Profil Setya Novanto, Politisi Paling ‘Sakti’ Abad Ini

Setya Novanto

JAKARTA- Siapa politisi paling sakti abad ini? tak salah jika menyebut nama Setya Novanto. Setidaknya ‘ilmunya’ sudah teruji, dua kali lolos dari permasalahan hukum besar, yang mungkin politisi lain juga tidak akan ada yang bisa melakukannya.

Tersangka e-KTP

Ketua Umum Partai Golkar ini seolah sudah berada di ujung tanduk setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 17 Juli 2017 menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus pengadaan e-KTP yang merugikan negara Rp2,3 triliun.

BACA JUGA: Tersangka E-KTP, Ini Harta Kekayaan Setnov

Saat KPK melakukan panggilan pertama pada Jumat 8 September, Setya Novanto tidak hadir. Barulah pada 11 September, Sekjen Partai Golkar mengungkap Ketua Umumnya tengah menjalani perawatan karena sakit ginjal dan jantung di Rumah Sakit Siloam.

Setya Novanto

KPK pun menjadwalkan pemeriksaan pada Rabu 20 September, tapi kembali Setnov tidak hadir dan katanya masih terbaring di rumah sakit. Mengetahui Setnov tidak akan datang, KPK pun mengirimkan dokter KPK untuk melihat secara langsung, apakah dapat dilakukan pemeriksaan terhadap Setnov atau tidak.

Hasilnya, juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan kondisi jantung pasca-pemeriksaan kateterisasi dan pemasangan ring Novanto lebih baik. Tekanan darah juga relatif stabil. Tapi, KPK belum sempat berbicara dengan Setnov karena Ketua DPR itu sedang tidur.

“Secara prinsip, dokter mengatakan kalau ingin diperiksa itu sudah bisa dilakukan. Jadi kalau mengacu konsep to be questions dalam proses hukum sudah bisa dilakukan,” ungkap Febri.

Tak lama setelah kedatangan KPK, beredar foto Setnov tengah tidur didampingi istrinya. Dalam foto tersebut Setnov mendapatkan infus di tangannya dan oksigen di mulutnya. Akan tetapi, foto tersebut justru menunjukkan kejanggalan mengenai sakit yang diderita Setya Novanto.

setnov sakit
Setnov sedang sakit didampingi istrinya

Bahkan, koleganya di Partai Golkar juga ikut menyangsikan sakit ketua umumnya tersebut.

“Oh foto itu ya? Iya masa garis dalam monitor (Elektrokardiogram) datar. Berarti sudah mati dong,” ujar Yorrys di Hotel Menara Peninsula, Slipi.

Senada dengan Yorrys, netizen di sosial media juga menyangsikan hal yang sama; gambar garis mendatar yang tampak dalam monitor Elektrokardiogram. Lalu alat bantu pernafasan yang tidak terpasang sempurna.

“Kalau sudah salah mah ya salah saja. Takut,” sindir Yorrys.

BACA JUGA: Setnov Tersangka, Segera Gelar Munaslub

Tapi, belum juga KPK sempat memeriksa kembali Setnov, hakim tunggal sidang praperadilan Pengadilan Jakarta Selatan, Cepi Iskandar, memutuskan bahwa penetapan tersangka Setya Novanto tidak sah secara hukum.

Hakim Cepi Iskandar

Bahkan, dalam putusannya hakim Cepi Iskandar memerintahkan KPK untuk menghentikan penyidikan kasus Setya Novanto.

Kasus Papa Minta Sahan

Lepasnya Setya Novanto dari kasus e-KTP bukan kali pertama. Setnov juga pernah lolos dari kasus ‘papa minta saham’. Sebuah rekaman membongkar upaya Setya Novanto dan seorang pengusaha, Riza Chalid meminta saham kepada Presdir PT Freeport Maroef Syamsudin sebagai timbal balik perpanjangan izin PT Freeport Indonesia.

Bahkan, rekaman itu juga menyebut nama Luhut Binsar Panjaitan, yang kini menjabat sebagai Menko Bidang Maritim.

Badan Kehormatan DPR pun bersidang tentang etik Setya Novanto meminta saham kepada PFI. Tapi, belum sampai diputuskan, Setnov memilih mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua DPR. Posisinya saat itu digantikan Ade Komarudin, Setnov pun ditaruh Ketua Umum Golkar saat itu Abu Rizal Bakrie sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar.

Setya Novanto Mengantuk.
Setya Novanto Mengantuk.

Tapi itu tak berlangsung lama, kasus Papa Minta Saham tak pengaruhi elektabilitas Setnov di DPD I dan II Partai Golkar, buktinya saat Munaslub, Setnov berhasil mengalahkan Ade Komarudin yang juga maju sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar.

Awalnya terendus kabar bahwa antara Ade Komarudin dan Setya Novanto terbangun kesepakatan, Setnov pimpin Golkar dan Ade Komarudin pimpin DPR. Entah benar atau tidak, tapi yang pasti Setnov kembali memimpin DPR, setelah menarik Ade Komarudin dari kursi pimpinan.

