Kronologis Ibu Bawa Jenazah Bayi Pakai Angkot, Tak Sanggup Bayar Ambulans

0
651
Ibu bawa jenasa bayi
Ibu membawa jenaza bayi

BANDARLAMPUNG- Jangankan sakit, meninggal pun sulit bagi orang miskin. Itulah yang alami seorang ibu, Delvasari (31) dan Ardiansyah (40), warga Kotabumi, Lampung. Tak punya uang untuk membayar ambulans, Rp2 juta, mereka pun terpaksa membaya jenazah bayi mereka, Berlin Istana (1 bulan) dengan angkot ke rumah mereka.

Peristiwa bermula, Delvasari dan Ardiansyah membawa bayinya, Berlin Istana yang berusia 1 bulan 10 hari ke RSUD Abdoel Moelok untuk dirawat di ruang anak Alamanda dengan diagnosis asfiksia berat dan kejang. Rabu, pukul 10.30 WIB, Berlin dialihkan ke ICU dan kemudian pukul 15.15 WIB dinyatakan meninggal dunia.

Kemudian, keduanya meminta ambulans untuk mengantar (alm) jenazah Berlin ke rumah mereka yang jaraknya cukup jauh. Keduanya pun sempat naik ambulans yang telah disediakan, tapi kemudian sang sopir meminta agar Ardiansyah menyelesaikan administrasi. Tapi, ada sedikit masalah persoalan nama Berlin yang belum masuk ke data BPJS.

Lalu, kemudian sang sopir menyarankan agar membayar uang Rp2 juta, tanpa administrasi dirinya bisa mengantarkan Berlin hingga sampai rumahnya. Tapi, karena tidak punya uang, keduanya akhirnya memilih untuk naik angkot, menempuh perjalanan jauh menuju rumah mereka.

Di dalam angkot, Delvasari tak hentinya menangis sambil menggendong jenazah anaknya, Berlin. Tangisa tersebut pun mengundang tanya penumpang lain, yang akhirnya mendapatkan cerita perihal biaya ambulans Rp2 juta tersebut.

Lalu, salah seorang penumpang pun menyodorkan kartu nama yang menyediakan ambulans gratis. Bahkan, sopir angkot pun ikut membantu dengan menelepon layanan tersebut.

Kepala Pengawal Mobil Ambulans Gratis Kota Bandar Lampung, Agus Putra, mengakui timnya mendapatkan telepon dari sopir tersebut mengenai permohonan bantuan ambulans gratis. Kemudian, Agus meminta izin kepada atasannya, karena lokasi rumah duka yang cukup jauh, yaitu 100 kilometer dari lokasi.

Kuburan Berlin Istana.

Setelah mendapatkan ijin, Agus pun langsung mengirimkan anak buahnya dengan mobil ambulans dan menjemput Delvasari bersama suaminya di bundaran Hajimena.

Agus mengatakan, layanan ambulans gratis ini memang program Wali Kota Bandar Lampung. Jika ada warga yang ingin menggunakan hingga ke luar Bandar lampung dapat dilayani dan gratis, biaya transport dan bensin ditanggung Pemerintah Kota.

Akhirnya, Delvasari dan suaminya berhasil dibawa ambulans gratis tersebut. Mereka menempuh perjalanan tiga jam lamanya, hingga sampai ke rumah duka, di Dusun Labuhan Dalam, Desa Gedung Nyapah, Kecamatan Abung Timur, Lampung Timur.

PERNYATAAN RUMAH SAKIT

Pihak Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Lampung membantah pihaknya tidak memfasilitasi pengantaran jenazah ke rumah duka.

Direktur Pelayanan RSUDAM Lampung, dr Pad Dilangga mengatakan, pihaknya sudah menyediakan satu unit ambulans untuk mengantar bayi Delvasari ke kampung asal Gedung Nyapah, Kecamatan Abung Timur, Lampung Utara. Namun, karena sedikit masalah administrasi yang belum selesai dan pihak keluarga tidak sabar, lalu meninggalkan ambulans dan memilih naik angkutan umum.

Masalah administrasi tersebut, kata Pad, karena petugas ambulans menemukan data tidak pas lalu memanggil orangtua jenazah untuk minta waktu menyelesaikan masalah tersebut.

“Siapa pun yang harus pulang dari RSUD AM harus tertib administrasi. Mungkin keluarga kurang sabar menunggu,” jelas Pad Dilangga.

Pad menambahkan, bayi usia satu bulan 10 hari tersebut belum memiliki nama ketika dirujuk ke RSUD AM dan masih memakai nama ibunya. Sedangkan pihak keluarga memakai fasilitas BPJS.

Nama yang tercantum di BPJS adalah Berlin Istana. Sedangkan yang terdaftar di RSUD AM bayi Ny Delvasari dan di Kartu Keluarga, nama bayi tersebut belum terdaftar.

“Masalah inilah yang ingin diklarifikasi petugas ambulans dengan meminta waktu sebentar sebelum berangkat. Ini memang SOP rumah sakit. Mungkin karena keluarga buru-buru ingin pulang. Posisi ambulans saat itu di pintu keluar rumah sakit,” kata Pad Dilangga.

Di bagian lain, petugas ambulans RSUD AM, Jhon Sinaga mengatakan, awalnya keluarga datang ke ruang ambulans membawa berkas. Petugas kemudian menulis surat jalan.

“Saat itu saya langsung memarkir ambulans dan siap berangkat. Keluarga membawa jenazah masuk ambulans. Namun di berkas ada kesalahan dan kami meminta waktu agar bersabar. Saat itu, keluarga ada di dalam ambulans,” kata Jhon Sinaga.

Namun pada pukul 16.00 WIB, keluarga meninggalkan ambulans tanpa menunggu masalah administrasi selesai dicek ulang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here