6 Film Wajib Ditonton tentang G30 September 1965

1
1001

JAKARTA­- Peristiwa bersejarah, Gerakan 30 September atau Tragedi 1965 ternyata tidak hanya digambarkan dalam satu film saja. Selama ini, sudah ada 6 buah film yang mengangkat fakta-fakta di dalam peristiwa yang mengubah haluan sejarah Indonesia itu.

Akan tetapi selama era Presiden Soeharto memimpin, Pemerintah Orde Baru hanya membolehkan sebuah film saja yang tayang di Indonesia. Bahkan, film tersebut wajib ditonton seluruh pelajar di Indonesia selama 14 tahun, 1984-1998, yaitu Film berjudul Pengkhianatan G30S/PKI. Film tersebut dibiayai cukup besar oleh Orde Baru, yaitu Rp800 juta, angka yang cukup fantastis di era tahun 1980-an.

Selain film tersebut dilarang tayang di Indonesia, bahkan setelah era reformasi bergulir, nonton bersama sejumlah film yang pernah dilarang di Orde Baru tersebut didemo, dan dibubarkan ormas-ormas tertentu.

Film Tentang Tragedi G30 September 1965 PKI

G30 S PKI
Film G30 S PKI
  1. Pengkhianatan G30S/PKI

Film ini banyak disebut sebagai film propaganda pemerintah Orde Baru yang berkuasa kala itu. Disutradarai dan ditulis oleh Arifin C. Noer dan sejarawan Nugroho Notosusanto, film berdurasi 4,5 jam itu memeroleh 7 nominasi di ajang Festival Film Indonesia 1984.

Tontonan wajib selama 14 tahun itu diputar seluruh televisi nasional dan swasta setiap malam 30 September. Kisahnya mengajarkan kebencian kepada komunis dan segala atributnya.

Walaupun, ada beberapa adegan/fakta yang ditampilkan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, bahkan dilebih-lebihkan.

  1. The Year of Living Dangerously

Film yang dibintangi Mel Gibson ini cukup membuat gerah pemerintah Orde Baru. Bagaimana tidak, dari perizinan melakukan syuting, hingga penayangannya pun tidak diizinkan Presiden Soeharto. Pasalnya, film tersebut menampilkan fakta yang berbeda yang ditanamkan pemerintah kepada masyarakat.

Akhirnya, film yang dirilis tahun 1982 tersebut mengambil lokasi syuting di Filipina dan Australia.

Dalam film tersebut Mel Gibson berperan sebagai wartawan Australia di era sebelum hingga terjadinya peristiwa 1965.

Selama Orde Baru film yang juga dibintangi artis cantik Sigourney Weaver tersebut dilarang tayang, dan baru setelah Presiden Soeharto lengser, tahun 1999, pelarang film tersebut dicabut kembali. Walaupun, kini film tersebut tetap sangat sulit diakses.

  1. Shadow Play

Film dokumenter ini adalah salah satu film yang cukup komprehensif dalam memaparkan kondisi peristiwa 1965. Dari politik internal negara Indonesia, pengaruh situasi global diterangkan secara objektif. Chris Hilton mengarahkan film tersebut, dibantu Linda Hunt dan Pramoedya Ananta Toer. Film documenter yang dirilis tahun 2003 di Singapura itu menampilkan sisi lain tragedy 1965 secara gambling dan jelas.

  1. 40 Years of Silence : An Indonesian Tragedy

Film dokumenter ini dibuat oleh seorang antropologis, Robert Lemelson. Dia memotrer dampak pada individu dari kejadian tahun 1965. Gambar yang diambil di tahun 2002-2006 di Jawa Barat dan Bali, sebagai daerah yang paling banyak berdampak.

Film yang mengambil perspektif korban dalam pembantaian yang diperkirakan menelan 500.000 hingga jutaan nyawa ini, tayang pertama kali pada 2009 di Amerikan Serikat, dan sangat terbatas untuk bisa tayang di Indonesia.

  1. The Act of Killing (Jagal)

Satu lagi film dokumenter yang mengangkat peristiwa 1965, dengan cara yang berbeda. Film yang dibesut Joshua Oppenheimer mengangkat cerita dari seorang tokoh preman dari ormas tertentu di Sumatera Utara, yang banyak mengeksekusi anggota PKI dalam peristiwa tahun 1965. Bahkan, tokoh tersebut dianggap pahlawan dan diamini tokoh masyarakat lainnya dari pers hingga tokoh politik lokal.

Film ini berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan pada British Academy Film and Television Arts Award 2013 dan nominasi film documenter terbaik pada Academy Award ke-86.

  1. The Look of Silence (Senyap)

Film documenter ini seolah menjadi pelengkap film The Act of Killing (Jagal). Jika film Jagal mengambil perspektif dari sisi pembunuh korban peristiwa 1965, maka di film Senyap ini sutradara membawa penonton untuk menyelami sudut pandang sang korban.

Adi, adik dari salah satu korban pembantaian 1965 menemui orang-orang yang dinilai turut serta dalam pembunuhan kakaknya yang dituduh PKI.

Film arahan Oppenheimer ini sangat mungkin untuk membuat kita merinding menyadari kekejaman yang pernah kita lakukan pada bangsa sendiri. The Look of Silence menang dalam Venice Film Festival di tahun 2014 dalam kategori Grand Jury Prize.

Keenam film tersebut wajib untuk ditonton untuk mengetahui secara persis apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa 1965, yang selama ini ditutup-tutupi Orde Baru. Dengan belajar sejarah dari berbagai perspektif, agar dapat menjadi pelajaran, sehingga peristiwa sama tidak terjadi di kemudian hari.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here