Luar biasa Setya Novanto, hanya berjarak kurang dari dua tahun berhasil kembali memimpin DPR, plus Partai Golkar.

Baca juga: Siapa Istri Pertama Setnov? Temukan Kebenarannya Di Sini

NAMA : Setya Novanto
TTL : 12 November 1954 (umur 62)
Istri : Luciana Lily H
Deisti Astriani Tagor, S.H.

Anak Pernikahan dengan Luciana Lily H:
Reza Herwindo
Dwina Michaela

Pernikahan dengan Deisti Astriani Tagor:
Gavriel Putranto
Giovanno Farrell

PENDIDIKAN:
Universitas Trisakti Jakarta, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi Management (1983[1]
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi (1979)[1]
SMA Negeri 9 Jakarta (1970 – 1973)[1]
SMP Negeri 73 Tebet Jakarta (1967 – 1970)[1]
SD Negeri 5 Bandung
TK Dewi Sartika Bandung

Pengalaman Organisasi

Sekretaris Koordinator Bidang Pendidikan DPP Partai Golkar
Bendahara Badan Pengendali Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPP Partai Golkar
Wakil Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)
Pembina Golf Putra Putri ABRI
Wakil Ketua Yayasan Ki Hajar Dewantara
Ketua Umum DPP Badan Musyawarah Pengusaha Swasta (Bamusha) Kosgoro
Ketua Umum Yayasan Bina Generasi Bangsa
Ketua DPP GM Kosgoro (1990–94)
Tim Pokja pertanggungjawaban DPP Golkar (1993-1998)
Anggota Young President Organization (YPO) (1994)
Wakil Sekjen Forum Pertemuan Asosiasi Pengusaha (FPAP) (1994–98)
Bendahara Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (1994–98)
Anggota Pembina Lapangan Golf di Pulau Batam (1994–97)
Bendahara Lemkasi (1995–97)
Anggota Pembinaan Olahraga Generasi Muda Kosgoro (1995–96)
Ketua Umum Bamuhas Kosgoro (1995–96)
Bendahara KONI Pusat (1995–99)
Bendahara Umum SEA Games XXVI (1996)
Wakil Bendahara PON XIV (1996)
Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Trisakti (1996–2000)
Bendahara Umum Proyek SEA Games XIV (1997)
Bendahara Umum Olympic Games XXVI (1998)
Wakil Bendahara Partai Golkar (1998–2003)
Wakil Bendahara DPP Partai Golkar (1998–2004)
Tim 13 Munaslub DPP Golkar (1998)
Bendahara Bappilu DPP Partai Golkar (1999)
Bendahara Tim Olimpiade Atlanta, AS (1999)
Bendahara KONI Pusat (1999–2003)
Bendahara Umum PPK Kosgoro 1957
Bendahara Umum DPP Partai Golkar (2009–13)
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar (2015-2016) (Versi Munas Bali 2015)
Ketua Fraksi Partai Golkar Dewan Perwakilan Rakyat (2015–16)

Riwayat pekerjaan

CV. Mandar Teguh – Pendiri
PT. Sinar Mas Galaxi – Sales, Kepala Penjualan mobil wilayah Indonesia Timur
Pendiri pompa bensin
Pendiri PT Obor Swastika (Peternakan)
PT. Era Giat Prima – Direktur Utama
Pedagang Beras (1974-1974)
Tee Box Cafe & Resto Jakarta – Founder & Pemilik (1987-Sekarang)
PT. Nagoya Plaza Hotel, Batam – Presiden Komisaris (1987–2004)[1]
PT. Dwisetya Indo Lestari, Batam – Komisaris (1987–2004)[1]
PT. Bukit Granit Mining Mandiri, Batam – Komisaris Utama (1990 – 2004)[1]
PT. Citra Permatasakti Persada – Direktur Umum (1991)
PT. Multi Dwimakmur – Komisaris (1991)
PT. Multi Dwisentosa – Komisaris (1991)
PT. Bina Bayangkara – Komisaris (1991)
PT. Orienta Sari Mahkota – Komisaris Utama (1992–2003)
PT. Menara Wenang, Jakarta – Komisaris (1992–2003)
PT. Solusindo Mitra Sejati, Jakarta – Komisaris (1992–96)
PT. Dwimarunda Makmur, Jakarta – Direktur (1992–2000)
PT. Bogamakmur Arthawijaya, Jakarta – Komisaris (1996–sekarang)
NOVA GROUP, Jakarta – Presiden Komisaris (1998–2004)
PT. Mulia Intan Lestari, Jakarta – Presiden Direktur (1999 – 2000)
Anggota DPR-RI dari Partai Golkar (1999–2004, 2004–09, 2009—14, 2014—19)
Badan Anggaran DPR-RI
Ketua Fraksi Partai Golkar (2009—sekarang)
Ketua DPR-RI (2014–15, 2016–sekarang)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here