Film G30S PKI, 5 Fakta Sejarah yang Keliru

0
2398
Diorama di Lubang Buaya (foto: Ist)

FILM Pengkhianatan G30SPKI belakangan kembali menjadi kontroversi. Hal ini terkait dengan surat edaran di kalangan TNI Angkatan Darat untuk menonton film controversial tersebut. Bahkan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengamini surat edaran tersebut.

Padahal film tersebut sudah dihentikan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah tahun 1998 atas permintaan dua mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Laksamana Madya Udara TNI (Purn) Sri Mulyono Herlambang dan Marsekal TNI (Purn) Saleh Basarah.

Salah satu adegan film G30SPKI yang diduga hoax.

Keduanya mengatakan bahwa film yang ditulis dan disutradari Arifin C Noer itu menyudutkan TNI AU, karena menyebut sumur Lubang Buaya, tempat dikuburkannya para jenderal yang diculik berada di Halim, markas TNI AU. Padahal, jarak antara Halim Perdana Kusumah dengan Lubang Buaya yang berada di Pondok Gede, sangatlah jauh.

Tak hanya itu, film Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar (1981), pasalnya kedua film tersebut berbau rekayasa sejarah dan mengkultuskan seorang presiden

Fakta Keliru di Film G30S PKI

Film Pengkhianatan G30S PKI adalah film yang disponsori Pemerintahan Orde Baru dengan biaya Rp800 juta (saat itu kisaran per USD1 adalah Rp1.026), merupakan anggaran yang cukup besar di tahun tersebut.

Film yang disutradarai Arifin C Noer itu menghabiskan waktu pengerjaan 2 tahun lamanya, dan pra penayangannya diperlihatkan terlebih dahulu kepada Presiden Soeharto dan Sarwo Edhie, sebagai pelaku sejarah.

Sejak tahun 1984, film tersebut wajib ditayangkan seluruh televisi nasional, TVRI, ataupun swasta, setiap tanggal 29 September malam dan juga wajib ditonton seluruh siswa sekolah, hingga akhirnya dihentikan seiring tumbangnya Orde Baru.

Usai Orde Baru fakta sejarah pun terkuak, bahwa di dalam film tersebut banyak sekali rekayasa dan tidak sesuai dengan fakta sejarah. Setidaknya ada lima rekayasa di dalam film berdurasi 4,5 jam tersebut.

DN Aidit Merokok

DN Aidit merokok saat rapat yang tidak sesuai fakta. (foto: Ist)

Ketua CC PKI (Commite Central PKI) DN Aidit di dalam film tersebut digambarkan sebagai seorang perokok berat. Padahal fakta sejarahnya, Aidit bukanlah seorang perokok.

Justru Aidit adalah pemimpin yang menganjurkan kawan-kawannya di PKI untuk meminimalisir rokok demi kesehatan finansial partainya. Hal tersebut tertung dalam isi “Resolusi Dewan Harian Politbiro CC PKI” 5 Januari 1959, dalam resolusi tersebut, Aidit menyerukan teman-temannya untuk menghentikan kebiasaan merokok, setidaknya mengurangi tergantung rook, agar uang untuk membeli rokok dialihkan guna pendanaan kongres PKI ke-6

Penyiksaan Jenderal dengan silet adalah Hoax

Dalam film G30S/PKI digambarkan, setelah perwira TNI Angkatan Darat diculik dan dibawa ke Lubang Buaya. Mereka disiksa Pemuda Rakyat dan Gerwani, dengan cara disilet, disayat-sayat, dan diperlakukan secara biadab. Begitu juga yang tergambar dalam diaroma di Kompleks Monumen Pancasila Saksi, Jakarta.

Gambaran itu bisa jadi terinspirasi dari laporan media Tentara, Berita Yudha pada 9 Oktober 1965. Saat itu hanya Koran milik tentara yang boleh beredar, dan disebutkan di Koran Berita Yudha bahwa mata para jenderal dicukil, alat kelamin dipotong oleh Gerwani, ormas wanita PKI.

Diorama di Lubang Buaya (foto: Ist)

Padahal semua itu adalah hoax, kenyataannya dalam laporan visum et repertum yang didapatkan Ben Anderson. Dan diungkap dalam jurnal Indonesia, April 1987, “How did the General Dies”, kondisi jasad perwira TNI hanya dipenuhi luka tembak.

Hasil visum tim, yaitu dr. Lim Joe Thay, dr. Brigjen Rubiono Kertopati, dr. Kolonel Frans Pattiasina, dr. Sutomo Tjokronegoro dan dr. Liau Yan Siang itu terungkap bahwa tidak ada bekas penyiksaan; penyiletan, pemotongan alat kelamin atau pencungkilan mata. Hasil visum menyimpulkan, organ tubuh para perwira tinggi AD itu dalam kondisi utuh.

Bung Karno Sakit Keras

Hoax lainnya adalah tentang adegan Presiden Soekarno yang tengah sakit keras. Umar Kayam (pemeran Bung Karno) mengadegankan berjalan bolak-balik, seperti orang kebingungan, menggambarkan seolah Bung Karno sedang sakit. Padahal fakta sejarahnya Bung Karno kala itu dalam kondisi sehat dan menghadiri sejumlah kegiatan seperti pembukaan Musyawarah Nasional Teknik di Istora Senayan Jakarta pada 30 September 1965).

Tarian Genjer-Genjer Aktivis Gerwani

Adegan lain yang keliru dan tidak sesuai fakta sejarah adalah tarian erotis aktivis Gerwani yang diiringi lagu Genjer-Genjer. Penelitian Saskia Elionora Wieringa, membuktikan bahwa itu adalah bentuk propaganda media-media cetak milik tentara yakni Berita Yudha dan Harian Angkatan Bersenjata.

Penelitian dalam buku Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Saskia mengungkapkan bahwa Gerwani sendiri, walau punya kaitan yang sangat dekat dengan PKI, tidak terlibat langsung dalam tragedi tersebut.

Suharti, salah satu eks Gerwani yang dituliskan Saskia, memberikan kesaksian bahwa Gerwani sejak awal 1965 memang sering berada di Lubang Buaya bersama sejumlah organisasi pemuda lain. Termasuk pemuda Nahdlatul Ulama (NU), Perwari, Wanita Marhaen, Wanita Islam dan Muslimat, untuk pelatihan dalam rangka persiapan konfrontasi dengan Malaysia.

Serma Bungkus, eks anggota Resimen Tjakrabirawa yang penculik para jenderal, juga memberikan kesaksian di dalam buku Gerakan 30 September, Antara Fakta dan Rekayasa: Berdasarkan Kesaksian Para Pelaku Sejarah, Bungkus mengatakan bahwa tidak ada tarian atau pesta yang diiringi nyanyian-nyanyian di Lubang Buaya.

Peta Timtim di Ruang Kostrad

Adegan unik lainnya dan tidak sesuai sejarah lainnya adalah adegan Letnan Jenderal TNI Soeharto tengah memimpin operasi pemulihan keamanan pasca-terjadinya G30S di ruangan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

Bukan adegannya, tapi peta Indonesia di ruangan tersebut yang hoax. Pasalnya, peta tersebut telah memasukkan Timor Timur sebagai wilayah Indonesia. Padahal pada tahun 1965/1966, Timor-Timor belum terintegrasi ke dalam NKRI. Hal tersebut diungkap Asvi Warman Adam, sejarawan, dalam Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa , “Jadi peta yang ada di sana bersifat anakronis,” tutup Asvi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here