
didukung 7 partai yaitu:
PDIP, PKB, Partai Demokrat, Partai Golkar, PAN, Partai Hanura, dan PPP.

9. Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua.
Ricky Ham Pagawak dan Yonas Kenelak.

Didukung tujuh partai pemilik kursi di DPRD.
Demokrat, PKS, PKPI, Gerindra, PBB, PAN dan PDIP

10. Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan
HA Fikry-Syamsuri Arsyad.
Didukung 7 partai politik pemilik kursi di DPRD HSS.
PDIP, Partai Hanura, Gerindra, Partai Demokrat, Nasdem, Partai Golkar, dan PKS.

11. Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara
Andar Amin-Hariro Harahap (petahana).
Didukung mayoritas parpol pemilik kursi di DPRD
Golkar,  Nasdem,  Demokrat, PAN, Gerindra,  PDIP, PPP,  PKB.

Direktur Bhinneka Institute Ridwan Darmawan menilai munculnya 11 pasangan calon hanya melawan kotak kosong memiliki tiga indikasi.

Indikasi pertama,  gagalnya pengkaderan partai politik dalam menyiapkan kader-kader terbaiknya di suatu daerah untuk muncul dan maju sebagai calon kepala daerah.

Kedua, setelah gagal menciptakan kader-kadernya di wilayah, partai akhirnya bersikap instan,  mengambil tokoh yang sudah populer, punya uang,  lebih-lebih yang sudah memegang infrastruktur atau jabatan politik.

“Makanya tidak heran jika parpol berbondong-bondong mencalonkan calon petahana,” katanya.

Ketiga, realistis. Pada akhirnya,  di penghujung masa pendaftaran, partai politik bersikap realistis dengan realita politik yang ada, guna memenuhi pencalonan di daerah, agar tidak ketinggalan gerbong kereta koalisi.

Akan tetapi,  Ridwan menilai peristiwa ini jangan sampai dibiarkan larut,  karena bisa menciptakan dinasti, korupsi,  dan partisipasi politik yang rendah di masyarakat. Di beberapa partai politik sudah terdapat pelatihan kader, dari pemula hingga utama. “Tinggal dimaksimalkan, dikuatkan konsepnya, dan yang utama adalah konsisten, ” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here